Smoking is highly addictive, don't start

don't make them breathe your smoke

Smoking when pregnant harms your baby

Smokers die younger
World Health Day 2011 web button

Legionellosis

Minggu, 23 Januari 2011


Legionellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman gram negatif, bakteri aerobik yang termasuk ke dalam genus Legionella. Lebih dari 90% kasus legionellosis disebabkan oleh Legionella pneumophila, merupakan organisme akuatik yang bisa berada dimana saja, dapat tumbuh pada suhu antara 25 dan 45° C (77 dan 113° F), dengan suhu optimum sekitar 35 ° C (95 ° F). Terdapat dua bentuk dari Legionellosis yaitu:

1. Penyakit Legionnaire, yang dikenal juga dengan Demam Legion yang menimbulkan penyakit yang lebih parah sampai bisa terjadi suatu pneumonia.
2. Demam Pontiac, yang disebabkan oleh bakteri yang sama tetapi dengan keluhan penyakit yang lebih ringan, tanpa pneumonia dan menyerupai influenza akut biasa.

Nama penyakit Legionnaire berawal pada bulan Juli 1976 ketika terjadi suatu wabah pneumonia orang-orang yang menghadiri konvensi Legiun Amerika di Hotel Bellevue-Stratford di Philadelphia. Pada tanggal 18 Januari 1977 agen penyebab telah diidentifikasi yang sebelumya dikatakan sebagai bakteri yang tidak diketahui, kemudian diketahui bernama Legionella. Beberapa orang dapat terinfeksi dengan bakteri Legionella dan hanya memiliki gejala-gejala ringan atau tanpa sakit sama sekali.

Gejala
Penyakit Legionnaire biasanya mulai terjadi 2- 14 hari setelah terpapar bakteri legionella. Hal ini sering dimulai dengan tanda-tanda dan gejala berikut:
• Sakit kepala
• Nyeri otot
• Panas dingin
• Demam yang mungkin 104 F (40°C) atau lebih tinggi
Pada hari kedua atau ketiga :
• Batuk, yang mungkin disertai dahak dan terkadang darah
• Sesak napas
• Nyeri dada
• Kelelahan
• Kehilangan nafsu makan
• Gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah dan diare
• Kebingungan atau perubahan mental lainnya
Walaupun penyakit Legionnaire terutama mengenai paru-paru, kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi pada luka dan di bagian lain dari tubuh, termasuk jantung.
Suatu bentuk ringan dari Penyakit Legionnaire adalah demam Pontiac, dengan gejala demam, menggigil, sakit kepala dan nyeri otot. Demam Pontiac tidak menginfeksi paru-paru dan gejala biasanyaterjadi kurun waktu 2-5 hari.

Penyebab
Bakteri Legionella pneumophila merupakan penyebab terhadap sebagian besar kasus penyakit Legionnaire. Di luar ruangan bakteri Legionella bertahan hidup di tanah dan air, tetapi jarang menyebabkan infeksi. Dalam ruangan, bakteri Legionella dapat berkembang biak pada semua jenis sistem pengelolaan air, kolam air panas, AC dan penyemprot air penyegar pada penjual makanan dan buah di suatu supermarket.
Sekalipun mungkin penyakit Legionnaire terjadi pada sistem air/pendingin rumah tangga tetapi sebagian besar kejadian wabah terjadi pada gedung-gedung yang besar yang dengan kompleksnya sistem air yang ada membuat bakteri ini dengan mudah tumbuh dan menyebar.
Bagaimana bakteri ini bisa menyebar?
Kebanyakan orang terinfeksi ketika mereka menghirup tetesan air mikroskopis yang mengandung bakteri legionella. Ini mungkin berasal dari semproan air keran, tempat mandi atau pusaran air atau air yang tersebar melalui sistem ventilasi di sebuah gedung besar.
Kejadian wabah yang terjadi sering dikaitkan dengan berbagai sumber, termasuk:
Hot tubs and whirlpools pada kapal pesiar
• Menara pendingin dalam sistem pendingin udara/AC
• Dekorasi pada air mancur
• Kolam renang
• Peralatan terapi fisik
• Sistem pengelolaan air sistem pada hotel, rumah sakit dan rumah jompo
Para ilmuwan tidak yakin berapa banyak paparan bakteri diperlukan untuk menyebabkan penyakit, tetapi pada beberapa orang, infeksi berkembang setelah menghirup tetesan yang terkontaminasi hanya dalam beberapa menit. Tidak seperti kebanyakan bakteri yang tersebar dalam radius kecil, bakteri legionella mungkin mampu melakukan perjalanan sejauh empat mil melalui udara.
Meskipun bakteri legionella terutama menyebar melalui tetesan air aerosol, infeksi dapat ditularkan dengan cara lain, termasuk:
• Aspirasi. Hal ini terjadi ketika cairan secara tidak sengaja masuk ke dalam paru-paru, biasanya terjadi saat batuk atau tersedak saat minum. Jika aspirat mengandung bakteri legionella, akan dapat berkembang menjadi penyakit Legionnaire.
• Tanah. Beberapa orang terjangkit penyakit Legionnaire setelah bekerja di kebun atau pot dengan tanah yang terkontaminasi.

Faktor risiko
Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri legionella akan menjadi sakit. Ada beberapa faktor resiko :
• Merokok. Kebiasaan merokok akan merusak paru-paru dan lebih rentan terhadap segala jenis infeksi paru.
• Memiliki sistem kekebalan yang lemah sebagai akibat dari HIV / AIDS atau obat tertentu terutama kortikosteroid dan obat-obatan untuk mencegah penolakan organ setelah transplantasi.
• Memiliki penyakit paru kronis seperti emfisema atau kondisi lain yang serius seperti diabetes, penyakit ginjal atau kanker.
• Usia 65 tahun atau lebih
• Bekerja di ruang lingkup dan pemeliharaan sistem pendingin udara/AC
Penyakit Legionnaire terjadi secara sporadis dan menjadi masalah lokal di rumah sakit dan rumah jompo, di mana kuman dapat menyebar dengan mudah dan orang-orang yang rentan terhadap infeksi.

Komplikasi
Komplikasi penyakit Legionnaire dapat mengancam jiwa:
• Kegagalan pernapasan. Hal ini terjadi ketika paru-paru tidak lagi mampu memberikan tubuh oksigen yang cukup atau tidak dapat mengeluarkan karbon dioksida dari darah.
• Septic shock. Hal ini terjadi ketika tiba-tiba terjadi penurunan tekanan darah yang mengurangi aliran darah ke organ vital, terutama ginjal dan otak. Jantung mencoba untuk mengkompensasi dengan meningkatkan volume darah yang dipompa, tapi beban kerja tambahan akhirnya melemahkan jantung dan mengurangi aliran darah lebih lanjut
• Gagal ginjal akut. Akibat hilangnya kemampuan ginjal secara mendadak untuk melakukan fungsi utama mereka yaitu menyaring bahan beracun dari darah.
Bila tidak diobati secara efektif dan segera, penyakit Legionnaire mungkin akan menjadi fatal, terutama jika sistem kekebalan tubuh dilemahkan oleh penyakit atau obat.

Pemeriksaan dan Diagnosis
Penyakit Legionnaire ini mirip dengan jenis pneumonia lainnya. Untuk membantu mengidentifikasi keberadaan bakteri legionella secara cepat, dapat dilakukan pemeriksaan urine untuk mendeteksi antigen legionella, suatu zat asing yang dapat memicu respon sistem kekebalan tubuh. Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
• Pemeriksaan darah
• Pemeriksaan radiologi dada, yang memang tidak mengkonfirmasi penyakit Legionnaire tetapi dapat menunjukkan tingkat infeksi pada paru
• Pemeriksaan pada sampel dahak atau jaringan paru
• CT scan otak atau pungsi tulang belakang jika mengalami gejala neurologis seperti kejang dan penurunan kesadaran

Pengobatan
Penyakit Legionnaire diobati dengan antibiotika golongan pernafasan kuinolon (levofloxacin, moksifloksasin, gemifloxacin) atau bisa juga antibiotika golongan macrolide (azithromycin, clarithromycin, roxithromycin). Antibiotika yang sering digunakan adalah levofloksasin dan azitromisin. Macrolide digunakan pada semua kelompok umur sedangkan tetrasiklin digunakan untuk anak-anak di atas usia 12 dan kuinolon di atas usia 18 tahun. Rifampicin dapat digunakan dalam kombinasi dengan kuinolon atau macrolide.
Tingkat kematian akan menjadi kurang dari 5% jika terapi dimulai dengan cepat. Keterlambatan dalam memberikan antibiotika yang sesuai akan beresiko kematian. Semakin cepat terapi dimulai, semakin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi serius atau kematian. Sedangkan demam Pontiac akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan dan tidak menyebabkan gejala-gejala sisa.

Prognosis
Menurut Journal Infection Control and Hospital Epidemiology, pneumonia Legionella yang di dapat di rumah sakit memiliki tingkat kematian sebesar 28% dan sumber utama infeksi pada kasus tersebut adalah sistem distribusi air minum

Pencegahan
Wabah penyakit Legionnaire dapat dicegah, tapi itu memerlukan pembersihan dan disinfeksi secara cermat pada sistem pegolahan air, kolam renang dan spa. Tidak merokok adalah hal yang paling penting yang dapat lakukan untuk menurunkan resiko infeksi. Merokok meningkatkan kemungkinan berkembangnya parahnya penyakit Legionnaire jika telah terinfeksi bakteri legionella.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar 40% sampai 60% dari menara pendingin yang diuji mengandung Legionella. Sebuah penelitian terbaru memberikan bukti bahwa Legionella pneumophila sebagai agen penyebab, dapat melakukan perjalanan udara minimal 6 km dari sumbernya. Suatu tim ilmuwan dari Francis meneliti epidemi penyakit legionnaire yang berlangsung di Pas-de-Calais di utara Perancis pada 2003-2004. Terapat 86 kasus dikonfirmasikan selama wabah, 18 diantaranya meninggal. Sumber infeksi diidentifikasi pada menara pendingin di petrokimia tanaman dan analisis mereka pada yang terkena wabah bahwa beberapa orang yang terinfeksi, hidup sejauh 6-7 km dari pabrik. Sebuah studi kasus penyakit legionnaire pada bulan Mei 2005 di Sarpsborg, Norwegia menyimpulkan bahwa kecepatan udara yang tinggi, aliran udara besar dan kelembaban udara yang tinggi telah berkontribusi terhadap penyebaran luas Legionella sp. hingga mencapai lebih dari 10 km. Pada tahun 2010 sebuah studi di Inggris oleh Health Protection Agency melaporkan bahwa 20% kasus dapat disebabkan oleh air wiper kaca depan yang terinfeksi.

Kejadian Wabah
1. Philadelphia, Amerika Serikat, 1976
2. United Kingdom, 1985
3. Belanda, 1999
4. Melbourne, Australia, 2000
5. Spanyol, 2001
6. United Kingdom, 2002
7. Norwegia, 2005
8. South Wales, 2010
9. Amerika Serikat, 2011

Referensi :
1. Legionnaire's disease, available from
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000616.htm

2. Legionnaires' Disease available from http://www.scienceclarified.com/Io-Ma/Legionnaires-Disease.html

3. Legionnaires disease link to lack of windscreen wash, available from http://www.physorg.com/news195847365.html.

4. "What is Legionnaires' disease?" available from http://www.relianceworldwide.com/site/fs_main_home.htm.

5. Legionnaires' disease, Mayo Clinic, available from http://www.mayoclinic.com/health/legionnaires-disease/DS00853

6. European Working Group for ''Legionella' Infections" available from http://www.ewgli.org

7. Infection Control and Hospital Epidemiology, July 2007, Vol. 28, No. 7, "Role of Environmental Surveillance in Determining the Risk of Hospital-Acquired Legionellosis: A National Surveillance Study With Clinical Correlations" (http://www.legionella.org/EnvironSurv-Legionella_Stout_et_al-ICHE.pdf)

8. World Health Organization 2007. Legionella and the prevention of legionellosis. Geneva, Switzerland: WHO.
Available from http://www.who.int/water_sanitation_health/emerging/legionella.pdf

VITAMIN D MEMPERCEPAT PENGOBATAN TB

Selasa, 11 Januari 2011


Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa vitamin D dapat mempercepat pengobatan antibiotika tuberkulosis (TB). Hal ini telah dipublikasikan oleh Dr Adrian Martineau dkk dari Centre for Health Sciences Barts dan The London School of Medicine and Dentistry yang didanai oleh British Lung Foundation pada Journal Lancet tanggal 6 Januari 2011

Pada penelitian tersebut terdapat 146 pasien dengan TB BTA positif yang masih sensitif terhadap obat TB. Mereka direkrut dari 10 pusat kesehatan di kota London dan secara acak diberikan empat dosis oral 2,5 mg vitamin D di awal pengobatan, 14,28 dan 42 hari setelah memulai pengobatan atau plasebo. Semua peserta menerima pengobatan antibiotika standar untuk kondisi mereka.

Waktu rata-rata untuk pembersihan kuman TB dari paru pada peserta penelitian adalah 6 minggu untuk pasien yang memakai terapi standar saja dan 5 minggu untuk mereka yang memakai tambahan vitamin D, walaupun secara statistik perbedaan ini tidak cukup signifikan, namun, pasien yang memiliki jenis genetik tertentu yaitu reseptor vitamin D (TaqI and FokI polymorphisms receptor) akan jauh lebih berespon terhadap pemberian vitamin D tersebut dan pembersihan bakteri TB jauh lebih cepat jika mereka menerima vitamin D di samping pengobatan antibiotika standar. Pemberian empat dosis 2,5 mg vitamin D3 akan meningkat konsentrasi serum 25-hidroksivitamin D. Vitamin D tidak secara signifikan mempengaruhi waktu untuk konversi kutur dahak di seluruh populasi penelitian, tapi hal itu secara signifikan mempercepat konversi kultur dahak pada peserta dengan yang memiliki tt genotipe dari reseptor TaqI polimorfisme.

122/126 pasien pada trial (97 persen) memiliki tingkat kekurangan vitamin D pada awal trial. Kekurangan vitamin D adalah masalah yang sangat umum pada pasien TB. Hal ini juga mungkin bahwa TB dapat menyebabkan kekurangan vitamin D dengan mekanisme yang tidak sepenuhnya dipahami saat ini.

Vitamin D terkenal karena dampaknya pada tulang mencegah rakhitis dan osteomalacia tetapi juga memiliki dampak penting pada sistem kekebalan tubuh. Dosis tinggi vitamin D dulu digunakan untuk mengobati TB sebelum tersedianya obat antibiotika seperti saat ini, tapi uji klinis belum pernah dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi genetik pasien TB dapat mempengaruhi respon terhadap pemberian suplemen vitamin D. Temuan bahwa pasien yang memiliki reseptor jenis tertentu terhadap vitamin D dan berespon baik terhadap pemberian vitamin D, memberikan suatu wawasan bagaimana vitamin D dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh

Temuan penelitian menunjukkan suatu harapan baru dalam mempercepat pengobatan antibiotika TB untuk pasien-pasien yang menerima vitamin D. Proses pengobatan saat ini sangat panjang dan bisa mahal sehingga setiap kemajuan yang ada di bidang penelitian medis akan bisa sangat bermanfaat bagi penobatan pasien.

Referensi :
1. Selvaraj P, Chandra G, Jawahar MS, Rani MV, Rajeshwari DN, Narayanan PR. Regulatory role of vitamin D receptor gene variants of Bsm I, Apa I, Taq I, and Fok I polymorphisms on macrophage phagocytosis and lymphoproliferative response to mycobacterium tuberculosis antigen in pulmonary tuberculosis. J Clin Immunol 2004; 24: 523-532
2. Martineau AR, Honecker FU, Wilkinson RJ, Griffiths CJ. Vitamin D in the treatment of pulmonary tuberculosis. J Steroid Biochem Mol Biol 2007; 103: 793-798
3. Wejse C, Gomes VF, Rabna P, et al. Vitamin D as supplementary treatment for tuberculosis: a double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Am J Respir Crit Care Med 2009; 179: 843-850
4. Martineau AR, Nanzer AM, Satkunam KR, et al. Influence of a single oral dose of vitamin D(2) on serum 25-hydroxyvitamin D concentrations in tuberculosis patients. Int J Tuberc Lung Dis 2009; 13: 119-125.





AMANKAH ROKOK ELEKTRONIK?

Rabu, 29 Desember 2010


Rokok elektronik atau Elecronic Nicotine Delivery Systems (ENDS) dipasarkan sebagai pengganti rokok dan diklaim tidak menimbulkan bau dan asap. Bentuknya seperti batang rokok biasa, tetapi alih-alih membakar daun tembakau, seperti produk rokok konvensional, ENDS membakar cairan menggunakan baterai dan uapnya langsung masuk ke paru-paru pemakai.

WHO pada September 2008 telah menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui dan tidak mendukung rokok elektronik dikonsumsi sebagai alat untuk berhenti merokok. Pada 6-7 Mei 2010 lalu, WHO kembali mengadakan pertemuan membahas mengenai peraturan terkait keselamatan ENDS dan menyatakan bahwa produk tersebut belum melalui pengujian yang cukup untuk menentukan apakah aman dikonsumsi.

Suatu studi penelitian dari University California merekomendasikan bahwa rokok elektronik harus dilarang sampai ada kejelasan mengenai keamanan penggunaannya. Penelitian ini telah dipublikasikan pada Tobacco Control Journal yang dirilis pada tanggal 7 Desember 2010. Begitu banyak kontroversi pada perangkat yang dioperasikan dengan baterai tersebut, mengandung nikotin, aroma buatan dan bahan kimia lainnya. Isu ini memanas saat US Food and Drug Administration (FDA) meneliti lima distributor rokok elektronik dan mendapatkan adanya kelemahan dalam pembuatannya di pabrik serta kekeliruan dalam klaim bahwa produk ini bisa membantu untuk berhenti merokok.

Studi ini menemukan adanya kelemahan dalam produk rokok elektronik dan mengenai klaim kesehatannya. Para peneliti mengevaluasi enam merek rokok elektronik yang telah dibeli secara online dan menemukan bahwa:

• Hampir semua cairan yang mengandung nikotin bocor dari cartridge rokok elektronik tersebut
• Perangkat sulit untuk diambil secara terpisah atau diambil bersamaan tanpa tersentuh nikotin di tangan pengguna.
• Pelabelan pada cartridge kurang memuat informasi yang lengkap, kurangnya informasi isi cartridge, tidak ada tanggal kadaluarsa, atau peringatan kesehatan.
• Cartridge yang diklaim tidak memiliki isi nikotin tampak identik dengan yang diklaim memiliki kandungan nikotin yang tinggi, sehingga tidak dapat dibedakan saat dikeluarkan dari kemasan dan pembungkus.
• Semua merek memiliki kandungan nikotin yang meragukan dengan kisaran 6 miligram sampai 24 mg.
• Tidak adanya petunjuk yang jelas apakah berupa selebaran instruksi atau informasi dari situs produk tersebut mengenai instruksi pembuangan yang tepat dari cartridge yang telah digunakan. Cetakan dan materi internet sering mengandung informasi atau klaim yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Misalnya "Dalam waktu dua minggu kapasitas paru-paru anda akan meningkat 30 persen atau “Keriput di kulit anda akan tampak tersamar"

Karena rokok elektronik atau ENDS tidak menghasilkan asap, mereka dipasarkan untuk perokok yang ingin merokok di area bebas asap rokok. Tetapi peneliti menyimpulkan bahwa produk ini tidak boleh dipasarkan setidaknya sampai bisa dibuktikan keamanan penggunaanya. Sehingga disimpulkan, perlu adanya regulasi dan mempertimbangkan menarik produk rokok elektronik (ENDS) ini dari pasar sampai fitur desain, pengendalian pembuangan cartridge, kualitas dan isu-isu keselamatan telah tertangani dengan baik.

Di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa rokok elektronik yang telah beredar di beberapa kota adalah produk ilegal dan tidak aman. BPOM telah menerima laporan dari berbagai wilayah antara lain Makasar, Semarang, Lampung, dan Palembang, mengenai beredarnya produk ilegal tersebut. Terkait dengan itu BPOM telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk penertiban. Begitu pula rekomendasi dari organisasi profesi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) melalui konperensi pers nya tanggal 27 Oktober 2010 menyampaikan bahwa rokok elektronik tidak dianjurkan dipakai untuk mengganti rokok yang biasa dan rokok elektronik belum terbukti aman untuk pemakainya

Salah satu produk tersebut yang bernama Rokok Elektrik Surabaya memasarkan dua jenis rokok, yakni berwarna hitam dan hijau. Rokok warna hitam dijual seharga Rp 190 ribu dan warna hijau
seharga Rp 160 ribu.

Perusahaan rokok itu mengklaim telah mendapat sertifikat internasional dan nasional. Namun hal itu dibantah keras oleh BPOM. Produk ini belum didaftarkan di Indonesia. Di banyak negara rokok ini juga beredar secara ilegal. Tidak ada negara yang setuju penggunaan rokok elektronik. China sebagai penemu awal rokok ini, yaitu tahun 2003, selanjutnya justru melarang keberadaan rokok ini sendiri karena dianggap membahayakan kesehatan.

Referensi :

1. American Thoracic Society : US District Court Rules on E-Cigarette, available from http://www.thoracic.org/advocacy/washington-letter/archive/2010/december-10-2010.php
2. American Lung Association : American Lung Association Joins Public Health Advocates to Urge FDA to Pull E-cigarettes from Marketplace, available from http://www.lungusa.org/press-room/press-releases/e-cigarettes-action.html
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia : “Ends” Produk Ilegal Dan Berbahaya Bagi Kesehatan available from http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1165-ends-produk-ilegal-dan-berbahaya-bagi-kesehatan.html
4. Kompas Health : Rokok Elektronik Dilarang Beredar available from http://health.kompas.com/read/2010/08/13/15232629/Rokok.Elektronik.Dilarang.Beredar
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia : Konperensi Pers PDPI available from http:// www.klikpdpi.com
6. World Health Organization : Tobacco-free initiative available from http://www.emro.who.int/rc57/media/pdf/EMRC57INF02en.pdf

Facebook : Pemicu Eksaserbasi Asma?

Rabu, 15 Desember 2010


Stres psikologis merupakan salah satu penyebab yang diakui pada eksaserbasi asma. Pada pasien dengan penyakit asma yang sedang tertekan, terjadi suatu disregulasi parasimpatis atau simpatis, dengan prevalensi vagal, telah diakui menjadi suatu konsekuensi dari pemicu serangan asma.

Facebook adalah situs jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari, 2004. Jejaring sosial ini begitu populernya dan hingga saat ini memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif pada bulan Juli 2010, saat ini keberadaan facebook dalam dalam beberapa hal dapat menggantikan hubungan yang nyata, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Telah disajikan suatu kasus pada oleh Gennaro D'Amato dkk dari Rumah Sakit A Carderelli di Naples,yang dipublikasikan pada Journal Lancet, volume 376, halaman 1740 tanggal 20 November 2010.

Pada suatu kasus di Italia, dimana seorang pria berumur 18 tahun yang aktif menggunakan Facebook, tampaknya memicu terjadinya serangan eksaserbasi asma. Gejala asma yang dialami selama ini telah dikendalikan dengan kortikosteroid inhalasi (flutikason 250 mg dua kali sehari) dan montelukast 10 mg sekali sehari, Pasien meminum obatnya sepanjang tahun kecuali pada bulan-bulan musim panas, ketika paparan debu tungau rumah (pasien peka terhadap alergen ini), biasanya rendah di Italia. Namun, ternyata gejala asma memburuk dalam bulan-bulan terakhir, dimana pasien harus meminum obat beberapa kali, termasuk di musim panas.

Ibu pasien ini khawatir mengetahui bahwa anaknya tersebut telah diputuskan oleh pacarnya, meninggalkan dia dalam keadaan depresi. Gadis itu telah menghapus anaknya dari dari daftar temannya dan kemudian gadis ini berteman dengan banyak laki-laki muda yang baru. Dengan menggunakan nama yang berbeda/julukan baru di Facebook, pasien ini berhasil menjadi teman gadis ini sekali lagi dan akhirnya dapat melihat fotonya di profil Facebook gadis tersebut. Setiap kali pasien ini mengakses profil gadis tersebut, pasien ini mengalami sesak nafas. Kejadian ini terus terjadi berulang tiap kali mengakses profil facebook gadis tersebut
Akhirnya penderita disarankan untuk mengukur aliran ekspirasi puncak (PEF/Peak Expiratory Flow) sebelum dan setelah login internet dan memang saat mengakses profil gadis tersebut di facebook, nilai-nilai menjadi berkurang dengan variabilitas lebih dari 20%. Bekerjasama dengan seorang psikiater, akhirnya pasien memutuskan untuk tidak untuk login lagi ke Facebook dan serangan asmanyapun kemudian berhenti.

Hubungan temporal dengan onset gejala menunjukkan bahwa login dapat menjadi pemicu dari eksaserbasi asma, di mana hiperventilasi mungkin memainkan peran kunci. Faktor lain seperti faktor lingkungan dan infeksi telah disingkirkan dengan penelusuran riwayat asma secara menyeluruh dan dengan pemeriksaan fisik.

Kasus ini menunjukkan bahwa Facebook, dan jaringan sosial secara umumnya, dapat menjadi sumber baru stres psikologis, yang merupakan faktor pemicu pada eksaserbasi asma pada individu yang tengah tertekan. Mengingat tingginya prevalensi asma, terutama di kalangan orang-orang muda, pemicu ini perlu dipertimbangkan dalam penilaian eksaserbasi asma.


Referensi

1. Ritz T, Kullowatz A, Goldman MD, et al. Airway response to emotional stimuli in asthma: the role of the cholinergic pathway. J Appl Physiol 2010; 108: 1542-1549.
2. Loerbroks A, Apfelbacher CJ, Thayer JF, Debling D, Sturmer T. Neuroticism, extraversion, stressful life events and asthma:a cohort study of middle-aged adults. Allergy 2009; 64: 1444-1450.
3. Miller BD, Wood BL, Lim JH, Ballow M, Hsu CY. Depressed children with asthma evidence increased airway resistance: “vagal bias” as a mechanism?. J Allergy Clin Immunol 2009; 124: 66-73.
4. Zuckerberg M. 500 million stories. http://blog.facebook.com/blog.php?post=409753352130. (accessed Nov 5, 2010).
5. Ritz T, Kullowatz A, Bobb C, et al. Psychological triggers and hyperventilation symptoms in asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 2008; 100: 426-432.

Rapid Test TB Terbaru

Kamis, 09 Desember 2010


WHO mendukung suatu test terbaru yaitu rapid test untuk tuberkulosis (TB), sangat relevan dipergunakan di negara-negara kasus TB yang banyak. Tes ini bisa merevolusi perawatan dan pengawasan TB dengan memberikan diagnosis yang akurat bagi banyak pasien dalam waktu sekitar 100 menit, dibandingkan dengan tes saat ini yang dapat memakan waktu hingga tiga bulan untuk mendapatkan hasinya. Tes baru ini merupakan suatu tonggak utama untuk diagnosis dan perawatan TB secara global. Merupakan harapan baru bagi jutaan orang yang beresiko terkena penyakit TB dan resistensi obat TB. Telah ada bukti ilmiahnya dan dikaji kebijakan-kebijakan yang ada dan sekarang siap implementasinya di negara-negara dengan kasus TB yang banyak.

Rapid test ini merupakan automated NAAT (nucleic acid amplification test) melalui pengujian selama 18 bulan penilaian yang sangat membantu dalam diagnosis dini TB, serta TB-MDR dan TB dengan infeksi HIV, yang selama ini lebih sulit didiagnosis. Sampai saat ini bukti menunjukkan bahwa pelaksanaan tes ini dapat menghasilkan peningkatan tiga kali lipat dalam diagnosis pasien dengan TB yang resistan terhadap obat (TB-MDR) dan dua kali lipat pada jumlah kasus TB dengan HIV di daerah dengan angka kejadian TB dan HIV yang tinggi. Selama ini banyak negara masih mengandalkan terutama pada pemeriksaan mikroskopis BTA, sebuah metode diagnostik yang dikembangkan lebih dari satu abad yang lalu. Pemeriksaan ini menggabungkan teknologi DNA modern yang dapat digunakan di luar laboratorium konvensional. Test ini sepenuhnya otomatis oleh karena itu mudah dan aman untuk digunakan.

WHO sekarang menyerukan agar automated NAAT diluncurkan sebagai bagian dari rencana nasional untuk perawatan dan pengawasan TB dan TB-MDR. Kebijakan dan pedoman operasional juga sedang diterbitkan berdasarkan temuan dari serangkaian ulasan dari para pakar dan konsultasi secara global yang digelar pekan lalu di Jenewa. Konsultasi ini dihadiri oleh lebih dari seratus wakil dari program nasional, lembaga bantuan pembangunan dan mitra internasional. Keterjangkauan rapid test ini telah menjadi perhatian utama dalam konsultasi tersebut. Co-developer FIND (the Foundation for Innovative and New Diagnostics) nenyampaikan bahwa telah melakukan negosiasi dengan produsen, Cepheid, untuk bisa menurunkan harga sebanyak 75% untuk negara-negara yang paling terpengaruh oleh TB, dibandingkan dengan harga pasar saat ini. Harga tersebut akan diberikan kepada 116 negara dengan pendapatan menengah kebawah dengan endemis TB, dengan tambahan pengurangan harga setelah ada permintaan volume yang signifikan.

Telah ada komitmen yang kuat untuk menghilangkan hambatan, termasuk hambatan finansial, yang bisa mencegah suksesnya teknologi baru ini dan untuk pertama kalinya dalam pengendalian TB dimungkinkan akses ke negara dengan pendapatan rendah, menengah dan tinggi secara bersamaan. Teknologi juga memungkinkan suatu pengujian terhadap penyakit lainnya yang selanjutnya akan meningkatkan suatu efisiensi.
WHO juga merekomendasi agar negara-negara memasukan tes ini dalam program nasional mereka. Ini termasuk pengujian protokol (atau algoritma) untuk mengoptimalkan penggunaan dan manfaat dari teknologi baru pada orang-orang yang paling membutuhkannya.Meskipun telah terjadi peningkatan besar dalam perawatan dan pengawasan, TB telah membunuh sekitar 1,7 juta orang di tahun 2009 dan 9,4 juta orang telah terinfeksi TB tahun lalu.

Apakah teknologi ini akan mampu menurunkan prevalensi TB di dunia?

Referensi :
1. International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease : Tuberculosis, available from http://www.theunion.org/tuberculosis/tuberculosis.html
2. Stop TB Partnership : The Global Plan to Stop TB, available from http://www.stoptb.org/global/plan/main/part2.asp
3. TB Alliance : The Treat of TB available from http://www.tballiance.org/why/tb-threat.php
4. World Health Organization : WHO endorses new rapid tuberculosis test, available from http://www.who.int

WORLD SPIROMETRY DAY 2010

Kamis, 14 Oktober 2010


Tujuh persen dari semua kematian di seluruh dunia setiap tahun disebabkan oleh penyakit paru dan pernafasan yang sesungguhnya dapat dicegah. Jutaan orang sedang menjalani usia tua yang menyakitkan karena penyakit paru dan pernafasan yang seharusnya dapat diobati jika saja sudah terdeteksi secara dini melalui pemeriksaan yang tepat yaitu spirometri.

Spirometri adalah metode yang paling umum untuk pengujian fungsi paru. Pemeriksaan ini sederhana, cepat dan non-invasif. Pemeriksaan ini mengukur jumlah (volume) dan atau kecepatan (flow) aliran udara yang dihirup dan dihembuskan oleh paru. Spirometri adalah alat yang penting dan sangat membantu dalam menilai kondisi seperti asma , pulmonary fibrosis, kista dan mungkin yang paling penting Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) . Pengukuran digunakan dalam diagnosis rutin pasien dengan penyakit pernapasan dan saat ini semakin banyak digunakan oleh dokter. Tes spirometri dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut spirometer.

Bilamana dilakukan pemeriksaan Spirometri? Jika anda,…
1. Perokok atau pernah merokok
2. Berusia lebih dari 40 tahun
3. Batuk selama berbulan-bulan atau tahunan
4. Sering tersengal-sengal dalam beberapa tahun terakhir
5. Tidak dapat berjalan menaiki tangga tanpa mengalami sesak napas
6. Cenderung mengalami mengi dalam beberapa tahun terakhir
7. Tidak dapat melakukan latihan/olah raga sebagaimana mestinya
8. Mengalami batuk berdahak, walaupun tidak sedang flu/
9. Telah pernah menggunakan misalnya inhaler untuk suatu kasus penyakit paru
10. Memiliki kekhawatiran tentang kesehatan paru
11. Merasa seolah-olah tidak mendapatkan cukup udara
12. Mengalami nyeri saat bernafas dalam atau menghembuskan nafas

Eropa Lung Foundation atau ELF adalah suatu suara publik dari Eropa Respiratory Society (ERS). Didirikan pada tahun 1990. ERS adalah sebuah organisasi kesehatan nirlaba internasional dengan lebih dari 10.000 anggota dari 100 negara yang dengan bidang ilmu pengetahuan dasar dan obat-obatan klinis. Ini adalah komunitas masyarakat terbesar di Eropa di bidangnya untuk menyebarkan informasi dari ERS kepada publik dan media dan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan penyakit paru. European Respiratory Society (ERS) berusaha untuk meningkatkan kesadaran kesehatan paru dan meningkatkan pencegahan, manajemen dan pengobatan penyakit paru dan pernapasan.

Setiap tahun selama Kongres ERS tahunan, ELF menyelenggarakan acara pemeriksaan spirometri. Hal ini biasanya dilakukan di tempat-tempat umum, misalnya di stasiun kereta api atau di tenda-tenda. Peristiwa ini sesungguhnya memiliki keuntungan ganda. Di satu sisi, memiliki dampak pada kesehatan masyarakat, memungkinkan banyak orang yang belum pernah diperiksa sebelumnya memiliki kesempatan untuk dilakukan pemeriksaan. Di Berlin sekitar 20% orang yang diperiksa disarankan untuk mengunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di sisi lain, peristiwa ini bisa menjadi fokus perhatian khususnya pada kesehatan paru, memfasilitasi peningkatan kesadaran publik. Acara di Berlin diliput oleh saluran TV Nasional Jerman dan Media cetak terkemuka. Peristiwa ini menciptakan kesempatan untuk bisa menarik perhatian otoritas kesehatan, politisi dan pemangku kebijakan. Di Berlin, ELF mengundang Walikota New York. Michael Bloomberg untuk menghadiri acara tersebut. Walikota mengunjungi tenda tempat pemerioksaan spirometri, melakukan pemeriksaan dan akhirnya memberikan konferensi pers.

Acara ini hanyalah salah satu dari sejumlah pemeriksaan yang diadakan di seluruh dunia sebagai bagian dari Year of the Lung 2010 dengan kampanye meningkatkan kesadaran tentang penyakit paru dan pemeriksaan fungsi paru. Pada Hari Spirometri Sedunia kita ingin menunjukkan kepada publik bagaimana mereka dapat dengan mudah mendapatkan kembali kesehatan paru mereka dengan meluangkan beberapa menit dari rutinitas harian mereka untuk melakukan pemeriksaan spirometri yang tidak menyakitkan dan sederhana, "kata Presiden Eropa Respiratory Society Profesor Marc Decramer.

Secara ringkas, diketahui bahwa lebih dari 12.500 orang yang telah melakukan pemeriksaan, hampir 20% memiliki beberapa derajat obstruksi pada saluran napas, hampir 50% nya perokok dan 5% menderita asma. Panitia penyelenggara ini menyampaikan bahwa pemeriksaan spirometri berguna untuk mendeteksi obstruksi saluran napas pada stadium awal/dini.

Selanjutnya perlu dipahami bersama bahwa penyelenggaraan acara ini tidak memerlukan biaya yang sedikit mulai dari tenaga medis dan pendukung, alat spirometer, biaya promosi dan sarana pendukung lainnya sehingga kemungkinan acara ini tidak bisa dilakukan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tetapi setidaknya mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi pemangku kebijakan serta politisi dan tenaga medis untuk bisa menyelenggarakan acara ini di tahun-tahun mendatang.









SPIROMETRI


Spirometri adalah pengukuran volume dan aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru. Saat ini spirometer dapat mengukur paru seperti volume tidal dan kapasitas paru seperti kapasitas total paru-paru. Pengujian fungsi paru sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Meski prinsif dasarnya tidak berubah, teknik-tekniknya menjadi makin rumit. Para ilmuwan telah dapat mengukur berbagai variable, yang teus meningkat jumlahnya

Sejarah awal mula konsep sudah ada sejak masa kekaisaran Romawi, tahun 129-200 M. Seorang dokter dan filsuf Yunani, Claudius Galen melakukan percobaan volumetric pernafasan pada manusia. Dia menyuruh seorang anak laki-laki bernafas melalui semacam balon dan menemukan setelah beberapa waktu, bahwa volume gas tidak berubah.

Setelah eksperimen tersebut, tidak banyak diketahui mengenai fungsi paru hingga tahun 1600 an. Sekitar tahun 1691, Giovanni Alfonso Borelli mencoba menghirup cairan melalui tabung dan mengukur volumenya, Satu hal yang dilakukan dan masih dilakukan hingga saat ini adalah penutupan lubang hidung. Menutup lubang hidung sangat penting agar tidak ada udara yang lolos melalui hidung saat mengukur udara yang masuk dan keluar melalui mulut untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Pada awal 1700 an, J. Jurin adalah ilmuwan pertama yang merekam pengukuran volume udara yang absolut. Dia mengukur volume tidal sebanyak 650 ml dan ekspirasi minimal sebesar 3610 ml. Jurin melakukan eksperimennya dengan meniup ke dalam balon dan mengikuti prinsif Archimedes, dapat mengukur volume udara dalam balon.

Pada paruh pertama abad 18, Stephen Hales mengkonfirmasi temuan Jurin mengenai ekspirasi maksimal sebesar 3610 ml, mesti tidak tahu metode apa yang dipergunakan dalam melakukan pengukuran tersebut. Stephen Hales telah memberi kontribusi pada fisiologi pernafasan. Termasuk juga John Abernety seorang dokter dan guru anatomi, fisiologi dan patologi pada akhir 1700 an yang telah melakukan pengukuran kapasitas vital sebesar 3150 ml.

Pada permulaan 1800 an, Sir Humphry Davy menggunakan gasometer untuk mengukur berbagai volume dan kapasitas. Dia mengambil pengukurannya sendiri yang menghasilkan kapasitas vital sebesar 3110 ml, volume tidal 210 ml dan dengan menggunakan metode delusi hydrogen, volume residual sebesar 590-600 ml.

Alat lain yang digunakan dalam perkembangan spirometri adalah pulmometer. Alat ini ini digunakan oleh E. Kentish dan Charles Turner Thackrah. Menurut Cleeland dan Burt, alat ini adalah toples yang dibalikkan di dalam air yang digunakan untuk mengukur volume ventilasi. Mesin ini tidak hanya mengukur volume-volume pernafasan tetapi juga kekuatan otot-otot ekspirasi.

Sebuah alat lain bernama ekspirator digunakan olh Karl Von Vierordt. Melalui percobaannya, dia mampu menghasilkan determinasi yang amat tepat dari parameter-parameter volume tertentu, termasuk volume residual dan kapasitas vital yang masih digunakan pada spirometri modern saat ini.

Pada tahun 1840, John Hutchinson seorang ahli bedah memulai pekerjaannya dengan berbagai spirometer. Dia menciptakan spirometer untuk mengukur kapasitas vital. Spirometer nya terdiri dari sebuah lonceng yang menampung udara yang dihembuskan dari paru-paru. Hutchinson telah merekam lebih dari 4000 orang dengan spirometer nya. Hal ini menunjukan Hutchinson mengetahui betul hubungan antara kapasitas vital dengan kesehatan pernafasan. Lebih lanjut Spirometer air Hutchinson masih digunakan saat ini dengan beberapa perubahan termasuk pengurangan massa lonceng dan penambahan alat grafis dan waktu.

Kurang lebih 10 tahun kemudian, Wintrich mengembangkan sebuah spirometer yang lebih mudah digunakan, ia pun telah melakukan pengujian pada lebih dari 4000 orang dan mementukan tiga parameter yang menentukan kapasitas vital yaitu tinggi badan, berat badan dan usia.Pada tahun 1859, E. Smith mengembangkan spirometer portable. Tahun 1866, Salter menambahkan sebuah kimograf pada spirometer untuk mencatat waktu saat pengambilan volume udara. T,G Brodie adalah yang pertama menggunakan spirometer bellow wedge kering tahun 1902 yang merupakan pendahulu dari spirometer Fleisch yang digunakan saat ini. Sebagai tambahan pada tahun 1904, Tissot memperkenalkan spirometer rangkaian tertutup.

Pada tahun 1920 an, H.W. Knipping dan Braurer memperkenalkan ergospirometeryang memungkinkan dilakukan pengujian performa, pengukuran tidak hanya bisa dilakukan saat istirahat. Metode-metode ergospirometri memiliki manfaat saat ini untuk riset, diagnosis, terapi rehabilitasi, latihan dan olah raga. Disiplin kedokteran khususnya kedokteran olah raga, pulmonologi, kardiologi, fisiologi, farmakologi klinis dan biokimia telah memanfaatkan ergospirometer dan mendapatkan banyak pengetahuan baru dari alat tersebut.

Konsep pengukuran kapasitas paru sewaktu melakukan aktifitas fisik adalah terobosan besar dalam bidang ilmiah dan masih digunakan saat ini. Konsep tersebut memungkinkan untuk mengukur konsumsi oksigen dan pengeluaran energi sewaktu berolahraga dan mendapat banyak informasi mengenai tingkat kondisi dan kesehatan seseorang.

dikutip dari berbagai sumber
Memperingati “World Spirometry Day” 14 Oktober 2010

Kesalahan Diagnosis Asma pada Orang dengan Obesitas

Kamis, 29 Juli 2010


Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dewasa dengan obesitas mungkin akan mengalami kesulitan saat bernapas sehingga sering salah didiagnosis sebagai asma. Ketika peneliti melihat faktor-faktor risiko yang menyebabkan kesalahan diagnosis, pengaruh obesitas belum menunjukan peranan yang jelas. Namun di antara pasien yang meminta perawatan di unit darurat karena masalah pernafasan pada setahun terakhir, orang dengan obesitas, 4 kali lebih sering salah didiagnosis sebagai asma dibandingkan orang dengan berat badan yang normal.

Penelitian ini telah dimuat pada jurnal CHEST, bulan Juni 2010, Vol 137 no 6 dengan judul A Comparison of Obese and Nonobese People With Asthma Exploring an Asthma-Obesity Interaction.(http://chestjournal.chestpubs.org/content/137/6/1316.abstract?sid=21fef794-9d81-4da3-88e0-c6aa03fc9ffd) Tidak bisa dipastikan alasan terjadinya kesalahan diagnosis atau resiko yang lebih tinggi terjadi di kalangan orang dewasa dengan obesitas yang memerlukan perawatan darurat. Menurut Dr Smita Pakhale dari Rumah Sakit Ottawa di Ontario, Kanada yang memimpin penelitian ini menyampaikan bahwa pemeriksaan spirometri sebagai tes standar fungsi paru, tidak sering digunakan dalam mendiagnosis asma. Asma harus didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fungsi paru. Hal ini mungkin menjadi faktor penyebab terjadinya beberapa kesalahan diagnosis tetapi itu hanya merupakan suatu spekulasi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa dengan obesitas beresiko tinggi terhadap sejumlah masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gejala seperti sesak napas dan nyeri dada. Pasien yang dikatakan memiliki penyakit asma setelah mendapat perawatan di ruang gawat darurat sering memastikan atau menindaklanjuti dengan dokter yang merawat di sarana pelayanan kesehatan primer.Mereka ingin mendapatkan pemeriksaan tambahan atau evaluasi kembali untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari suatu gejala, bila ternyata tidak asma.

Penelitian dilakukan pada 496 orang yang didiagnosis asma oleh dokter (242 orang dengan obesitas dan 254 berat badan normal), 346 orang menderita asma dikonfirmasikan dengan pemeriksaan fungsi paru dan 150 orang didiagnosis asma diluar algoritme yang baku. Orang obesitas dengan asma secara bermakna lebih cenderung memiliki riwayat hipertensi dan penyakit reflux gastroesophageal dan FEV1 yang lebih rendah dibandingkan dengan orang berat badan normal dengan asma. Orang yang lebih tua, laki-laki dan FEV1 yang lebih tinggi lebih mungkin salah didiagnosa sebagai asma. Obesitas bukan predictor independent kesalahan diagnosis, namun ada interaksi antara obesitas dan kunjungan ke unit darurat karena gejala pernapasan. Odds rasio untuk terjadinya suatu kesalahan diagnosis asma bagi penderita obesitas dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal adalah 4,08 (95 % CI , 1,23-13,5 ) bagi mereka dengan kunjungan ke unit darurat dalam 12 bulan terakhir .

Akhirnya, Dr Smita Pakhale dkk berkesimpulan bahwa orang obesitas dengan asma memiliki fungsi paru yang lebih rendah dan komorbiditas yang lebih dibandingkan dengan orang berat badan normal dengan asma. Orang dengan obesitas yang melakukan kunjungan ke unit darurat dengan gejala pernapasan lebih cenderung terjadi kesalahan diagnosis asma

PARACETAMOL MENYEBABKAN ASMA?

Sabtu, 17 Juli 2010


Paparan terhadap parasetamol selama intrauterin, masa anak-anak, dan saat dewasa dapat meningkatkan resiko terjadinya asma. Hal ini diketahui dari studi dari The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) pada anak-anak dengan umur 6-7 tahun yang untuk menyelidiki hubungan antara penggunaani parasetamol dan asma. Penelitian ini telah dimuat pada The Lancet Journal, volume 372, issue 9643 tanggal 20 September 2008 dengan judul Association between paracetamol use in infancy and childhood, and risk of asthma, rhinoconjunctivitis, and eczema in children aged 6—7 years: analysis from Phase Three of the ISAAC programme (http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2808%2961445-2/fulltext)

Orang tua atau wali anak usia 6-7 tahun diminta untuk menulis kuesioner tentang gejala asma, rhinokonjungtivitis, eksim dan beberapa faktor risiko termasuk penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan anak dan frekuensi penggunaan parasetamol dalam 12 bulan terakhir.

Terdapat 205.487 anak usia 6-7 tahun pada 73 pusat penelitian di 31 negara yang dilibatkan dalam penelitian ini. Menurut Prof Richard Beasley dkk, setelah melalui analisis multivariat, penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala asma saat berusia 6-7 tahun Penggunaan parasetamol berhubungan dengan risiko gejala asma berat dengan resiko populasi yang timbul antara 22% dan 38%. Parasetamol yang digunakan, baik pada tahun pertama kehidupan dan pada anak usia 6-7 tahun, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala rhinokonjungtivitis dan eksim. Selanjutnya disampaikan pada penelitian ini bahwa penggunaan parasetamol mungkin menjadi faktor risiko terjadinya asma di masa kanak-kanak.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIKA DALAM MEMPREDIKSI PEMERIKSAAN FUNGSI PARU

Kamis, 15 Juli 2010


Penggunaan klasifikasi ras atau etnis dalam praktek medis dan penelitian telah menjadi bahan perdebatan. Ras dan etnis yang kompleks menggabungkan konstruksi sosial, budaya, dan faktor genetik. Saat ini, pemeriksaan fungsi paru adalah salah satu dari beberapa aplikasi klinis di mana faktor ras atau etnis suatu kelompok digunakan untuk menentukan rentang normal hasil pemeriksaan.

Suatu studi terbaru menunjukan bahwa pemeriksaan fungsi paru sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit paru dan respirasi yang sesungguhnya mungkin perlu disesuaikan dengan perbedaan keturunan/genetik pasien. Saat ini dokter memperhitungkan hasil pemeriksaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, ras dan berat badan, tetapi tidak untuk keturunan campuran.

Penelitian yang diterbitkan pada New England Journal of Medicine, volume 363, number 2 tanggal 8 Juli 2010 dengan judul Genetic Ancestry in Lung-Function Predictions (http://content.nejm.org/cgi/content/full/NEJMoa0907897?query=TOC) menunjukkan penyesuaian mungkin diperlukan karena banyak orang keturunan campuran, yang dapat mempengaruhi hasil tes. Ketika seorang pasien dipaksakan untuk masuk dalam suatu kelompok, misalnya Afrika-Amerika atau Kaukasia, dokter akan banyak kehilangan informasi genetik.

Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 pasien, para peneliti menemukan bahwa keturunan genetik secara signifikan mempengaruhi hasil pada pemeriksaan fungsi paru. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tanda-tanda penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Menurut pemimpin studi ini, Dr Rajesh Kumar seorang profesor di Northwestern University Feinberg School of Medicine dengan mempertimbangkan faktor keturunan/genetik pada pemeriksaan bisa menghasilkan pengobatan yang lebih tepat untuk pasien. Seorang dokter spesialis paru dari Mayo Clinic, Dr Paul D. Scanlon mengatakan bahwa temuan studi ini merupakan "sebuah langkah maju dalam pemahaman kita." Pada umumnya hasil pemeriksaan orang kulit hitam berbeda dibandingkan orang kulit putih Jika hasil pemeriksaan tidak disesuaikan dengan fakta ini, pasien mungkin akan salah didiagnosis sebagai penyakit paru. Saat ini, alat ukurnya masih perlu disempurnakan karena tidak dirancang untuk seseorang dengan keturunan campuran.