Smoking is highly addictive, don't start

don't make them breathe your smoke

Smoking when pregnant harms your baby

Smokers die younger
World Health Day 2011 web button

Kesalahan Diagnosis Asma pada Orang dengan Obesitas

Kamis, 29 Juli 2010


Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dewasa dengan obesitas mungkin akan mengalami kesulitan saat bernapas sehingga sering salah didiagnosis sebagai asma. Ketika peneliti melihat faktor-faktor risiko yang menyebabkan kesalahan diagnosis, pengaruh obesitas belum menunjukan peranan yang jelas. Namun di antara pasien yang meminta perawatan di unit darurat karena masalah pernafasan pada setahun terakhir, orang dengan obesitas, 4 kali lebih sering salah didiagnosis sebagai asma dibandingkan orang dengan berat badan yang normal.

Penelitian ini telah dimuat pada jurnal CHEST, bulan Juni 2010, Vol 137 no 6 dengan judul A Comparison of Obese and Nonobese People With Asthma Exploring an Asthma-Obesity Interaction.(http://chestjournal.chestpubs.org/content/137/6/1316.abstract?sid=21fef794-9d81-4da3-88e0-c6aa03fc9ffd) Tidak bisa dipastikan alasan terjadinya kesalahan diagnosis atau resiko yang lebih tinggi terjadi di kalangan orang dewasa dengan obesitas yang memerlukan perawatan darurat. Menurut Dr Smita Pakhale dari Rumah Sakit Ottawa di Ontario, Kanada yang memimpin penelitian ini menyampaikan bahwa pemeriksaan spirometri sebagai tes standar fungsi paru, tidak sering digunakan dalam mendiagnosis asma. Asma harus didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fungsi paru. Hal ini mungkin menjadi faktor penyebab terjadinya beberapa kesalahan diagnosis tetapi itu hanya merupakan suatu spekulasi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa dengan obesitas beresiko tinggi terhadap sejumlah masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gejala seperti sesak napas dan nyeri dada. Pasien yang dikatakan memiliki penyakit asma setelah mendapat perawatan di ruang gawat darurat sering memastikan atau menindaklanjuti dengan dokter yang merawat di sarana pelayanan kesehatan primer.Mereka ingin mendapatkan pemeriksaan tambahan atau evaluasi kembali untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari suatu gejala, bila ternyata tidak asma.

Penelitian dilakukan pada 496 orang yang didiagnosis asma oleh dokter (242 orang dengan obesitas dan 254 berat badan normal), 346 orang menderita asma dikonfirmasikan dengan pemeriksaan fungsi paru dan 150 orang didiagnosis asma diluar algoritme yang baku. Orang obesitas dengan asma secara bermakna lebih cenderung memiliki riwayat hipertensi dan penyakit reflux gastroesophageal dan FEV1 yang lebih rendah dibandingkan dengan orang berat badan normal dengan asma. Orang yang lebih tua, laki-laki dan FEV1 yang lebih tinggi lebih mungkin salah didiagnosa sebagai asma. Obesitas bukan predictor independent kesalahan diagnosis, namun ada interaksi antara obesitas dan kunjungan ke unit darurat karena gejala pernapasan. Odds rasio untuk terjadinya suatu kesalahan diagnosis asma bagi penderita obesitas dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal adalah 4,08 (95 % CI , 1,23-13,5 ) bagi mereka dengan kunjungan ke unit darurat dalam 12 bulan terakhir .

Akhirnya, Dr Smita Pakhale dkk berkesimpulan bahwa orang obesitas dengan asma memiliki fungsi paru yang lebih rendah dan komorbiditas yang lebih dibandingkan dengan orang berat badan normal dengan asma. Orang dengan obesitas yang melakukan kunjungan ke unit darurat dengan gejala pernapasan lebih cenderung terjadi kesalahan diagnosis asma

PARACETAMOL MENYEBABKAN ASMA?

Sabtu, 17 Juli 2010


Paparan terhadap parasetamol selama intrauterin, masa anak-anak, dan saat dewasa dapat meningkatkan resiko terjadinya asma. Hal ini diketahui dari studi dari The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) pada anak-anak dengan umur 6-7 tahun yang untuk menyelidiki hubungan antara penggunaani parasetamol dan asma. Penelitian ini telah dimuat pada The Lancet Journal, volume 372, issue 9643 tanggal 20 September 2008 dengan judul Association between paracetamol use in infancy and childhood, and risk of asthma, rhinoconjunctivitis, and eczema in children aged 6—7 years: analysis from Phase Three of the ISAAC programme (http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2808%2961445-2/fulltext)

Orang tua atau wali anak usia 6-7 tahun diminta untuk menulis kuesioner tentang gejala asma, rhinokonjungtivitis, eksim dan beberapa faktor risiko termasuk penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan anak dan frekuensi penggunaan parasetamol dalam 12 bulan terakhir.

Terdapat 205.487 anak usia 6-7 tahun pada 73 pusat penelitian di 31 negara yang dilibatkan dalam penelitian ini. Menurut Prof Richard Beasley dkk, setelah melalui analisis multivariat, penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala asma saat berusia 6-7 tahun Penggunaan parasetamol berhubungan dengan risiko gejala asma berat dengan resiko populasi yang timbul antara 22% dan 38%. Parasetamol yang digunakan, baik pada tahun pertama kehidupan dan pada anak usia 6-7 tahun, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala rhinokonjungtivitis dan eksim. Selanjutnya disampaikan pada penelitian ini bahwa penggunaan parasetamol mungkin menjadi faktor risiko terjadinya asma di masa kanak-kanak.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIKA DALAM MEMPREDIKSI PEMERIKSAAN FUNGSI PARU

Kamis, 15 Juli 2010


Penggunaan klasifikasi ras atau etnis dalam praktek medis dan penelitian telah menjadi bahan perdebatan. Ras dan etnis yang kompleks menggabungkan konstruksi sosial, budaya, dan faktor genetik. Saat ini, pemeriksaan fungsi paru adalah salah satu dari beberapa aplikasi klinis di mana faktor ras atau etnis suatu kelompok digunakan untuk menentukan rentang normal hasil pemeriksaan.

Suatu studi terbaru menunjukan bahwa pemeriksaan fungsi paru sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit paru dan respirasi yang sesungguhnya mungkin perlu disesuaikan dengan perbedaan keturunan/genetik pasien. Saat ini dokter memperhitungkan hasil pemeriksaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, ras dan berat badan, tetapi tidak untuk keturunan campuran.

Penelitian yang diterbitkan pada New England Journal of Medicine, volume 363, number 2 tanggal 8 Juli 2010 dengan judul Genetic Ancestry in Lung-Function Predictions (http://content.nejm.org/cgi/content/full/NEJMoa0907897?query=TOC) menunjukkan penyesuaian mungkin diperlukan karena banyak orang keturunan campuran, yang dapat mempengaruhi hasil tes. Ketika seorang pasien dipaksakan untuk masuk dalam suatu kelompok, misalnya Afrika-Amerika atau Kaukasia, dokter akan banyak kehilangan informasi genetik.

Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 pasien, para peneliti menemukan bahwa keturunan genetik secara signifikan mempengaruhi hasil pada pemeriksaan fungsi paru. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tanda-tanda penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Menurut pemimpin studi ini, Dr Rajesh Kumar seorang profesor di Northwestern University Feinberg School of Medicine dengan mempertimbangkan faktor keturunan/genetik pada pemeriksaan bisa menghasilkan pengobatan yang lebih tepat untuk pasien. Seorang dokter spesialis paru dari Mayo Clinic, Dr Paul D. Scanlon mengatakan bahwa temuan studi ini merupakan "sebuah langkah maju dalam pemahaman kita." Pada umumnya hasil pemeriksaan orang kulit hitam berbeda dibandingkan orang kulit putih Jika hasil pemeriksaan tidak disesuaikan dengan fakta ini, pasien mungkin akan salah didiagnosis sebagai penyakit paru. Saat ini, alat ukurnya masih perlu disempurnakan karena tidak dirancang untuk seseorang dengan keturunan campuran.

Perokok lebih banyak menggunakan obat analgetik opioid dibandingkan non perokok

Senin, 12 Juli 2010


Menurut suatu studi dari Norwegia, perokok lebih banyak menggunakan obat analgesik opioid dibandingkan non-perokok. Para peneliti mengatakan bahwa dokter harus menanyakan pada pasiennya tentang kebiasaan merokok mereka sebelum meresepkan obat jenis opioid untuk nyeri yang tidak terkait dengan kanker. Sementara penggunaan obat penghilang rasa sakit untuk nyeri opioid kuat pada kasus non-kanker telah meningkat tajam di berbagai belahan dunia dan penggunaan obat ini masih kontroversial, terutama karena potensi adiktif obat ini. Beberapa faktor tertentu misalnya,riwayat pecandu alkohol atau penyalahgunaan narkoba dapat meningkatkan kemungkinan seseorang telah pernah menyalahgunakan opioid. Ada juga bukti bahwa kebiasaan merokok seseorang dapat mempengaruhi penggunaan opioid mereka.

Dr Svetlana Skurtveit dari Institut Kesehatan Publik Norwegia di Oslo dan rekan-rekannya mencatat dalam Annals of Epidemiology, online 2 Juni 2010 (www.annalsofepidemiology.org/article/S1047-2797(10)00055-4/abstract). Pada penelitian tersebut, mereka melibatkan hampir 13.000 pria dan hampir 16.000 perempuan dengan usia antara 30-75 tahun yang berpartisipasi dalam survei kesehatan antara tahun 2000 dan 2002. Tidak ada peresepan opioid saat studi dimulai. Selama tindak lanjut yang berlangsung sejak 2004 sampai 2007, 1,5 % dari peserta penelitian menerima 12 atau lebih resep opioid. Orang yang merokok sedikitnya 10 batang sehari di awal studi, kemungkinan 3 kali lebih banyak diresepkan opioid dibandingkan orang yang tidak pernah merokok, sedikitnya 12 kali selama masa tindak lanjut. Sementara orang yang merokok 1-9 batang per hari hampir 2 kali lipat diresepkan opioid . Bagi orang-orang yang sebelumnya merokok 10 batang atau lebih sehari, tapi saat ini sudah berhenti, kira-kira 2 kali lipat.

Penting untuk diketahui bahwa orang yang menerima setidaknya selusin resep opioid selama empat tahun tidak mesti menjadi kecanduan/menyalahgunakan obat Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa ketergantung pada nikotin mungkin memprediksi lebih sering penggunaan opioid. Ada banyak bukti dari suatu studi eksperimental terhadap efek nikotin dan opioid. Skurtveit dkk menambahkan, saat merokok juga dapat mempengaruhi persepsi terhadap nyeri .
Sehingga disarankan agar dokter harus mengetahui kebiasaan merokok pasien sebelum memulai pengobatan nyeri dengan opioid

Apakah pemberian obat steroid intravena terlalu berlebihan pada pasien PPOK?

Jumat, 09 Juli 2010


Telah dilaporkan bahwa, steroid oral dosis rendah tampaknya bekerja sebaik obat steroid intravena (IV) dosis tinggi pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang berat.
Namun, sekitar 90 persen pasien PPOK diberi dosis yang lebih tinggi, yang sesungguhnya bertentangan dengan panduan pemberian obat saat ini, suatu hasil studi yang telah dimuat pada Journal of American Medical Association, Volume 303, No.23 tanggal 16 Juni 2010, dengan judul “Association of Corticosteroid Dose and Route of Administration With Risk of Treatment Failure in Acute Exacerbation of Chronic Obstructive Pulmonary Disease” available from http://jama.ama-assn.org/cgi/content/abstract/303/23/2359?maxtoshow=&hits

Dokter harus mengikuti panduan pengobatan rumah sakit dan merawat pasien dengan steroid oral ,setidaknya bagi mereka yang memungkinkan penggunaan steroid oral. Sesungguhnya banyak pasien yang menerima steroid IV. Pasien PPOK yang kritis memang secara rutin diobati dengan kortikosteroid, bronkodilator dan antibiotik. Meskipun jelas bahwa steroid efektif dalam mengobati eksaserbasi PPOK, namun sesungguhnya belum jelas berapa dosis yang tepat.

Berdasarkan catatan medis pasien, para peneliti dari Massachusetts mencatat hampir 80.000 pasien yang dirawat dengan gejala PPOK berat di 414 rumah sakit AS pada 2006 dan 2007 . Semua pasien telah diberikan steroid pada dua hari pertama mereka dirawat. Studi ini tidak termasuk orang-orang yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif. Ini adalah pasien yang sakit cukup pantas untuk dirawat di rumah sakit tetapi tidak cukup sakit untuk dirawat di ICU.

92% pasien dalam penelitian ini diberikan steroid IV dengan dosis yang lebih tinggi, sementara hanya 8 persen pasien diberikan obat steroid oral dan kedua kelompok memiliki hasil yang sama dengan 1,4 persen pasien dengan obat IV dan 1 persen yang memakai pil, akhirnya menjadi kritis/sekarat.Sementara itu, 10,9% pasien dengan obat IV dan 10,3 persen pasien dengan obat oral memelukan perawatan/tindakan lebih lanjut seperti pemasangan ventilasi mekanis, yang berarti steroid tidak berefek secara semestinya.20% pasien dengan obat steroid oral diganti dengan obat IV yang lebih kuat selama mereka dirawat di rumah sakit .


Eksaserbasi akut PPOK adalah peristiwa yang mengancam jiwa sehingga bisa dimengerti bahwa dokter ingin segera menggunakan“senjata pemungkas” mereka secepat mungkin, itu mungkin tindakan yang lebih baik tetapi sayangnya tidak benar. Pada akhirnya, walaupun tidak semua setuju pada pedoman penggunaan kortikosteroid yang benar pada pasien PPOK namun penggunaannya sering dibuat secara individual.

Memang sulit untuk menganggap ribuan pasien PPOK dan menjadikannya suatu model sebagai pasien tunggal. Mereka memiliki berbagai jenis masalah yang berbeda dan kebutuhan yang berbeda, dan dokter harus benar-benar membuat keputusan,….

Editorial Jurnal : Insufisiensi vitamin D terkait dengan serangan asma yang parah?

Sabtu, 03 Juli 2010


Penelitian yang dipimpin oleh Dr Augusto A. Litongua, dari Harvard Medical School di Boston, laporan penelitian telah dimuat pada Journal of Allergy & Clinical Immunology.Volume 126, hal 52-58.e5 ( Juli 2010)dengan judul "Serum Vitamin D Levels and Severe Asthma Exacerbations in the Childhood Asthma Management Program Study", available from http://www.jacionline.org/article/S0091-6749%2810%2900657-3/abstract

Penyakit asma pada anak-anak dengan kadar vitamin D yang relatif rendah dalam darah mereka mungkin akan memiliki resiko lebih besar untuk mendapat serangan asma yang parah/severe dibandingkan dengan yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Suatu studi penelitian terbaru yang mengamati lebih dari 1.000 anak dengan asma selama empat tahun, didapatkan bahwa anak dengan insufisiensi vitamin D di awal penelitian, lebih cenderung mengalami serangan asma yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Selama empat tahun penelitian, 38 persen anak-anak dengan insufisiensi vitamin D datang ke ruang gawat darurat dan dirawat dengan eksaserbasi asma. Hal yang sama juga terjadi pada 32 persen anak dengan kadar vitamin D tingkat yang cukup/sedang

Ketika para peneliti mempertimbangkan faktor-faktor lain termasuk tingkat keparahan asma di awal penelitian tersebut, berat badan dan penghasilan keluarga mereka, ternyata kekurangan vitamin D itu sendiri terkait dengan peningkatan resiko 50 persen pada serangan asma yang parah .

Orang dianggap memiliki kadar vitamin D dalam darah kurang dari 11 nanogram per milliliter ( ng / mL ) disebut defisiensi vitamin D, tetapi ada perdebatan tentang bagaimana mendefinisikan kadar vitamin D yang optimal dan apa yang direkomendasikan untuk asupan vitamin harian untuk anak dan orang dewasa. Beberapa ahli percaya bahwa kadar vitamin D di atas 30 ng / mL merupakan hal yang optimal untuk kesehatan secara keseluruhan dan kadar antara 11-30 ng / mL harus dinilai sebagai insufisiensi vitamin D. Pada studi mereka, Litongua dkk menganggap anak dengan kadar vitamin D 30 ng / mL atau kurang sebagai insufisiensi vitamin D.

Para peneliti mendapatkan bahwa 1.024 anak yang menderita asma ringan sampai sedang, diujikan dua obat asma inhaler yaitu budesonide dan nedocromil. Dengan menggunakan sampel darah yang diambil pada awal penelitian, Litongua dkk menemukan bahwa 35 persen dari anak-anak dengan insufisiensi vitamin D dan 65 persen anak yang memiliki kadar vitamin D yang cukup .

Secara keseluruhan, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa kadar vitamin D yang cukup akan melindungi anak dari gejala asma sedang/moderate. Pada kenyataannya, anak-anak dengan kadar vitamin yang kurang lebih sedikit dilaporkan adanya gejala asma yang sedang/moderate. Namun, anak-anak tersebut lebih berisiko terhadap serangan asma yang parah/severe. Sementara temuan menunjukkan hubungan antara kadar vitamin D dan eksaserbasi asma, mereka tidak membuktikan bahwa vitamin D yang bertanggung jawab atau dengan kata lain tidak dapat di buktikan dengan asupan vitamin D akan mampu mencegah eksaserbasi asma.

Secara biologis, masuk akal kalau vitamin D akan mempengaruhi tingkat keparahan serangan asma, menurut Litongua dkk vitamin D banyak diketahui peranannya dalam membangun dan melihara tulang untuk tetap sehat, tetapi juga dibutuhkan saraf yang normal, otot dan fungsi sistem kekebalan tubuh . Beberapa penelitian telah menghubungkan rendahnya kadar vitamin D dengan resiko DM tipe 1 atau " insulin -dependent " lebih tinggi pada anak-anak dan orang dewasa.

Efek vitamin D pada sistem kekebalan tubuh meliputi respon inflamasi terhadap infeksi, mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa kadar vitamin D yang lebih tinggi berhubungan dengan resiko lebih rendah terjadinya eksaserbasi asma yang parah. Menurut Litongua dkk, mungkin vitamin D akan meningkatkan efek hormon steroid anti inflamasi baik yang merupakan pasokan alami dalam tubuh maupun kortikosteroid sintetis yang digunakan untuk mengobati asma .

Dalam studi ini, terdapat hubungan yang menguntungkan antara vitamin D dan serangan asma terutama terlihat pada anak-anak dengan obat budesonide. American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa bayi, anak dan remaja untuk mendapatkan 400 IU vitamin D setiap hari . Susu sereal dan jus jeruk diperkaya dengan vitamin yang merupakan sumber utama dan beberapa lemak ikan secara alami mengandung vitamin D dalam jumlah tinggi. Para ahli merekomendasikan pil vitamin untuk anak-anak yang tidak mendapatkan cukup vitamin dari makanan.

Vitamin D secara alami disintesis dalam kulit ketika terkena sinar matahari, tetapi pada musim dingin yang panjang dan sering menghindari sinar matahari di musim panas berarti akan banyak anak yang tidak mendapatkan cukup vitamin D dengan cara ini. Sebagai tambahan, vitamin D sintetik kurang efisien pada orang dengan kulit lebih gelap dan ras Amerika-Afrika lebih beresiko defisiensi vitamin D dibandingkan ras kulit putih.Kegemukan pada anak dan orang dewasa juga lebih berisiko tinggi defisiensi vitamin D karena banyak disimpan dalam lemak tubuh sehingga vitamin kurang aktif didalam darah.

#2: Relaksasi Otot Secara Keseluruhan

Kamis, 24 Juni 2010


Latihan ini akan membantu rileks semua otot di dalam tubuh dan juga akan mengajari dan menunjukkan cara untuk meringankan stres itu. Tujuan dari latihan ini adalah melepas ketegangan dan kemudian benar-benar melepaskan tekanan pada otot yang berbeda. Dengan cara ini, akan semakin mencapai relaksasi yang lebih mendalam.

1. Mulailah dengan mengangkat alis setinggi mungkin, rasakan ketegangan pada otot sekitar alis Tahan ketegangan otot tersebut sesaat, tunggu dan sekarang rileks serta rasakan ketegangan mengalir keluar. Sekarang meremas mata dengan menutup dengan sekuat mungkin. Tahan ketegangan itu,tunggu dan sekarang kelopak mata terasa rileks dan lepas dari ketegangan.

2. Katupkan gigi sekuat mungkin. Rasakan ketegangan pada otot sekitar rahang, tunggu dan sekarang lemaskan rahang

3. Remaslah seluruh wajah seakan-akan menjadi suatu simpul dan tahan dulu, tunggu dan rasakan ketegangan tersebut terasa saat menekan mata, mulut dan hidung secara bersamaan. Kemudian lepaskan dan rasakan betapa longgar dan santai di seluruh wilayah wajah.

4. Dekatkan dagu secara perlahan ke arah dada, rasakan ketegangan di leher dan rahang, tunggu dan biarkan ketegangan tersebut. Sekarang lepaskan dan rasakan relaksasi mengalir masuk

5. Angkat bahu dengan cara menarik ke atas setinggi mungkin, rasakan ketegangan di leher dan bahu tunggu dan sekarang rasakan rileks dan lega.

6. Buatlah tangan kanan menjadi menjadi tinju yang kuat dan mengangkat tangan kanan setinggi bahu dan bentangkan seperti mendorong. Rasakan ketegangan pada kepalan tangan, tunggu dan sekarang, biarkan lengan perlahan-lahan jatuh ke sisi tubuh. Begitu pula lakukan hal yang sama pada tangan kiri.

7. Buatlah kepalan erat dengan kedua tangan dan diangkat kedua lengan setinggi bahu. Bentangkan kedepan dan biarkan ketegangan yang ada, tunggu kemudian biarkan lengan kembali ke samping tubuh dan rileks.

8. Kencangkan otot perut secara kuat, sekuat mungkin dan biarkan ketegangan tersebut, tunggu. dan sekarang rileks.

9. Angkat kaki kanan, menegangkan otot paha dan betis dan menarik jari-jari kaki. Rasakan peregangan di bagian belakang kaki, tunggu dan rasakan ketegangan tersebut. Sekarang, biarkan kaki perlahan kembali dan rileks. Lakukan hal yang sama pada kaki kiri.

10. Angkat kedua kaki secara bersama-sama dan kencangkan otot betis dan paha, rasakan ketegangan tersebut, tunggu dan sekarang kaki kembali ke posisi semula dan rileks. Rasakan perasaan lega.

Ambil waktu beberapa saat untuk memeriksa otot-otot di seluruh tubuh. Periksa kepala, leher, bahu, lengan, dada, perut dan kaki. Jika masih merasa ketegangan otot dibagian mana saja, ulangi kembali latihan-latihan tersebut.

Rasakan ketenangan yang ada dan lepaskan semua ketegangan pada otot. Ambil napas penuh dalam-dalam, tahan sebentar dan kemudian biarkan udara keluar; kecemasan dan ketegangan yang masih tersisa mengalir keluar lalu menghilang.

Sekarang rasa rileks dan santai akan terasa. Bukalah mata dan regangkan lengan dan kaki, Bangun bila sudah merasa siap.

Sering merasa cemas dan tegang? Ayo latihan pernafasan,…........#1. Pernapasan Dalam

Selasa, 22 Juni 2010


Pernafasan dalam adalah kunci dari relaksasi. Latihan ini akan menunjukkan bagaimana bernapas dengan cara memperlambat laju aktivitas seluruh tubuh dan itu akan mendorong relaksasi secara umum. Bernapas harus dilakukan dengan otot perut dan membiarkan perut pergi sejauh mungkin saat menarik napas. Dengan cara ini, udara akan memenuhi paru-paru lebih utuh. Meletakkan tangan di perut dan saat menarik napas dalam-dalam, rasakan perut mengembang seolah-olah sedang diisi oleh balon. Sekarang, biarkan udara keluar dan rasakana perut kembali ke posisi normal. Ketika melakukan latihan, lakukan jeda pada akhir setiap pernafasan sampai merasa siap untuk mengambil napas panjang berikutnya. Untuk dapat mencapai relaksasi lebih besar bisa dengan menutup mata saat bernafas dalam-dalam dan membiarkan pikiran fokus pada situasi yang tenang, atau hal lain yang memberi perasaan mental yang tenang.

Sekarang, mari kita lakukan latihan ini. Tutuplah mata, bernapas dalam-dalam dan membiarkan perut mengembang sampai paru-paru telah diisi. Sekarang, berhenti sejenak dan lalu buang napas sampai mengosongkan paru-paru. Jeda sejenak. Sekarang, ambil napas dalam-dalam dalam, mengisi paru-paru dari bawah. Tunggu sebentar ... dan sekarang rasakan aliran udara keluar, pusatkan pikiran pada hal yang tenang. Menjaga kecepatan biasa lagi bernapas dalam-dalam ... terus sebentar ... sekarang nafas lembut, biarkan ketegangan keluar dari tubuh. Sekali lagi bernapas dalam, berhenti sejenak ... Sekarang bernapas lembut rasakan relaksasi secara mendalam. Sekarang, berhenti sejenak dan lalu buang napas sampai mengosongkan paru-paru. Jeda sejenak. Sekarang, ambil napas dalam-dalam yang mengisi paru-paru dari bawah. Tunggu sebentar ... dan sekarang rasakan aliran udara keluar, pusatkan pikiran pada hal yang tenang. Menjaga kecepatan nafas, kemudian bernapas dalam-dalam ... terus sebentar ... sekarang nafas lembut, biarkan ketegangan keluar dari tubuh. Sekali lagi bernapas dalam ... berhenti sejenak ... Sekarang napas lembut rasakan relaksasi yang mendalam.

Latihan ini berakhir. Teknik pernapasan ini dapat dilakukan setiap saat dan di mana saja. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana Anda merasa tegang atau khawatir.

Tahun 2010 sebagai The Year of the Lung,…

Selasa, 01 Juni 2010

Pada tanggal 28 Mei 2010 di Paris, Francis, The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (Union) menyatakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati pada tanggal 31 Mei 2010 sebagai titik kritis tahun kampanye The Year of the Lung 2010. Setiap tahun ratusan juta orang berjuang untuk hidup akibat penyakit paru seperti tuberkulosis, asma, pneumonia, influenza, kanker paru dan PPOK dan lebih dari 10 juta nya meninggal. Penyakit pernapasan kronis menyebabkan sekitar 7% dari semua kematian di seluruh dunia dan merupakan 4% dari beban penyakit secara global. Penyakit paru menimpa orang di setiap negara dan setiap kelompok sosial-ekonomi, tetapi sering terjadi oleh karena kemiskinan, usia tua, muda dan orang dengan daya tahan tubuh yang yang lemah. Belum lagi adanya suatu sinergis penyakit yang mematikan antara tuberkulosis dan HIV/AIDS, influenza dan asma, PPOK dan kanker paru.

Beberapa penyakit paru sesekali ditemukan di negara-negara industri, seperti asma, PPOK dan kanker paru, ternyata kini masalah utama di negara-negara dengan pendapatan yang rendah dan menengah yang akan meningkatkan kunjungan di sarana pelayanan kesehatan. Biaya pengobatan dan perawatan penyakit paru mencapai hingga miliaran dolar setiap tahun dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas kerja. Namun peranan publik dan komitmen politik belum cukup mendukung kondisi-kondisi tersebut untuk bisa membawa perubahan yang lebih baik lagi. Napas dan kehidupan merupakan hal yang fundamental, namun bukti menunjukkan bahwa kesehatan paru belum cukup mendapat perhatian di masyarakat,Misalnya beberapa fakta berikut ini :

• Penggunaan dan distribusi tembakau yang tidak terkontrol, meskipun telah membunuh lebih dari 5 juta orang setiap tahunnya, termasuk 1,3 juta yang meninggal karena kanker paru dan telah mempengaruhi kesehatan ratusan ribu orang lain yang terkena dampaknya
• Tidak ada obat baru telah dikembangkan untuk tuberculosis(TB) pada 5 dekade terakhir dan vaksin telah hampir satu abad.Terdapat lebih dari 9 juta kasus baru di tahun 2007 dan penyakit yang sesungguhnya dapat disembuhkan ini telah membunuh 1,7 juta orang tiap tahunnya
• Pneumonia membunuh lebih dari 2 juta anak di bawah 5 tahun masing-masing, satu anak setiap 15 detik. Padahal pneumonia dapat diobati secara efektif dengan biaya yang tidak mahal.
• Kematian akibat asma terjadi pada 250 ribu orang setiap tahunnya dan sebagian besar diakibatkan karena kurangnya perawatan yang tepat.
• PPOK yang akan menjadi penyebab utama kematian ke-3 di seluruh dunia di tahun 2020, namun sering tidak didiagnosis
• 250 ribu sampai 500 ribu orang meninggal setiap tahunnya di dunia akibat flu musiman
• Hampir setengah dari jumlah penduduk dunia hidup di daerah dengan kualitas udara buruk. Alat untuk mendeteksi gangguan paru secara dini seperti spirometri belum tersedia atau bilapun tersedia belum digunakan secara optimal sehingga untuk mendeteksi gangguan paru secara dini menjadi sebuah tantangan.

Ratusan juta orang diseluruh dunia menderita dan diobati akibat penyakit paru kronis yang sesungguhnya bisa di cegah dan diobati efektif dengan biaya yang tidak mahal. Selama ini kesehatan paru dan respirasi sering diabaikan dalam wacana publik, sehingga merupakan suatu urgensi untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah-langkah kongkrit untuk tetap menjaga kesehatan paru dan respirasi. Pada tanggal 6 Desember 2009 di Cancun Mexico, Forum of International Respiratory Societies (FIRS), mengadakan pertemuan internasional (The 40th Union World Conference on Lung Health),yang dihadiri oleh organisasi-organisasi kesehatan pemerhati kesehatan paru dan respirasi sebegai rekan dan pendukung yaitu Asociacion Latinoamericana del Thorax (ALAT), American College of Chest Physicians (ACCP), American Thoracic Society (ATS), Asia Pacific Society of Respirology (APSR), European Respiratory Society (ERS), International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union), dan Pan African Thoracic Society (PATS).Pada pertemuan ini, dinyatakan bahwa tahun ini sebagai The Year of the Lung 2010.

Tujuan dari kampanye The Year of the Lung ini adalah
1. Meningkatkan kesadaran akan kesehatan paru dan respirasi dan memulai tindakan langsung pada masyarakat di seluruh dunia dan advokasi kebijakan untuk memerangi penyakit ini
2. Memperkuat kebutuhan yang menyediakan sumber daya untuk kegiatan penelitian dasar dan klinis yang diharapkan akan mampu meningkatkan perawatan dan kualitas hidup penderita.
3. Menyampaikan pesan bahwa sebagian besar penyakit paru dan respirasi dapat diobati tetapi tindakan pencegahan akan jauh lebih efektif.
4. Menyampaikan pesan bahwa udara di dalam ruangan ataupun udara diluar ruangan harus bersih. Hal itu merupakan hak asasi manusia dan harus diakui seperti itu.

Sehingga pada kampanye The Year of the Lung diambil langkah-langkah sebagai berikut

• Memberikan dukungan luas kepada lebih dari 160 negara yang telah meratifikasi perjanjian Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau WHO (WHO Framework Convention on Tobacco Control) dan menyerukan negara-negara yang belum meratifikasi untuk segaera melakukannya.
• Meningkatkan permintaan dana penelitian untuk mengembangkan alat dan perawatan mulai dari alat diagnosa baru, vaksin dan obat-obatan
• Memperkuat sistem kesehatan dan distribusi sumber daya perawatan kesehatan yang merata untuk semua yang membutuhkan
• Melakukan pendekatan-pendekatan untuk memperbaiki undang-undang yang melindungi kualitas udara
• Memastikan bahwa setiap petugas kesehatan, orang tua, anak, guru, pekerja, pemimpin agama, tokoh masyarakat, perwakilan media dan pemerintah betul-betul memahami risiko dan gejala penyakit paru dan bagaimana menjaga paru tetap sehat.


Referensi:

American College of Chest Physicians. 2010 : The Year of the Lung, available from http://www.chestnet.org/accp/2010-year-lung

American Thoracic Society. Year of the Lung, available from http://www.thoracic.org/global-health/yol/index.php

Asian Pacific Society of Respirology. Year of the Lung, available from http://www.apsresp.org/archive/yotl2010/yotl2010.html#a

Asociación Latinoamericana de Tórax. The Year of the Lung Declaration, available from http://www.alatorax.org/index.php?option=com_content&view=article&id=250%3Adeclaracion-2010-ano-del-pulmon&catid=78%3Adeclaratorias-2010&Itemid=131&lang=es

European Respiratory Society.Year of the Lung : Campaign Update, available from http://dev.ersnet.org/uploads/Document/ef/WEB_CHEMIN_6656_1272965917.pdf

International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.World No Tobacco Day is a Critical Point in the “Year of the Lung”, available from http://www.theunion.org/news/world-no-tobacco-day-is-a-critical-point-in-the-year-of-the-lung.html

Pan Africa Thoracic Society. Year of the Lung 2010, available from http://www.africanthoracic.org/news/general.htm

The Year of the Lung Declaration, available from http://www.2010yearofthelung.org/1363-2010yearofthelungdeclaration.htm

World Health Organization.World Health Statistics 2010, available from http://www.who.int/whosis/whostat/2010/en/index.html






Saatnya Kita Lindungi Anak dan Perempuan dari Bahaya Rokok/Tembakau

Senin, 31 Mei 2010


Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2010,…
Penggunaan rokok/tembakau merupakan salah satu ancaman terbesar kesehatan masyarakat dunia. Saat ini diperkirakan ada lebih dari satu milyar perokok di dunia. Secara global, penggunaan produk tembakau memang meningkat, meskipun terjadi penurunan di negara-negara maju. Hampir setengah dari anak-anak di dunia menghirup udara tercemar asap rokok/tembakau. epidemi saat ini beralih ke negara berkembang. Lebih dari 80% dari perokok di dunia tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dalam setahun rata-rata satu orang meninggal setiap enam detik dan menjadi satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia. Tembakau membunuh sampai setengah dari semua penggunanya dan menjadi faktor risiko untuk enam dari delapan penyebab utama kematian di dunia. Jika kecenderungan ini terus berlangsung, maka diperkirakan akan ada satu miliar kematian pada abad ke-21 akibat penggunaan tembakau. Kematian terkait tembakau akan meningkat menjadi lebih dari delapan juta per tahun pada tahun 2030 dan 80% dari kematian akan terjadi di negara berkembang

Tingginya populasi dan konsumsi rokok menempatkan Indonesia menduduki urutan ke-5 konsumsi tembakau tertinggi di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang dengan konsumsi 220 milyar batang pada tahun 2005. Padahal rokok/tembakau dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut. Di samping itu, rokok juga menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal. Rokok mengandung lebih dari empat ribu bahan kimia, termasuk 43 bahan penyebab kanker yang telah diketahui, sehingga lingkungan yang terpajan dengan asap rokok/tembakau juga dapat menyebabkan bahaya kesehatan yang serius.Di masa mendatang masalah kesehatan akibat rokok di Indonesia semakin berat karena 2 diantara 3 orang laki-laki adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi karena 85,4% perokok aktif merokok dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam keselamatan kesehatan lingkungan. Selain itu, 50 persen orang Indonesia kurang aktivitas fisik dan 4,6 persen mengkonsumsi alkohol. Lebih 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau. Padahal anak-anak yang terpajan asap rokok/tembakau dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga serta asma. ”Kesehatan yang buruk di usia dini menyebabkan kesehatan yang buruk di saat dewasa”.

Industri tembakau secara terus menerus dan agresif mencari pengguna baru untuk menggantikan mereka yang berhenti dan pengguna saat ini yang hingga setengahnya nanti akan mati prematur akibat kanker, serangan jantung, stroke, PPOK dan penyakit lainnya yang terkait dengan penggunaan tembakau. Sasaran untuk memperbanyak penggunaan tembakau saat ini adalah kalangan perempuan. Itu karena saat ini perempuan yang merokok atau pengguna tembakau lebih sedikit daripada laki-laki. Hanya sekitar 9% dari perempuan merokok, dibandingkan dengan 40% laki-laki. Dari sekitar satu milyar perokok di dunia, hanya sekitar 200 juta adalah perempuan. Sehingga merupakan kesempatan besar untuk menargetkan pemasaran tembakau di kalangan perempuan. Epidemi penggunaan tembakau adalah menurun lambat di beberapa negara dan penggunaan dikalangan perempuan di beberapa negara makin meningkat. Di beberapa negara, anak perempuan lebih banyak yang merokok daripada anak laki-laki. Remaja yang merokok kemungkinan untuk menjadi perokok berat di masa dewasa.

Lebih dari lima juta orang meninggal setiap tahun oleh karena penggunaan tembakau dan sekitar 1,5 juta nya adalah perempuan. Jika tidak segera diambil tindakan, penggunaan tembakau dapat membunuh lebih dari delapan juta orang pada tahun 2030 dan 2,5 juta nya adalah perempuan. Sekitar tiga perempat dari kematian perempuan akan terjadi pada negara dengan pendapatan yang rendah. Di beberapa negara, ancaman yang lebih besar pada perempuan adalah dari pajanan asap dari orang lain, khususnya laki-laki. Misalnya di China, dimana sepertiga dari populasi perokok dewasa di dunia. Hampir seluruhnya laki-laki dan hanya kurang dari 3% adalah perempuan. Namun lebih dari separuh wanita usia reproduksi Cina secara teratur terpajan asap rokok/tembakau dari pihak lain. Di seluruh dunia, dari sekitar 430 ribu kematian setiap tahun orang dewasa disebabkan oleh pajanan asap rokok/tembakau, sekitar 64% terjadi pada perempuan.

Untuk menggugah perhatian masyarakat dunia terhadap bahaya rokok/tembakau, sejak tahun 1988 diselenggarakan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tanggal 31 Mei dan pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2010 ini ditetapkan tema ”Gender and Tobacco with an Emphasis on Marketing to Women”. Tema ini berkaitan dengan upaya global dalam mengendalikan jumlah perokok terutama kelompok berisiko yaitu anak-anak dan perempuana dari bahaya asap rokok/tembakau. Sedangkan di Indonesia, temanya adalah “Gender dan Rokok dengan penekanan pemasaran pada perempuan”. Selain tema, juga ditetapkan slogan “ Saatnya kita lindungi anak dan perempuan dari bahaya rokok”. Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2010 berfokus pada kerugian pemasaran dan pajanan asap rokok/tembakau pada perempuan. Pada saat yang sama juga berusaha mengingatkan untuk tidak merokok di sekitar perempuan di rumah, di tempat kerja atau dimana saja. Sesungguhnya semua orang baik perempuan atau laki-laki harus dilindungi dari pemasaran industri tembakau dan pajanan asap rokok/tembakau, Banyak negara tidak melakukan upaya untuk melindungi rakyat mereka dari pajanan asap rokok/tembakau dari pihak lain. Banyak perempuan tidak tahu tentang kerugian yang diakibatkan pajanan asap rokok/tembakau atau merasa seolah-olah mereka tidak punya hak untuk mengeluh. Di banyak negara, perempuan tidak berdaya untuk melindungi diri mereka sendiri dan anak-anak mereka dari pajanan asap rokok/tembakau. Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa di Cina, di mana sebagian besar perokok adalah laki-laki dewasa dan lebih dari separuh wanita usia reproduksi secara teratur terpajan asap rokok/tembakau yang menempatkan diri mereka sendiri dan bayi yang belum lahir menjadi beresiko terkena penyakit.

WHO juga akan mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian khusus untuk melindungi perempuan dari perusahaan industri tembakau “untuk memikat mereka pada ketergantungan nikotin”. sehingga pemerintah dapat mengurangi jumlah korban serangan jantung, stroke, kanker dan penyakit pernafasan yang telah menjadi semakin umum di kalangan perempuan. Pengendalian epidemi tembakau di kalangan perempuan merupakan bagian penting dari setiap strategi pengendalian tembakau secara komprehensif. Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2010 dirancang untuk memberi perhatian khusus terhadap efek berbahaya dari pemasaran tembakau terhadap perempuan dan anak. Hal ini juga akan menyoroti kebutuhan bagi hampir 170 pihak pada Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) WHO untuk melarang semua iklan rokok, promosi dan sponsor sesuai dengan konstitusi atau prinsip-prinsip konstitusional.
Sayangnya hanya kurang dari 9% dari negara-negara di dunia melakukan pelarangan iklan atau promosi rokok secara komprehensif dan hanya sekitar 5,4% yang dilindungi oleh undang-undang. Pengendalian epidemi tembakau di kalangan perempuan merupakan bagian penting dari setiap strategi pengendalian tembakau. Direktur Jenderal WHO Margaret Chan mengatakan, "Melindungi dan meningkatkan kesehatan perempuan sangat penting untuk kesehatan dan pembangunan, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga untuk generasi mendatang".

Referensi :

Centers for Disease Control and Prevention: Smoking and Tobacco Use. Available from http://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/index.htm

Framework Convention Alliance : World No Tobacco Day targets women Available from http://www.fctc.org/index.php?option=com_content&view=article&id=337:world-no-tobacco-day-targets-women&catid=235:advertising-promotion-and-sponsorship&Itemid=239

Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI :Saatnya Melindungi Perempuan darin Bahaya Rokok. Available from http://www.depkes.go.id/index.php/component/content/article/43-newsslider/1090-saatnya-melindungi-perempuan-dari-bahaya-rokok.html

Tobacco Control Resource Centre, available from http://www.tobacco-control.org/

World Health Organization: Tobacco Free Initiative. Available from http://www.who.int/tobacco/en/

World Health Organization : World No Tobacco Day 2010 focuses on the marketing of tobacco to women available from http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2010/women_tobacco_20100528/en/index.html

WHO Report on the Global Tobacco Epidemic, 2009: Implementing smoke-free environments. Available from http://www.who.int/tobacco/mpower/2009/en/index.html