<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544</id><updated>2011-12-17T12:37:54.758+08:00</updated><title type='text'>crackle and wheeze</title><subtitle type='html'>live,learn,breathe</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-6618389754644962795</id><published>2011-09-05T15:56:00.002+08:00</published><updated>2011-09-05T16:05:37.868+08:00</updated><title type='text'>BUKAN TENAGA MEDIS BIASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-1aKcG4y2790/TmSBoWKX9qI/AAAAAAAAAL4/HD50miNDfsY/s1600/2011_08_29_11_18_44_detail_medis.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1aKcG4y2790/TmSBoWKX9qI/AAAAAAAAAL4/HD50miNDfsY/s320/2011_08_29_11_18_44_detail_medis.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648782362773288610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kick Andy Show&lt;/span&gt;: Mencapai  masyarakat  sehat  dan  sejahtera sejatinya  bukanlah  sebuah   slogan  belaka, tapi benar-benar  sesuatu  yang  memang  harus  diperjuangkan.  Dan  inilah  kisah   pejuang-pejuang   kesehatan  masyarakat  yang  bekerja  dengan kesungguhan  hati, mengabdi   demi  kesehatan sesama  manusia. Bahkan  sebagian  rela  bekerja tanpa  gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah bidan  Eulis Rosmiati  yang  bertugas di desa Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, dengan  warga desa   yang memiliki pengetahuan minim  tentang  pentingnya kesehatan. Ia  bertugas  sejak  tahun 2008. Sebagai bidan,  ia tak sekedar membantu proses persalinan saja. Eulis juga terus membangun dan memberdayakan masyarakat desa dengan program-program  unik kreasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, untuk  mengatasi urusan buang  hajat  masyarakat yang masih  sembarangan, ia tak sungkan membuat gebrakan baru dengan membentuk kelompok arisan  WC, dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah warga sehat. Dan Eulis juga menciptakan program iuran yang disesuaikan dengan kemampuan mata pencaharian masing-masing penduduk di desa sebagai dana cadangan saat diperlukan mendadak untuk pengobatan dan biaya persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja program meronce kasih,   program untuk warga yang bekerja sebagai nelayan yang mengumpulkan satu kilo ikan dengan kualitas paling rendah setiap habis pergi melaut. Ikan yang dikumpulkan itu, kemudian dijual pada tengkulak dan uangnya-pun disimpan sebagai biaya cadangan. Begitu-pun dengan program lainnya,  seperti seliber beras, sagandu saminggu, lima ribu kasih dan banyak lagi.   “Sejak  awal tahun ini, masyarakat  banyak yang  sudah  dapat  jamkesmas, sehingga uang  hasil  iuran  itu  sudah  dipakai  untuk  keperluan pembangunan lain,” ujar   Eulis  saat tampil di  Kick  Andy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu  saja, Eulis juga senantiasa memperhatikan kesehatan dan kesiapan ibu hamil untuk dapat menjalani persalinan yang sehat dan selamat. Ia kemudian menggagas program rumah singgah, yakni pemberdayaan rumah warga setempat  pengganti puskesmas sebagai tempat persalinan yang layak untuk ibu bersalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini berkat program  meningkatkan kesehatan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraan desa Ujunggenteng pun semakin  baik,  hingga terkenal ke luar pelosok Sukabumi. Sebagai bidan-pun Eulis Rosmiati mendapat penghargaan dengan menyandang gelar sang teladan kesehatan 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain datang  dari  Jambi.  Tentang Syamsinar  Rasyad,  perempuan   berusia 58 tahun, yang  sudah 20 tahun mengabdi  sebagai  seorang relawan dari Perkumpulan Pemberantas Tuberkulosis Indonesia (PPTI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umi, panggilan akrab ibu Syamsinar,  setiap hari ia selalu berkeliling kampung untuk mencari penderita TBC,  meskipun ia bukan seorang tenaga peramedis.  Tak jarang ia harus bejalan jauh untuk menemui pasien-pasiennya.  Selain menemui langsung para pasien, ia juga melakukan sosialisasi dari mesjid ke mesjid, menghimbau agar para penderita tuberculosis, untuk mau didampingi untuk berobat di klinik PPTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang  Syamsinar mendapat cibiran dari masyarakat, terhadap  apa  yang dilakukannya. Meski  demikian,  Syamsinar  tak patah  arang.  Hingga saat ini ia sudah menolong sedikitnya 185 orang yang sembuh dari TBC. Artinya, setiap tahun ia menyelamatkan jiwa rata-rata 10 orang atau lebih. “Dulu  ada orang  petani  yang  kena TBC  parah, setelah mengkuti  pengobatan dia sembuh. Sekarang  kebun kelapa sawitnya dah  10 hektar,”  papar  Syamsinar  tentang  salah  satu pasiennya. “Dan itu yang membuat saya  bangga  untuk terus mengabdi,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari  kota  Agam, Bukit Tinggi, ada dokter gigi  yang  melebarkan  misi  kedokterannya. Dokter gigi Salvi  Raini  adalah kepala  Puskesmas di Kecamatan Biaro, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memulai programnya, Salvi menghadapi tantangan budaya dan adat yang cukup ketat di daerah kerjanya, di mana permasalahan narkoba masih dianggap sebagai suatu hal tabu yang tidak pantas untuk diungkapkan ke publik. Sehingga sering kali warga yang keluarganya terjerumus ke dalam permasalahan narkoba, tidak mengetahui kemana harus mencari bantuan pemulihan bagi anggota keluarganya dari kecanduan obat-obatan. Dengan menutupi permasalahan ini, justru membuka resiko bagi terjadinya penularan penyakit akibat penggunaan narkoba, seperti HIV dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salvi mengambil langkah yang mendobrak kebiasaan ini dengan melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada warga, sehingga para korban narkoba tidak segan dan takut untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi. Salvi juga melakukan pendekatan ke pihak kepolisian, sehingga pasien pecandu narkoba tidak mempunyai rasa takut akan ditahan bila berkonsultasi di Puskesmas Biaro. "Melihat masyarakat menjadi lebih baik, adalah sesuatu yg menyenangkan lebih dari apapun," ujarnya.http://www.blogger.com/img/blank.gif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari pulau Bali, ada kisah tentang seorang bidan asal Amerika, yang mengabdi bagi banyak perempuan di negeri in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah-kisah penuh inspirasi dari orang-orang yang peduli sesama.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kickandy.com/theshow/1/1/2166/read/BUKAN-TENAGA-MEDIS-BIASA"&gt;http://kickandy.com/theshow/1/1/2166/read/BUKAN-TENAGA-MEDIS-BIASA&lt;/a&gt;-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 2 September 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-6618389754644962795?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/6618389754644962795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/09/bukan-tenaga-medis-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6618389754644962795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6618389754644962795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/09/bukan-tenaga-medis-biasa.html' title='BUKAN TENAGA MEDIS BIASA'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1aKcG4y2790/TmSBoWKX9qI/AAAAAAAAAL4/HD50miNDfsY/s72-c/2011_08_29_11_18_44_detail_medis.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-1724205522105481440</id><published>2011-05-03T05:58:00.004+08:00</published><updated>2011-05-03T06:22:09.556+08:00</updated><title type='text'>You Can Control Your Asthma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ADuj1gFNoRs/Tb8tvWeqiwI/AAAAAAAAALs/jTPSjOZm34A/s1600/images%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ADuj1gFNoRs/Tb8tvWeqiwI/AAAAAAAAALs/jTPSjOZm34A/s320/images%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602246752983485186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asma adalah penyakit peradangan kronis pada saluran nafas berupa hiperesponsif nya saluran nafas yang menyebabkan terjadinya obstruksi dan pembatasan aliran udara oleh karena terjadinya bronkokonstriksi, gumpalan mukus dan peningkatan peradangan ketika terjadinya pajanan terhadap faktor resiko. Penyakit ini ditandai mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas yang berbeda dalam tingkat keparahan dan frekuensi diantara penderita dan termasuk dalam kelompok penyakit saluran pernapasan kronik. Asma mempunyai tingkat fatalitas yang rendah namun jumlah kasusnya cukup banyak ditemukan dalam masyarakat. Meskipun tingkat kematian asma tidak seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau penyakit kronis lainnya, pengobatan yang tidak tepat atau tidak patuh terhadap pengobatan dapat menyebabkan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO memperkirakan bahwa sekitar 300 juta orang saat ini menderita asma dan asma adalah penyakit kronis yang paling umum terjadi pada anak-anak. Sebanyak 255 ribu orang meninggal karena asma pada tahun 2005. Penyakit ini terus meningkat selama 20 tahun belakangan ini yang apabila tidak di cegah dan ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi yang lebih tinggi lagi pada masa yang akan datang serta mengganggu proses tumbuh kembang anak dan kualitas hidup pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di semua negara bukan hanya pada negara dengan tingkat pendapatan yang tinggi. Terlepas dari tingkat keparahan asma, 80 % lebih kematian akibat asma terjadi pada negara-negara dengan pendapatan yang rendah atau menengah kebawah. Asma sering kali tidak didiagnosis dengan benar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;underdiagnosis&lt;/span&gt;) sehingga pengobatannyapun tidak optimal. Hal Ini menciptakan beban besar untuk individu dan keluarga dan sering menghambat aktivitas individu tersebut seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil suatu penelitian di Amerika Serikat hanya 60% dokter ahli paru dan alergi yang memahami panduan tentang asma dengan baik, sedangkan dokter lainnya 20%-40%.  Tidak mengherankan bila tatalaksana asma belum sesuai dengan yang diharapkan. Di masyarakat masih banyak dijumpai pemakaian obat anti asma yang kurang tepat dan masih tingginya kunjungan pasien ke unit gawat darurat, perawatan inap bahkan perawatan intensif. Studi di Asia Pasifik baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat tidak masuk kerja akibat asma jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan Eropa.  Hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya.  Hal ini disebabkan manajemen dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang direkomendasikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.ginasthma.com"&gt;Global Initiative for Asthma&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (GINA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;International Study on Asthma and Allergy in Children&lt;/span&gt;) tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei asma pada anak sekolah di beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan  prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995 dan tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar 8,6%. Berdasarkan gambaran tersebut di atas, terlihat bahwa  asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian secara serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan di 5 propinsi di Indonesia (Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan) yang dilaksanakan oleh Subdit Penyakit Kronik dan Degeneratif Lain pada bulan April tahun 2007, menunjukkan bahwa pada umumnya upaya pengendalian asma belum terlaksana dengan baik dan masih sangat minimnya ketersediaan peralatan yang diperlukan untuk diagnosis dan tatalaksana pasien asma difasilitas kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab dasar asma tidak sepenuhnya dipahami. Faktor risiko terkuat untuk pengembangkan terjadinya asma adalah kombinasi dari predisposisi genetik dengan pajanan lingkungan terhadap zat dihirup dan partikel yang dapat menimbulkan reaksi alergi atau mengiritasi saluran udara, seperti:&lt;br /&gt;• Alergen dalam ruangan (misalnya untuk tungau rumah, debu di tempat tidur, karpet dan boneka, polusi dan ketombe binatang peliharaan)&lt;br /&gt;• Alergen luar ruangan (seperti serbuk sari dll)&lt;br /&gt;• Asap tembakau&lt;br /&gt;• Zat kimia di tempat kerja&lt;br /&gt;• Polusi udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lainnya yang dapat memicu terjadinya asma yaitu udara dingin, emosional yang amat sangat seperti marah atau takut,dan latihan fisik. Bahkan obat-obat tertentu dapat memicu asma seperti aspirin dan obat anti-inflamasi non-steroid, dan beta-blocker (yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, kondisi jantung dan migren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 4 komponen dalam penanganan asma :&lt;br /&gt;1. Membina hubungan baik pasien dan dokter&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi dan mengurangi pajanan terhadap faktor  resiko&lt;br /&gt;3. Menilai, mengobati dan memonitor asma secara tepat&lt;br /&gt;4. Penanganan eksaserbasi asma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun asma tidak bisa disembuhkan, penerapan 4 komponen penanganan asma tersebut dapat mengontrol penyakit dan memungkinkan orang untuk menikmati kualitas hidup yang baik.serta diharapkan dapat mengurangi rawat inap karena asma sebanyak 50% pada tahun 2015. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat asma terdiri dari atas obat pelega (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;reliever&lt;/span&gt;) dan obat pengontrol (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;controller&lt;/span&gt;). Obat pelega  digunakan saat asma sedang kambuh untuk meredakan serangan asma. Obat yang termasuk di dalamnya bertujuan melebarkan jalan napas. Obat pelega berefek cepat namun efeknya cepat menurun sehingga obat jenis ini hanya digunakan bila perlu yaitu bila ada tanda atau gejala serangan asma. Obat pengontrol digunakan sehari-hari untuk mengatasi peradangan (inflamasi) yang terjadi, agar menjaga paru dan saluran napas penderita asma tidak semakin rusak. Obat ini tidak diperuntukan bagi serangan asma. Obat asma dapat diberikan dengan penyuntikan, infus maupun diminum. Selain itu, ada pula obat asma yang penggunaannya dihisap atau disemprotkan (inhaler). Sedangkan obat yang berupa injeksi dan infus biasanya diberikan di rumah sakit. Untuk penggunaan sehari-hari di rumah, penggunaan obat semprot dan hisap (inhaler) lebih dianjurkan karena dengan cara dihisap, obat langsung bekerja cepat dan tepat ke saluran napas. Dosis yang diberikanpun kecil yaitu 1/20 dosis obat minum sehingga efek samping minimal dan aman bila dipakai jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003, GINA menetapkan klasifikasi asma berdasarkan tingkat keparahannya seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Intermittent, Mild Persistent, Moderate Persistent dan Severe Persistent&lt;/span&gt;. Sejak tahun 2008 klasifikasi ditetapkan berdasarkan tingkat kontrolnya yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Controlled&lt;/span&gt; (terkontrol),&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Partly Controlled&lt;/span&gt; (terkontrol sebagian) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uncontrolled&lt;/span&gt; (tidak terkontrol). Sehingga tujuan utama pengobatan asma adalah mencapai dan mempertahankan keadaan asma yang terkontrol. Asma terkontrol dapat dicapai pada sebagian besar pasien asma dengan pengelolaan yang baik. Asma dikatakan terkontrol bila :&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau minimal) gejala-gejala asma.&lt;br /&gt;• Tidak bangun di malam hari karena asma.&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau minimal) penggunaan obat pelega (reliever) &lt;br /&gt;• Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik dengan normal dan berolahraga&lt;br /&gt;• Normal (atau mendekati normal) hasil uji fungsi paru (PEF dan FEV 1)&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau sangat jarang) terjadinya serangan asma &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian di beberapa multi center hanya 5% di Eropa Barat dan 2,5% di Asia Pasifik penderita asma yang terkontrol baik. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kontrol asma yang rendah terdapat dua faktor yang tampaknya memegang andil besar yaitu faktor dokter dan pasien. Dokter terlalu rendah menilai asma dan kemudian meresepkan obat yang tidak adekuat. Obat pengontrol asma seperti kortikosteroid inhalasi sangat rendah pemakaiannya, para dokter lebih suka menggunakan obat pelega dan bahkan obat batuk dan antibiotika yang seharusnya tidak diperlukan. Dilain sisi pasien merasa dirinya sudah terkontrol, apalagi adanya pemahaman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“No symptoms No Asthma”&lt;/span&gt; menyebabkan pasien hanya berobat kalau ada gejala saja tanpa perlu memakai obat pengontrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini peneliti berupaya untuk menentukan alat ukur yang bisa mewakili kontrol asma secara keseluruhan mulai dari pengukuran salah satu variable sampai pada gabungan beberapa variable sehingga sasaran pengobatan menjadi jelas. Saat ini setidaknya terdapat 5 alat ukur berupa kuisioner baik atau dengan pemeriksaan fungsi paru. Salah satunya adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asthma Control Test&lt;/span&gt; (ACT) yang di perkenalkan oleh Nathan dkk  tahun 2004. Kuisioner ACT ini telah diuji coba di Poliklinik  alergi-imunologi klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM dengan hasil keandalan internal 83%, keandalan interklas 92% kesahihan dengan fungsi paru 24%, dan kesahihan dengan penilaian klinis 74% sehingga dapat disimpulkan ACT ini dapat dipakai di masyarakat kita. Manfaat dari asma yang terkontrol  dapat menurunkan kunjungan ke Unit Gawat Darurat dan menurunkan perawatan di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol asma di Indonesia termasuk rendah karena pengetahuan dokter dan masyarakat masih kurang. Terdapat suatu penelitian kalau penggunaan kortikosteroid inhalasi masih kurang di Indonesia dan pemeriksaan fungsi paru hanya 1,5% yang dilakukan secara teratur. Selain kendala pengetahuan, menurut GINA distribusi obat di Indonesia masih belum baik selain ketidakmampuan dan daya beli masyarakat yang tinggi. Perlunya upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang asma kepada petugas kesehatan dan juga pada masyarakat. Bantuan pemerintah dalam memproduksi obat asma yang murah yang terjangkau juga merupakan hal yang penting terutama obat-obat kortikosteroid inhalasi maupun kombinasi kortikosteroid dan agonis beta-2 inhalasi kerja panjang/lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah Asma Anda Terkontrol?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa telah dikembangkan suatu kuisioner untuk menilai status kontrol asma seseorang dengan menggunakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asthma Control Test &lt;/span&gt;(ACT). ACT adalah sebuah tes sederhana yang dapat membantu mengevaluasi apakah penyakit asma telah terkontrol dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asthma Control Test &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering asma mengganggu anda untuk melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor, di sekolah atau di rumah?&lt;br /&gt;     1) Selalu&lt;br /&gt;     2) Sering&lt;br /&gt;     3) Kadang-kadang&lt;br /&gt;     4) Jarang&lt;br /&gt;     5) Tidak pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam 4 minggu terakhir seberapa sering anda mengalami sesak nafas?&lt;br /&gt;     1) Lebih dari 1 kali sehari&lt;br /&gt;     2) Sesekali sehari&lt;br /&gt;     3) 3-6 kali seminggu&lt;br /&gt;     4) 1-2 kali seminggu&lt;br /&gt;     5) Tidak pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dalam 4 minggu terakhir seberapa sering gejala-gejala asma (bengek, batuk-batuk, sesak nafas atau rasa tertekan di dada) menyebabkan anda terbangun di malam hari atau lebih awal dari biasanya?&lt;br /&gt;    1) 4 kali atau lebih dalam seminggu&lt;br /&gt;    2) 2-3 kali seminggu&lt;br /&gt;    3) Sekali seminggu&lt;br /&gt;    4) 1-2 kali sebulan&lt;br /&gt;    5) Tidak pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam 4 minggu terakhir seberapa sering anda menggunakan obat semprot atau obat oral (tablet/syrup) untuk melegakan pernafasan?&lt;br /&gt;    1) 3 kali atau lebih sehari&lt;br /&gt;    2) 1-2 kali sehari&lt;br /&gt;    3) 2-3 kali seminggu&lt;br /&gt;    4) 1 kali seminggu atau kurang&lt;br /&gt;    5) Tidak pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimana anda sendiri menilai tingkat control asma anda dalam 4 minggu terakhir?&lt;br /&gt;    1) Tidak terkontrol sama sekali&lt;br /&gt;    2) Kurang terkontrol&lt;br /&gt;    3) Cukup terkontrol&lt;br /&gt;    4) Terkontrol dengan baik&lt;br /&gt;    5) Terkontrol sepenuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlahkan nilai masing-masing pertanyaan untuk mendapatkan nilai total&lt;br /&gt;Arti nilai ACT :&lt;br /&gt;    • 25 :   Terkontrol Penuh&lt;br /&gt;    • 20-24 :   Terkontrol Sebagian&lt;br /&gt;    • ≤ 19 :   Tidak Terkontrol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                    Memperingati Hari Asma Sedunia &lt;br /&gt;                                                           Selasa, 3 Mei 2011&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-1724205522105481440?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/1724205522105481440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/05/asma-adalah-penyakit-peradangan-kronis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1724205522105481440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1724205522105481440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/05/asma-adalah-penyakit-peradangan-kronis.html' title='You Can Control Your Asthma'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ADuj1gFNoRs/Tb8tvWeqiwI/AAAAAAAAALs/jTPSjOZm34A/s72-c/images%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-8259456747930039035</id><published>2011-04-06T12:18:00.008+08:00</published><updated>2011-04-06T12:40:15.516+08:00</updated><title type='text'>MEMERANGI RESISTENSI OBAT  :                                                                               No Action Today, No Cure Tomorrow</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EOksweQYvrU/TZvtczPGn2I/AAAAAAAAALk/bngQSOIWixY/s1600/drug%2Bresistance.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 263px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EOksweQYvrU/TZvtczPGn2I/AAAAAAAAALk/bngQSOIWixY/s320/drug%2Bresistance.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592324441356279650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Kesehatan Sedunia dirayakan setiap tanggal 7 April untuk menandai berdirinya WHO pada tahun 1948 dan mulai  sejak tahun 1950, Hari Kesehatan Sedunia mulai dirayakan setiap tahunnya. WHO memilih satu masalah kesehatan setiap tahunnya sebagai tema dan mengajak masyarakat seluruh dunia  untuk meningkatkan semangat, kepedulian,  komitmen dan gerak nyata dalam mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan secara optimal. Pada hari Kesehatan Sedunia diluncurkan program-program advokasi jangka panjang yang akan terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini WHO menetapkan tema  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Combat Drug Resistance&lt;/span&gt;” sedangkan Indonesia memilih tema “Gunakan Antibiotik Secara Tepat untuk Mencegah Kekebalan Kuman”. Tema ini dipilih karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun secara individu. Hal itu juga sejalan dengan salah satu tujuan kebijakan obat nasional yaitu penggunaan obat secara rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat antimikroba adalah obat  digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh  mikroorganisme, termasuk bakteri,  jamur, parasit dan virus.   Penemuan obat antimikroba adalah salah satu  dari kemajuan yang sangat penting dalam  sejarah kesehatan selama 70 tahun terakhir.  Antimikroba termasuk antibiotik,  obat kemoterapi, obat antijamur,  obat antiparasit dan obat antivirus. Sedangkan resistensi antimikroba (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antimicrobial resistance&lt;/span&gt;/AMR) adalah resistensi mikroorganisme pada obat antimikroba untuk yang sebelumnya sensitif. Organisme yang resisten ( bakteri, virus dan beberapa parasit) mampu menahan serangan obat-obatan antimikroba, sehingga pengobatan standar menjadi tidak efektif dan infeksi tetap berlanjut dan dapat menyebar kepada orang lain. AMR merupakan konsekuensi dari penggunaan, terutama penyalahgunaan obat-obatan antimikroba dan terjadi karena mutasi mikroorganisme atau terjadinya resistensi gen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan obat secara rasional (POR) yaitu pasien mendapatkan pengobatan sesuai  kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang tepat bagi kebutuhan individualnya untuk waktu yang cukup dan biaya yang terjangkau bagi diri dan komunitasnya. Jadi POR memiliki empat aspek yaitu pengobatan tepat, dosis tepat, lama penggunaan yang tepat serta biaya yang tepat.Penggunaan obat yang tidak rasional terjadi di seluruh dunia. Ditandai, penggunaan obat terlalu banyak/tidak sesuai dosis dan lama konsumsi tidak tepat, peresepan obat tidak sesuai  diagnosis serta pengobatan sendiri dengan obat yang seharusnya dengan resep dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai  dengan beberapa fakta yang tejadi di dunia saat ini :&lt;br /&gt;• Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten sering kali gagal merespon pengobatan yang konvensional dan menyebabkan penyakit yang berkepanjangan dan menyebabkan resiko kematian yang lebih besar.&lt;br /&gt;• Sekitar 440.000 kasus baru multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) muncul setiap tahun, menyebabkan setidaknya 150.000 kematian.&lt;br /&gt;• Resistensi terhadap obat antimalaria generasi lama seperti klorokuin dan sulfadoksin-pirimetamin tersebar luas di negara-negara dengan endemik malaria &lt;br /&gt;• Tingginya persentase dari infeksi yang didapat di rumah sakit (hospital-acquired infections) disebabkan oleh bakteri yang sangat resisten seperti methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).&lt;br /&gt;• Tidak tepat dan tidak rasionalnya penggunaan rasional obat antimikroba memberikan kondisi yang menguntungkan bagi mikroorganisme yang resistan untuk tetap tumbuh menyebar dan bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 50 persen obat-obatan diresepkan, diberikan atau dijual tidak semestinya. Akibatnya lebih dari 50 persen  pasien gagal mengkonsumsi obat secara tepat. Padahal, penggunaan obat berlebih, kurang atau tidak tepat akan berdampak buruk pada manusia dan menyia-nyiakan sumber daya. Lebih dari 50 persen negara di dunia tidak menerapkan kebijakan dasar untuk mempromosikan penggunaan obat secara rasional (POR). Di negara-negara berkembang, kurang dari 40 persen pasien di sektor publik dan 30 persen di sektor swasta diberikan perawatan sesuai panduan klinis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;AMR menjadi perhatian global&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten sering gagal untuk merespon pengobatan standar, mengakibatkan sakit yang berkepanjangan dan resiko kematian yang lebih besar. &lt;br /&gt;• AMR mengurangi efektivitas pengobatan karena pasien tetap menular, sehingga berpotensi menyebarkan mikroorganisme yang resisten tersebut kepada orang lain. &lt;br /&gt;• AMR mengancam kembali ke era pra-antibiotik.Banyak penyakit menular risiko menjadi tak terkendali dan bisa menyebabkan kegagalan untuk mencapai target PBB pada MDG’s tahun 2015 &lt;br /&gt;• Pencapaian kedokteran modern saat ini berada dalam risiko oleh AMR. Tanpa adanya antimikroba yang efektif untuk perawatan dan pencegahan infeksi, keberhasilan terapi sulit tercapai seperti transplantasi organ, kemoterapi kanker dan operasi besar &lt;br /&gt;• Bila infeksi yang terjadi  resisten terhadap obat lini pertama, terapi yang lebih mahal harus digunakan. Penyakit dan pengobatan dengan durasi lebih panjang, sering dirawat di rumah sakit, meningkatkan biaya kesehatan dan beban keuangan untuk keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt;• Pencapaian kedokteran modern berada dalam risiko oleh AMR. Tanpa antimikroba yang efektif untuk perawatan dan pencegahan infeksi, keberhasilan terapi seperti transplantasi organ, kemoterapi kanker dan operasi besar akan dikompromikan.&lt;br /&gt;• Pertumbuhan perdagangan global dan perjalanan ke antar negara dan benua memungkinkan penyebaran  mikroorganisme yang resisten dapat menyebar dengan cepat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tepat dan tidak rasionalnya penggunaan obat, memberikan kondisi yang menguntungkan bagi mikroorganisme yang resisten  untuk tetap berkembang dan menyebar. Misalnya, ketika pasien tidak meminum obat antimikroba seperti yang ditentukan atau ketika obat antimikroba berkualitas buruk yang digunakan, maka mikroorganisme yang resisten tetap dapat berkembang dan menyebar. Faktor-faktor yang mendasari terjadinya AMR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tidak komitmennya  kebijakan nasional untuk merespon secara komprehensif, terkoordinasi, akuntabilitas serta kurang melibatkan masyarakat&lt;br /&gt;• Pengawasan dan sistem pemantauan yang lemah atau bahkan tidak ada&lt;br /&gt;• Sistem yang tidak memadai untuk menjamin kualitas obat yang beredar&lt;br /&gt;• Tidak tepat dan tidak rasional penggunaan obat-obatan, termasuk di peternakan&lt;br /&gt;• Kurangnya pencegahan infeksi dan penegendalian praktek kesehatan &lt;br /&gt;• Kurang cakapnya dalam penegakan diagnosis, obat-obatan dan vaksin serta penelitian yang kurang serta tidak ada  pengembangan produk baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya AMR merupakan masalah yang kompleks yang didorong oleh faktor saling berhubungan. Perhatian penuh pada multi-sektoral secara  global dan nasional sangat diperlukan untuk memerangi ancaman dari AMR.Oleh karena itu, WHO bergerak untuk menanggulangi AMR ini melalui :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kebijakan  dan  dukungan dalam pengawasan, bantuan teknis, sosialisasi pengetahuan dan kemitraan, termasuk melalui pencegahan penyakit dan program pengendalian&lt;br /&gt;• Menjaga kualitas obat, penyediaan dan pemanfaatan yang rasional&lt;br /&gt;• Pencegahan dan pengendalian infeksi;&lt;br /&gt;• Menjaga keselamatan/kesehatan pasien&lt;br /&gt;• Jaminan mutu laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan obat yang tidak rasional perlu diwaspadai dampaknya, khususnya pada generasi muda mendatang. Apalagi pemakaian antibiotika yang tidak berdasarkan ketentuan (petunjuk dokter) menyebabkan tidak efektifnya obat tersebut sehingga kemampuan membunuh kuman berkurang atau  resisten. Jika hal itu terjadi, generasi muda mendatang akan mengalami kerugian yang sangat besar. Akan banyak penyakit yang tidak dapat lagi disembuhkan akibat resistensi. Sedangkan untuk mengembangkan antibiotik yang baru diperlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Untuk itu perlu penggunaan obat secara rasional untuk mencegah masalah besar di masa yang akan datang. Langkah-langkah antisipasi untuk meningkatkan perilaku penggunaan obat secara rasional sudah saatnya dilakukan. Upaya itu meliputi  pendidikan masyarakat, pengawasan kepada petugas kesehatan dan  ketersediaan obat secara simultan yang dilakukan oleh pemerintah maupun pihak-pihak terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO telah memilih “Memerangi resistensi antimikroba” sebagai tema Hari Kesehatan Sedunia 2011. WHO mengharapkan agar hari kesehatan dunia ini sebagai momentum untuk aksi bersama dalam menghentikan penyebaran resistensi antimikroba. WHO menyerukan kepada semua pemangku kebijakan, termasuk para pembuat kebijakan dan perencana, masyarakat dan pasien, praktisi dan pemberi resep obat, apoteker dan industri farmasi, untuk bertindak dan turut serta untuk memerangi resistensi antimikroba.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-8259456747930039035?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/8259456747930039035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/04/memerangi-resistensi-obat-no-action.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8259456747930039035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8259456747930039035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/04/memerangi-resistensi-obat-no-action.html' title='MEMERANGI RESISTENSI OBAT  :                                                                               No Action Today, No Cure Tomorrow'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EOksweQYvrU/TZvtczPGn2I/AAAAAAAAALk/bngQSOIWixY/s72-c/drug%2Bresistance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-4810165212785383687</id><published>2011-03-24T12:20:00.001+08:00</published><updated>2011-03-25T17:32:58.153+08:00</updated><title type='text'>WORLD TB DAY 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-W75E8WJIfZQ/TYxhOd3Ss-I/AAAAAAAAALE/VCxcZaE1y6Y/s1600/images%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-W75E8WJIfZQ/TYxhOd3Ss-I/AAAAAAAAALE/VCxcZaE1y6Y/s320/images%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587948138822546402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB sedunia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(World TB Day)&lt;/span&gt; sebagai peringatan  ditemukan kuman TB oleh Robert Koch tepatnya pada 24 Maret 1882. Sejak tahun tersebut hingga saat ini, penyakit TB masih jauh dari penyelesaian, bahkan timbul masalah-masalah baru. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan resiko TB secara signifikan. Pada saat yang sama kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (&lt;span style="font-style:italic;"&gt; multidrug resistance&lt;/span&gt;= MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan ini pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB. &lt;a href="http://www.who.int/tb/publications/2010/factsheet_tb_2010_rev21feb11.pdf"&gt;Laporan WHO &lt;/a&gt;tahun 2009 menunjukan bahwa terdapat 9,4 juta kasus TB baru (3,3 juta pada wanita dan 1,1 juta dgn HIV). Terdapat 1.7 juta orang meninggal (380.000 pada wanita dan 380 000 dengan HIV). Hal ini setara dengan sekitar 5000 orang meninggal oleh karena TB per tahun atau sekitar 200 kematian per jam. Estimasi angka insiden secara global tahun 2009, terdapat 137 kasus per 100.000 penduduk sedangkan pada tahun 2004 terdapat 142 kasus per 100.000 penduduk. Memang menunjukan penurunan tetapi penurunan tersebut masih terlalu lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Januari 2006 pada  Forum Ekonomi sedunia di Swiss dicanangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.stoptb.org/global/plan/"&gt;The Global Plan to Stop TB 2006-2015&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; dimana dilakukan upaya dan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015 yaitu mampu menurunkan insiden TB, kemudahan akses pelayanan TB dan mengobati semua penderita TB sehingga diharapkan 14 juta orang akan terselamatkan, 50 juta penderita TB terobati, sekitar satu juta penderita terobati dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Multi Drug Resistance&lt;/span&gt; (MDR), penemuan obat TB yang baru, vaksin TB terbaru di tahun 2015 serta test diagnostik yang cepat dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan hari TB sedunia pada tahun 2011 ini merupakan kampanye tahun kedua  dengan tema &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;On the move against tuberculosis: Transforming the fight towards elimination&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kampanye tahun ini menantang kita untuk melihat perjuangan melawan TB dengan cara yang sama sekali berbeda, bahwa setiap langkah harus merupakan langkah menuju pemberantasan TB. Kampanye ini terinspirasi oleh tujuan ambisius dan target dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Global Plan to Stop TB 2011-2015:  Transforming the fight towards elimination&lt;/span&gt; , yang diluncurkan oleh Stop TB Partnership pada bulan Oktober 2010. Rencana baru ini untuk pertama kalinya, mengidentifikasi semua penelitian mengenai tes diagnosis TB secara cepat, regimen pengobatan  yang lebih cepat dan vaksin yang efektif, termasuk bagaimana memodernisasi laboratorium diagnostik dan mengadopsi tes TB revolusioner yang baru-baru ini telah dikembangkan.&lt;br /&gt;Selama ini pengobatan TB masih menunjukan hasil yang belum memuaskan sehingga harus terus meningkatkan usaha dan mencari cara-cara baru dan inovatif untuk menghentikan TB jika ingin mencapai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.who.int/topics/millennium_development_goals/en/"&gt;Millenium Development Goal (MDGs)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; tahun 2015. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye ini difokuskan  pada individu di seluruh dunia yang telah menemukan cara baru untuk baru menghentikan TB dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. &lt;br /&gt;• Penelitian yang ditujukan untuk diagnostik, obat-obatan atau vaksin terbaru&lt;br /&gt;• Perawatan TB yang lebih efektif dan efisien&lt;br /&gt;• Pendekatan baru yang membantu orang untuk mendapatkan akses diagnosis dan pengobatan TB&lt;br /&gt;• Kemitraan dalam bekerja sama memerangi TB&lt;br /&gt;• Kemajuan dalam perawatan TB dan mengintegrasikan ke dalam sistem kesehatan&lt;br /&gt;• Pendekatan baru untuk mendapatkan dukungan dari anggota masyarakat untuk orang yang terkena TB&lt;br /&gt;• Cara inovatif untuk meningkatkan kesadaran tentang TB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang telah dikembangkan oleh WHO dalam penanggulangan TB adalah DOTS (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Directly Observed Treatment Short-course&lt;/span&gt;)  yang sampai saat ini secara ekonomi paling efektif. Di Indonesia dilakukan suatu studi cost benefit penerapan strategi DOTS dan didapatkan hasil setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan penderita dengan prioritas pada penderita TB yang menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian akan menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan penderita merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye ini akan berfokus sekali lagi pada individu-individu di seluruh dunia yang telah menemukan cara baru untuk menghentikan TB dan dapat berfungsi sebagai inspirasi bagi orang lain. Idenya adalah untuk mengenali orang-orang yang telah memperkenalkan berbagai inovasi dalam berbagai pengaturan. Merupakan suatu kebutuhan akan suatu cara baru dalam aksi penanggulangan TB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-4810165212785383687?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/4810165212785383687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/03/world-tb-day-2011.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/4810165212785383687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/4810165212785383687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/03/world-tb-day-2011.html' title='WORLD TB DAY 2011'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-W75E8WJIfZQ/TYxhOd3Ss-I/AAAAAAAAALE/VCxcZaE1y6Y/s72-c/images%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-2595560788433235113</id><published>2011-01-23T21:56:00.003+08:00</published><updated>2011-01-23T22:33:40.390+08:00</updated><title type='text'>Legionellosis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TTw7ka269bI/AAAAAAAAAKw/rUjOOjOLi1c/s1600/Legionella%2Bpneumophila%2B4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TTw7ka269bI/AAAAAAAAAKw/rUjOOjOLi1c/s320/Legionella%2Bpneumophila%2B4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565388736394098098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Legionellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman gram negatif, bakteri aerobik yang termasuk ke dalam genus Legionella. Lebih dari 90% kasus legionellosis disebabkan oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Legionella pneumophila&lt;/span&gt;, merupakan organisme akuatik yang bisa berada dimana saja, dapat tumbuh pada suhu antara 25 dan 45° C (77 dan 113° F), dengan suhu optimum sekitar 35 ° C (95 ° F). Terdapat dua bentuk dari Legionellosis yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penyakit Legionnaire, yang dikenal juga dengan Demam Legion yang menimbulkan penyakit  yang lebih parah sampai bisa terjadi suatu  pneumonia.&lt;br /&gt;2. Demam Pontiac, yang disebabkan oleh bakteri yang sama tetapi dengan keluhan penyakit yang lebih ringan, tanpa pneumonia dan menyerupai influenza akut biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama penyakit Legionnaire  berawal pada bulan Juli 1976 ketika terjadi suatu wabah pneumonia orang-orang yang menghadiri konvensi Legiun Amerika di Hotel Bellevue-Stratford di Philadelphia. Pada tanggal 18 Januari 1977 agen penyebab telah diidentifikasi yang sebelumya dikatakan sebagai bakteri yang tidak diketahui, kemudian diketahui bernama Legionella. Beberapa orang dapat terinfeksi dengan bakteri Legionella dan hanya memiliki gejala-gejala ringan atau tanpa sakit sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gejala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Legionnaire biasanya mulai terjadi 2- 14 hari setelah terpapar bakteri legionella. Hal ini sering dimulai dengan tanda-tanda dan gejala berikut: &lt;br /&gt;• Sakit kepala&lt;br /&gt;• Nyeri otot&lt;br /&gt;• Panas dingin&lt;br /&gt;• Demam yang mungkin 104 F (40°C) atau lebih tinggi&lt;br /&gt;Pada hari kedua atau ketiga :&lt;br /&gt;• Batuk, yang mungkin disertai dahak  dan terkadang darah&lt;br /&gt;• Sesak napas&lt;br /&gt;• Nyeri dada&lt;br /&gt;• Kelelahan&lt;br /&gt;• Kehilangan nafsu makan&lt;br /&gt;• Gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah dan diare&lt;br /&gt;• Kebingungan atau perubahan mental lainnya&lt;br /&gt;Walaupun penyakit Legionnaire terutama mengenai paru-paru, kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi pada luka dan di bagian lain dari tubuh, termasuk jantung. &lt;br /&gt;Suatu bentuk ringan dari Penyakit Legionnaire adalah demam Pontiac, dengan gejala demam, menggigil, sakit kepala dan nyeri otot. Demam Pontiac tidak menginfeksi paru-paru dan gejala biasanyaterjadi kurun waktu 2-5 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penyebab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bakteri &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Legionella pneumophila&lt;/span&gt; merupakan penyebab terhadap sebagian besar kasus penyakit Legionnaire. Di luar ruangan  bakteri Legionella bertahan hidup di tanah dan air, tetapi jarang menyebabkan infeksi. Dalam ruangan,  bakteri Legionella dapat berkembang biak pada semua jenis sistem pengelolaan air, kolam air panas, AC dan penyemprot air penyegar pada penjual makanan dan buah di suatu supermarket. &lt;br /&gt;Sekalipun mungkin penyakit Legionnaire terjadi pada sistem air/pendingin rumah tangga tetapi sebagian besar kejadian wabah terjadi pada gedung-gedung yang besar yang dengan kompleksnya sistem air yang ada membuat bakteri ini dengan mudah tumbuh dan menyebar.&lt;br /&gt;Bagaimana bakteri ini bisa menyebar?&lt;br /&gt;Kebanyakan orang terinfeksi ketika mereka menghirup tetesan air mikroskopis yang mengandung bakteri legionella. Ini mungkin berasal dari semproan air keran, tempat mandi atau pusaran air atau air yang tersebar melalui sistem ventilasi di sebuah gedung besar. &lt;br /&gt;Kejadian wabah yang terjadi sering dikaitkan dengan berbagai sumber, termasuk: &lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hot tubs and whirlpools&lt;/span&gt; pada kapal pesiar&lt;br /&gt;• Menara pendingin dalam sistem pendingin udara/AC&lt;br /&gt;• Dekorasi pada air mancur&lt;br /&gt;• Kolam renang&lt;br /&gt;• Peralatan terapi fisik &lt;br /&gt;• Sistem pengelolaan air sistem pada hotel, rumah sakit dan rumah jompo&lt;br /&gt;Para ilmuwan tidak yakin berapa banyak paparan bakteri diperlukan untuk menyebabkan penyakit, tetapi pada beberapa orang, infeksi berkembang setelah menghirup tetesan yang terkontaminasi hanya dalam beberapa menit. Tidak seperti kebanyakan bakteri yang tersebar dalam radius kecil, bakteri legionella mungkin mampu melakukan perjalanan sejauh empat mil melalui udara. &lt;br /&gt;Meskipun bakteri legionella terutama menyebar melalui tetesan air aerosol, infeksi dapat ditularkan dengan cara lain, termasuk: &lt;br /&gt;• Aspirasi. Hal ini terjadi ketika cairan secara tidak sengaja masuk ke dalam paru-paru, biasanya terjadi saat batuk atau tersedak saat minum. Jika aspirat mengandung bakteri legionella, akan dapat berkembang menjadi penyakit Legionnaire.&lt;br /&gt;• Tanah. Beberapa orang terjangkit penyakit Legionnaire setelah bekerja di kebun atau pot dengan tanah yang terkontaminasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Faktor risiko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri legionella akan menjadi sakit. Ada beberapa faktor resiko : &lt;br /&gt;• Merokok. Kebiasaan merokok akan merusak paru-paru dan lebih rentan terhadap segala jenis infeksi paru.&lt;br /&gt;• Memiliki sistem kekebalan yang lemah sebagai akibat dari HIV / AIDS atau obat tertentu terutama kortikosteroid dan obat-obatan  untuk mencegah penolakan organ setelah transplantasi.&lt;br /&gt;• Memiliki penyakit paru kronis seperti emfisema atau kondisi lain yang serius seperti diabetes, penyakit ginjal atau kanker.&lt;br /&gt;• Usia 65 tahun atau lebih&lt;br /&gt;• Bekerja di ruang lingkup dan pemeliharaan sistem pendingin udara/AC&lt;br /&gt;Penyakit Legionnaire terjadi secara sporadis dan menjadi masalah lokal di rumah sakit dan rumah jompo, di mana kuman dapat menyebar dengan mudah dan orang-orang yang rentan terhadap infeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komplikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi penyakit Legionnaire dapat mengancam jiwa: &lt;br /&gt;• Kegagalan pernapasan. Hal ini terjadi ketika paru-paru tidak lagi mampu memberikan tubuh oksigen yang cukup atau tidak dapat mengeluarkan karbon dioksida  dari darah.&lt;br /&gt;• Septic shock. Hal ini terjadi ketika tiba-tiba terjadi penurunan tekanan darah yang mengurangi aliran darah ke organ vital, terutama ginjal dan otak. Jantung mencoba untuk mengkompensasi dengan meningkatkan volume darah yang dipompa, tapi beban kerja tambahan akhirnya melemahkan jantung dan mengurangi aliran darah lebih lanjut&lt;br /&gt;• Gagal ginjal akut. Akibat hilangnya kemampuan ginjal secara mendadak untuk melakukan fungsi utama mereka yaitu menyaring bahan beracun dari darah. &lt;br /&gt;Bila tidak diobati secara efektif dan segera, penyakit Legionnaire mungkin akan menjadi fatal, terutama jika sistem kekebalan tubuh dilemahkan oleh penyakit atau obat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemeriksaan dan Diagnosis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Legionnaire ini mirip dengan jenis pneumonia lainnya. Untuk membantu mengidentifikasi keberadaan bakteri legionella secara cepat, dapat dilakukan pemeriksaan urine untuk mendeteksi antigen legionella, suatu zat asing yang dapat memicu respon sistem kekebalan tubuh. Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : &lt;br /&gt;• Pemeriksaan darah&lt;br /&gt;• Pemeriksaan radiologi dada, yang memang tidak mengkonfirmasi penyakit Legionnaire  tetapi dapat menunjukkan tingkat infeksi pada paru&lt;br /&gt;• Pemeriksaan pada sampel dahak atau jaringan paru&lt;br /&gt;• CT scan otak atau pungsi tulang belakang jika mengalami gejala neurologis seperti kejang dan penurunan kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengobatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Legionnaire diobati dengan antibiotika golongan pernafasan kuinolon (levofloxacin, moksifloksasin, gemifloxacin) atau bisa juga antibiotika golongan macrolide (azithromycin, clarithromycin, roxithromycin). Antibiotika yang sering digunakan adalah levofloksasin dan azitromisin. Macrolide digunakan pada semua kelompok umur sedangkan tetrasiklin digunakan untuk anak-anak di atas usia 12 dan kuinolon di atas usia 18 tahun. Rifampicin dapat digunakan dalam kombinasi dengan kuinolon atau macrolide. &lt;br /&gt; Tingkat kematian akan menjadi kurang dari 5% jika terapi dimulai dengan cepat. Keterlambatan dalam memberikan antibiotika yang sesuai akan beresiko kematian. Semakin cepat terapi dimulai, semakin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi serius atau kematian. Sedangkan demam Pontiac akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan dan tidak menyebabkan gejala-gejala sisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prognosis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal Infection Control and Hospital Epidemiology&lt;/span&gt;, pneumonia Legionella yang di dapat di rumah sakit memiliki tingkat kematian sebesar 28% dan sumber utama infeksi pada kasus tersebut adalah sistem distribusi air minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencegahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wabah penyakit Legionnaire dapat dicegah, tapi itu memerlukan pembersihan dan disinfeksi secara cermat  pada sistem pegolahan air, kolam renang dan spa. Tidak merokok adalah hal yang paling penting yang dapat lakukan untuk menurunkan resiko infeksi. Merokok meningkatkan kemungkinan berkembangnya parahnya penyakit Legionnaire jika telah terinfeksi bakteri legionella. &lt;br /&gt;Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar 40% sampai 60% dari menara pendingin yang diuji mengandung Legionella. Sebuah penelitian terbaru memberikan bukti bahwa Legionella pneumophila sebagai agen penyebab, dapat melakukan perjalanan udara minimal 6 km dari sumbernya. Suatu tim ilmuwan dari Francis meneliti epidemi penyakit legionnaire yang berlangsung di Pas-de-Calais di utara Perancis pada 2003-2004. Terapat 86 kasus dikonfirmasikan selama wabah, 18 diantaranya meninggal. Sumber infeksi diidentifikasi pada menara pendingin di petrokimia tanaman dan analisis mereka pada yang terkena wabah  bahwa beberapa orang yang terinfeksi, hidup sejauh 6-7 km dari pabrik. Sebuah studi kasus penyakit legionnaire pada bulan Mei 2005 di Sarpsborg, Norwegia menyimpulkan bahwa kecepatan udara yang tinggi, aliran udara besar dan kelembaban udara yang tinggi telah berkontribusi terhadap penyebaran luas Legionella sp. hingga mencapai lebih dari 10 km. Pada tahun 2010 sebuah studi di Inggris oleh Health Protection Agency melaporkan bahwa 20%  kasus dapat disebabkan oleh air wiper kaca depan yang terinfeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kejadian Wabah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Philadelphia, Amerika Serikat, 1976&lt;br /&gt;2. United Kingdom, 1985&lt;br /&gt;3. Belanda, 1999&lt;br /&gt;4. Melbourne, Australia, 2000&lt;br /&gt;5. Spanyol, 2001&lt;br /&gt;6. United Kingdom, 2002&lt;br /&gt;7. Norwegia, 2005&lt;br /&gt;8. South Wales, 2010&lt;br /&gt;9. Amerika Serikat, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Legionnaire's disease, available from &lt;br /&gt;http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000616.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Legionnaires' Disease  available from http://www.scienceclarified.com/Io-Ma/Legionnaires-Disease.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Legionnaires disease link to lack of windscreen wash, available from http://www.physorg.com/news195847365.html.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. "What is Legionnaires' disease?"  available from http://www.relianceworldwide.com/site/fs_main_home.htm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Legionnaires' disease, Mayo Clinic, available from http://www.mayoclinic.com/health/legionnaires-disease/DS00853&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. European Working Group for ''Legionella' Infections" available from http://www.ewgli.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Infection Control and Hospital Epidemiology, July 2007, Vol. 28, No. 7, "Role of Environmental Surveillance in Determining the Risk of Hospital-Acquired Legionellosis: A National Surveillance Study With Clinical Correlations" (http://www.legionella.org/EnvironSurv-Legionella_Stout_et_al-ICHE.pdf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. World Health Organization 2007. Legionella and the prevention of legionellosis. Geneva, Switzerland: WHO. &lt;br /&gt;Available from http://www.who.int/water_sanitation_health/emerging/legionella.pdf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-2595560788433235113?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/2595560788433235113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/01/legionellosis.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2595560788433235113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2595560788433235113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/01/legionellosis.html' title='Legionellosis'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TTw7ka269bI/AAAAAAAAAKw/rUjOOjOLi1c/s72-c/Legionella%2Bpneumophila%2B4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-3319976105988016630</id><published>2011-01-11T04:39:00.002+08:00</published><updated>2011-01-11T05:15:57.400+08:00</updated><title type='text'>VITAMIN D MEMPERCEPAT PENGOBATAN TB</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TSt2wlJZfsI/AAAAAAAAAKo/vSjlEslMgkc/s1600/VIT%2Bd%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TSt2wlJZfsI/AAAAAAAAAKo/vSjlEslMgkc/s320/VIT%2Bd%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560668741896339138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa vitamin D dapat mempercepat pengobatan antibiotika tuberkulosis (TB). Hal ini telah dipublikasikan oleh Dr Adrian Martineau dkk dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Centre for Health Sciences Barts dan The London School of Medicine and Dentistry &lt;/span&gt;yang didanai oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;British Lung Foundation&lt;/span&gt; pada &lt;a href="http://www.thelancet.com"&gt;Journal Lancet&lt;/a&gt; tanggal 6 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian tersebut terdapat 146 pasien dengan TB BTA positif yang masih sensitif terhadap obat TB. Mereka direkrut dari 10 pusat kesehatan di kota London dan secara acak diberikan empat dosis oral 2,5 mg vitamin D di awal pengobatan, 14,28 dan 42 hari setelah memulai pengobatan atau plasebo. Semua peserta menerima pengobatan antibiotika standar untuk kondisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu rata-rata untuk pembersihan kuman TB dari paru pada peserta penelitian adalah 6 minggu untuk pasien yang memakai terapi standar saja dan 5 minggu untuk mereka yang memakai tambahan vitamin D, walaupun secara statistik perbedaan ini tidak cukup signifikan, namun, pasien yang memiliki jenis genetik tertentu yaitu reseptor vitamin D (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;TaqI and FokI polymorphisms  receptor&lt;/span&gt;) akan jauh lebih berespon terhadap pemberian vitamin D tersebut dan pembersihan bakteri TB  jauh lebih cepat jika mereka menerima vitamin D di samping pengobatan antibiotika standar. Pemberian empat dosis 2,5 mg vitamin D3 akan meningkat konsentrasi serum 25-hidroksivitamin D. Vitamin D tidak secara signifikan mempengaruhi waktu untuk konversi kutur dahak di seluruh populasi penelitian, tapi hal itu secara signifikan mempercepat konversi kultur dahak pada  peserta dengan yang memiliki tt genotipe dari reseptor TaqI polimorfisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;122/126 pasien pada trial (97 persen) memiliki tingkat kekurangan  vitamin D pada awal trial. Kekurangan vitamin D adalah masalah yang sangat umum pada pasien TB. Hal ini juga mungkin bahwa TB dapat menyebabkan kekurangan vitamin D dengan mekanisme yang tidak sepenuhnya dipahami saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitamin D terkenal karena dampaknya pada tulang  mencegah rakhitis dan osteomalacia tetapi juga memiliki dampak penting pada sistem kekebalan tubuh. Dosis tinggi vitamin D dulu digunakan untuk mengobati TB sebelum tersedianya obat antibiotika seperti saat ini, tapi uji klinis belum pernah dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi genetik pasien TB dapat mempengaruhi respon terhadap pemberian suplemen vitamin D. Temuan bahwa pasien yang memiliki reseptor jenis tertentu terhadap vitamin D dan berespon baik terhadap pemberian vitamin D, memberikan suatu wawasan bagaimana vitamin D dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan penelitian menunjukkan suatu harapan baru dalam mempercepat pengobatan antibiotika TB untuk pasien-pasien yang menerima vitamin D. Proses pengobatan saat ini sangat panjang dan bisa mahal sehingga setiap kemajuan yang ada di  bidang penelitian medis akan bisa sangat bermanfaat bagi penobatan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selvaraj P, Chandra G, Jawahar MS, Rani MV, Rajeshwari DN, Narayanan PR. Regulatory role of vitamin D receptor gene variants of Bsm I, Apa I, Taq I, and Fok I polymorphisms on macrophage phagocytosis and lymphoproliferative response to mycobacterium tuberculosis antigen in pulmonary tuberculosis. J Clin Immunol 2004; 24: 523-532&lt;br /&gt;2. Martineau AR, Honecker FU, Wilkinson RJ, Griffiths CJ. Vitamin D in the treatment of pulmonary tuberculosis. J Steroid Biochem Mol Biol 2007; 103: 793-798&lt;br /&gt;3. Wejse C, Gomes VF, Rabna P, et al. Vitamin D as supplementary treatment for tuberculosis: a double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Am J Respir Crit Care Med 2009; 179: 843-850&lt;br /&gt;4. Martineau AR, Nanzer AM, Satkunam KR, et al. Influence of a single oral dose of vitamin D(2) on serum 25-hydroxyvitamin D concentrations in tuberculosis patients. Int J Tuberc Lung Dis 2009; 13: 119-125. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-3319976105988016630?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/3319976105988016630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/01/vitamin-d-mempercepat-pengobatan-tb.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3319976105988016630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3319976105988016630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2011/01/vitamin-d-mempercepat-pengobatan-tb.html' title='VITAMIN D MEMPERCEPAT PENGOBATAN TB'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TSt2wlJZfsI/AAAAAAAAAKo/vSjlEslMgkc/s72-c/VIT%2Bd%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-4817095408154862471</id><published>2010-12-29T06:22:00.000+08:00</published><updated>2010-12-29T06:35:15.765+08:00</updated><title type='text'>AMANKAH ROKOK ELEKTRONIK?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TRpl8xHbUZI/AAAAAAAAAKg/vOjbgY0UgvM/s1600/e-cigarettes%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 243px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TRpl8xHbUZI/AAAAAAAAAKg/vOjbgY0UgvM/s320/e-cigarettes%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555865184965972370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rokok elektronik atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Elecronic Nicotine Delivery Systems&lt;/span&gt; (ENDS) dipasarkan sebagai pengganti rokok dan diklaim tidak menimbulkan bau dan asap. Bentuknya seperti batang rokok biasa, tetapi alih-alih membakar daun tembakau, seperti produk rokok konvensional, ENDS membakar cairan menggunakan baterai dan uapnya langsung masuk ke paru-paru pemakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO pada September 2008 telah menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui dan tidak mendukung rokok elektronik dikonsumsi sebagai alat untuk berhenti merokok. Pada 6-7 Mei 2010 lalu, WHO kembali mengadakan pertemuan membahas mengenai peraturan terkait keselamatan ENDS dan menyatakan bahwa produk tersebut belum melalui pengujian yang cukup untuk menentukan apakah aman dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu studi penelitian dari University California merekomendasikan bahwa rokok elektronik   harus dilarang sampai  ada kejelasan mengenai keamanan penggunaannya.  Penelitian ini telah dipublikasikan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://http://tobaccocontrol.bmj.com"&gt;Tobacco Control Journal&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; yang dirilis pada tanggal 7 Desember 2010. Begitu        banyak kontroversi pada perangkat yang dioperasikan dengan baterai tersebut, mengandung nikotin, aroma buatan dan bahan kimia lainnya. Isu ini memanas saat US &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Food and Drug Administration&lt;/span&gt; (FDA) meneliti lima distributor rokok elektronik dan mendapatkan adanya kelemahan dalam pembuatannya di pabrik serta kekeliruan dalam klaim  bahwa produk ini bisa membantu untuk berhenti merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini menemukan adanya kelemahan dalam produk rokok elektronik dan mengenai klaim kesehatannya. Para peneliti mengevaluasi enam merek rokok elektronik yang telah dibeli secara online dan menemukan bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hampir semua cairan yang mengandung nikotin bocor dari cartridge rokok elektronik tersebut &lt;br /&gt;• Perangkat sulit untuk diambil secara terpisah atau diambil bersamaan tanpa tersentuh nikotin di tangan pengguna. &lt;br /&gt;• Pelabelan pada cartridge kurang memuat informasi yang lengkap, kurangnya informasi isi cartridge, tidak ada  tanggal kadaluarsa, atau peringatan kesehatan. &lt;br /&gt;• Cartridge yang diklaim tidak memiliki isi nikotin tampak identik dengan yang diklaim memiliki kandungan nikotin yang tinggi, sehingga tidak dapat dibedakan saat dikeluarkan dari kemasan dan pembungkus. &lt;br /&gt;• Semua merek memiliki kandungan nikotin yang meragukan dengan kisaran 6 miligram sampai 24 mg. &lt;br /&gt;• Tidak adanya petunjuk yang jelas apakah berupa selebaran instruksi atau informasi dari situs produk tersebut mengenai instruksi pembuangan yang tepat dari cartridge yang telah digunakan. Cetakan dan materi internet sering mengandung informasi atau klaim yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Misalnya "Dalam waktu dua minggu kapasitas paru-paru anda akan meningkat 30 persen atau “Keriput di kulit anda akan tampak tersamar"  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rokok elektronik atau ENDS  tidak menghasilkan asap, mereka dipasarkan untuk perokok yang ingin merokok di area bebas asap rokok. Tetapi peneliti menyimpulkan bahwa produk ini tidak boleh dipasarkan setidaknya sampai bisa dibuktikan keamanan penggunaanya. Sehingga disimpulkan, perlu adanya regulasi dan mempertimbangkan menarik produk rokok elektronik (ENDS) ini dari pasar sampai fitur desain, pengendalian pembuangan cartridge, kualitas dan isu-isu keselamatan telah tertangani dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa rokok elektronik yang telah beredar di beberapa kota adalah produk ilegal dan tidak aman. BPOM telah menerima laporan dari berbagai wilayah antara lain Makasar, Semarang, Lampung, dan Palembang, mengenai beredarnya produk ilegal tersebut. Terkait dengan itu BPOM telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk penertiban. Begitu pula rekomendasi dari organisasi profesi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) melalui konperensi pers nya tanggal 27 Oktober 2010 menyampaikan bahwa rokok elektronik tidak dianjurkan dipakai untuk mengganti rokok yang biasa dan rokok elektronik belum terbukti aman untuk pemakainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu produk tersebut yang bernama Rokok Elektrik Surabaya memasarkan dua jenis rokok, yakni berwarna hitam dan hijau. Rokok warna hitam dijual seharga Rp 190 ribu dan warna hijau &lt;br /&gt;seharga Rp 160 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan rokok itu mengklaim telah mendapat sertifikat internasional dan nasional. Namun hal itu dibantah keras oleh BPOM. Produk ini belum didaftarkan di Indonesia. Di banyak negara rokok ini juga beredar secara ilegal. Tidak ada negara yang setuju penggunaan rokok elektronik. China sebagai penemu awal rokok ini, yaitu tahun 2003, selanjutnya justru melarang keberadaan rokok ini sendiri karena dianggap membahayakan kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. American Thoracic Society : US District Court Rules on E-Cigarette, available from &lt;a href="http://www.thoracic.org/advocacy/washington-letter/archive/2010/december-10-2010.php"&gt;http://www.thoracic.org/advocacy/washington-letter/archive/2010/december-10-2010.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. American Lung Association : American Lung Association Joins Public Health Advocates to Urge FDA to Pull E-cigarettes from Marketplace, available from &lt;a href="http://www.lungusa.org/press-room/press-releases/e-cigarettes-action.html"&gt;http://www.lungusa.org/press-room/press-releases/e-cigarettes-action.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia : “Ends” Produk Ilegal Dan Berbahaya Bagi Kesehatan available from &lt;a href="http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1165-ends-produk-ilegal-dan-berbahaya-bagi-kesehatan.html"&gt;http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1165-ends-produk-ilegal-dan-berbahaya-bagi-kesehatan.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. Kompas Health : Rokok Elektronik Dilarang Beredar available from &lt;a href="http://health.kompas.com/read/2010/08/13/15232629/Rokok.Elektronik.Dilarang.Beredar"&gt;http://health.kompas.com/read/2010/08/13/15232629/Rokok.Elektronik.Dilarang.Beredar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia : Konperensi Pers PDPI available from &lt;a href="http://%20www.klikpdpi.com"&gt;http:// www.klikpdpi.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. World Health Organization : Tobacco-free initiative available from &lt;a href="http://www.emro.who.int/rc57/media/pdf/EMRC57INF02en.pdf"&gt;http://www.emro.who.int/rc57/media/pdf/EMRC57INF02en.pdf&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-4817095408154862471?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/4817095408154862471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/amankah-rokok-elektronik.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/4817095408154862471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/4817095408154862471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/amankah-rokok-elektronik.html' title='AMANKAH ROKOK ELEKTRONIK?'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TRpl8xHbUZI/AAAAAAAAAKg/vOjbgY0UgvM/s72-c/e-cigarettes%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-2656149059484536584</id><published>2010-12-15T13:14:00.003+08:00</published><updated>2010-12-15T13:30:34.856+08:00</updated><title type='text'>Facebook : Pemicu Eksaserbasi Asma?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQhRhlthH0I/AAAAAAAAAKU/2B_n20AHyZQ/s1600/Facebook.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQhRhlthH0I/AAAAAAAAAKU/2B_n20AHyZQ/s320/Facebook.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550776178234695490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Stres psikologis merupakan salah satu penyebab yang diakui pada eksaserbasi asma. Pada pasien dengan penyakit asma yang sedang tertekan, terjadi suatu disregulasi parasimpatis atau simpatis, dengan prevalensi vagal, telah diakui menjadi suatu konsekuensi dari pemicu serangan asma.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Facebook adalah situs jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari, 2004. Jejaring sosial ini begitu populernya dan hingga saat ini memiliki lebih dari 500 juta pengguna aktif pada bulan Juli 2010, saat ini keberadaan facebook dalam dalam beberapa hal dapat menggantikan hubungan yang nyata, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Telah disajikan suatu kasus pada  oleh Gennaro D'Amato dkk dari Rumah Sakit A Carderelli di Naples,yang dipublikasikan pada  &lt;a href="http://www.thelancet.com/"&gt;Journal Lancet&lt;/a&gt;, volume 376, halaman 1740 tanggal 20 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kasus di Italia, dimana seorang pria berumur 18 tahun yang aktif menggunakan Facebook, tampaknya memicu terjadinya serangan eksaserbasi asma. Gejala asma yang dialami selama ini telah dikendalikan dengan kortikosteroid inhalasi (flutikason 250 mg dua kali sehari) dan montelukast 10 mg sekali sehari, Pasien meminum obatnya sepanjang tahun kecuali pada bulan-bulan musim panas, ketika paparan debu tungau  rumah (pasien peka terhadap alergen ini), biasanya rendah di Italia. Namun, ternyata gejala asma memburuk dalam bulan-bulan terakhir, dimana pasien harus meminum obat beberapa kali, termasuk di musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu pasien ini khawatir mengetahui bahwa anaknya tersebut telah diputuskan oleh pacarnya, meninggalkan dia dalam keadaan depresi. Gadis itu telah menghapus anaknya dari dari daftar  temannya dan kemudian gadis ini berteman dengan banyak laki-laki muda yang baru. Dengan menggunakan nama yang berbeda/julukan baru di Facebook, pasien ini berhasil menjadi teman gadis ini sekali lagi dan akhirnya dapat melihat fotonya di profil Facebook gadis tersebut. Setiap kali pasien ini mengakses profil gadis tersebut, pasien ini mengalami sesak nafas. Kejadian ini terus terjadi berulang tiap kali mengakses profil facebook gadis tersebut&lt;br /&gt;Akhirnya penderita disarankan untuk mengukur aliran ekspirasi puncak (PEF/&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Peak Expiratory Flow&lt;/span&gt;) sebelum dan setelah login internet dan memang saat mengakses profil gadis tersebut di facebook, nilai-nilai menjadi berkurang dengan variabilitas lebih dari 20%. Bekerjasama dengan seorang psikiater, akhirnya pasien memutuskan untuk tidak untuk login lagi ke Facebook dan serangan asmanyapun kemudian berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan temporal dengan onset gejala menunjukkan bahwa login dapat menjadi pemicu dari eksaserbasi asma, di mana hiperventilasi mungkin memainkan peran kunci. Faktor lain seperti faktor lingkungan dan infeksi telah disingkirkan dengan penelusuran riwayat asma secara menyeluruh dan dengan pemeriksaan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ini menunjukkan bahwa Facebook, dan jaringan sosial secara umumnya, dapat menjadi sumber baru stres psikologis, yang merupakan faktor pemicu pada eksaserbasi asma pada individu yang tengah tertekan. Mengingat tingginya prevalensi asma, terutama di kalangan orang-orang muda, pemicu ini perlu dipertimbangkan dalam penilaian eksaserbasi asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. Ritz T, Kullowatz A, Goldman MD, et al. Airway response to emotional stimuli in asthma: the role of the cholinergic pathway. J Appl Physiol 2010; 108: 1542-1549. &lt;br /&gt;2. Loerbroks A, Apfelbacher CJ, Thayer JF, Debling D, Sturmer T. Neuroticism, extraversion, stressful life events and asthma:a cohort study of middle-aged adults. Allergy 2009; 64: 1444-1450. &lt;br /&gt;3. Miller BD, Wood BL, Lim JH, Ballow M, Hsu CY. Depressed children with asthma evidence increased airway resistance: “vagal bias” as a mechanism?. J Allergy Clin Immunol 2009; 124: 66-73. &lt;br /&gt;4. Zuckerberg M. 500 million stories. http://blog.facebook.com/blog.php?post=409753352130. (accessed Nov 5, 2010).&lt;br /&gt;5. Ritz T, Kullowatz A, Bobb C, et al. Psychological triggers and hyperventilation symptoms in asthma. Ann Allergy Asthma Immunol 2008; 100: 426-432. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-2656149059484536584?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/2656149059484536584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/facebook-pemicu-eksaserbasi-asma.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2656149059484536584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2656149059484536584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/facebook-pemicu-eksaserbasi-asma.html' title='Facebook : Pemicu Eksaserbasi Asma?'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQhRhlthH0I/AAAAAAAAAKU/2B_n20AHyZQ/s72-c/Facebook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-2753924384755120584</id><published>2010-12-09T07:36:00.003+08:00</published><updated>2010-12-09T08:01:05.622+08:00</updated><title type='text'>Rapid Test TB Terbaru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQAbFuV4qbI/AAAAAAAAAKM/3dssGrdOozM/s1600/BTA%2B%252B%2B6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 127px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQAbFuV4qbI/AAAAAAAAAKM/3dssGrdOozM/s320/BTA%2B%252B%2B6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548464526073571762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;WHO mendukung suatu test terbaru yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rapid test&lt;/span&gt; untuk tuberkulosis (TB), sangat relevan dipergunakan di  negara-negara kasus TB yang banyak. Tes ini bisa merevolusi perawatan dan pengawasan TB dengan memberikan diagnosis yang akurat bagi banyak pasien dalam waktu sekitar 100 menit, dibandingkan dengan tes saat ini yang dapat memakan waktu hingga tiga bulan untuk mendapatkan hasinya. Tes baru ini merupakan suatu tonggak utama untuk diagnosis dan perawatan TB secara global. Merupakan harapan baru bagi jutaan orang yang beresiko terkena penyakit TB dan resistensi obat TB. Telah ada bukti ilmiahnya dan dikaji kebijakan-kebijakan yang ada dan sekarang siap implementasinya di negara-negara dengan kasus TB yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rapid test&lt;/span&gt; ini  merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;automated NAAT (nucleic acid amplification test)&lt;/span&gt; melalui pengujian selama 18 bulan penilaian yang sangat membantu dalam diagnosis dini TB, serta TB-MDR dan TB dengan infeksi HIV, yang selama ini lebih sulit didiagnosis. Sampai saat ini bukti menunjukkan bahwa pelaksanaan tes ini dapat menghasilkan peningkatan tiga kali lipat dalam diagnosis pasien dengan TB yang resistan terhadap obat (TB-MDR) dan dua kali lipat pada jumlah kasus TB dengan HIV  di daerah dengan angka kejadian TB dan HIV yang tinggi. Selama ini banyak negara masih mengandalkan terutama pada pemeriksaan mikroskopis BTA, sebuah metode diagnostik yang dikembangkan lebih dari satu abad yang lalu. Pemeriksaan ini  menggabungkan teknologi DNA modern yang dapat digunakan di luar laboratorium konvensional. Test ini sepenuhnya otomatis oleh karena itu mudah dan aman untuk digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO sekarang menyerukan agar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;automated NAAT&lt;/span&gt;  diluncurkan sebagai bagian dari rencana nasional untuk perawatan dan pengawasan TB dan  TB-MDR. Kebijakan dan pedoman operasional juga sedang diterbitkan berdasarkan temuan dari serangkaian ulasan dari para pakar dan konsultasi secara global yang digelar pekan lalu di Jenewa. Konsultasi ini dihadiri oleh lebih dari seratus wakil dari program nasional, lembaga bantuan pembangunan dan mitra internasional. Keterjangkauan rapid test ini telah menjadi perhatian utama dalam konsultasi tersebut. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Co-developer FIND (the Foundation for Innovative and New Diagnostics) &lt;/span&gt;nenyampaikan bahwa telah  melakukan negosiasi dengan produsen, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cepheid&lt;/span&gt;, untuk bisa menurunkan harga sebanyak 75%  untuk negara-negara yang paling terpengaruh oleh TB, dibandingkan dengan harga pasar saat ini. Harga tersebut akan diberikan kepada 116 negara dengan pendapatan menengah kebawah dengan  endemis TB, dengan tambahan pengurangan harga setelah ada permintaan volume yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ada komitmen yang kuat untuk menghilangkan hambatan, termasuk hambatan finansial, yang bisa mencegah suksesnya teknologi baru ini dan untuk pertama kalinya dalam pengendalian TB dimungkinkan akses ke negara dengan pendapatan rendah, menengah dan tinggi secara bersamaan. Teknologi juga memungkinkan suatu pengujian terhadap penyakit lainnya yang selanjutnya akan meningkatkan suatu efisiensi.&lt;br /&gt;WHO juga merekomendasi agar negara-negara memasukan tes ini dalam program nasional mereka. Ini termasuk pengujian protokol (atau algoritma) untuk mengoptimalkan penggunaan dan manfaat dari teknologi baru pada orang-orang yang paling membutuhkannya.Meskipun telah terjadi peningkatan besar dalam perawatan dan pengawasan, TB telah membunuh sekitar 1,7 juta orang di tahun 2009 dan 9,4 juta orang telah terinfeksi TB tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pakah teknologi ini akan mampu menurunkan prevalensi TB di dunia?&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. International Union Againts Tuberculosis and Lung Disease : Tuberculosis, available from &lt;a href="http://www.theunion.org/tuberculosis/tuberculosis.html"&gt;http://www.theunion.org/tuberculosis/tuberculosis.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Stop TB Partnership : The Global Plan to Stop TB, available from http://&lt;a href="http://www.stoptb.org/global/plan/main/part2.asp"&gt;www.stoptb.org/global/plan/main/part2.asp&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. TB Alliance : The Treat of TB available from http://&lt;a href="http://www.tballiance.org/why/tb-threat.php"&gt;www.tballiance.org/why/tb-threat.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. World Health Organization : WHO endorses new rapid tuberculosis test, available from http://&lt;a href="http://www.who.int"&gt;www.who.int&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-2753924384755120584?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/2753924384755120584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/rapid-test-tb-terbaru.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2753924384755120584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/2753924384755120584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/12/rapid-test-tb-terbaru.html' title='Rapid Test TB Terbaru'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TQAbFuV4qbI/AAAAAAAAAKM/3dssGrdOozM/s72-c/BTA%2B%252B%2B6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-3823898651329783617</id><published>2010-10-14T05:35:00.003+08:00</published><updated>2010-10-15T08:36:58.544+08:00</updated><title type='text'>WORLD SPIROMETRY DAY 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYnXcJ1zhI/AAAAAAAAAKE/wLQviqLzaV8/s1600/spirometry-day.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 90px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYnXcJ1zhI/AAAAAAAAAKE/wLQviqLzaV8/s320/spirometry-day.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527648876291804690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tujuh persen dari semua kematian di seluruh dunia setiap tahun disebabkan oleh penyakit paru dan pernafasan yang sesungguhnya dapat dicegah. Jutaan orang sedang menjalani usia tua yang menyakitkan karena penyakit paru dan pernafasan yang seharusnya dapat diobati jika saja sudah terdeteksi secara dini melalui pemeriksaan yang tepat yaitu spirometri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirometri adalah metode yang paling umum untuk pengujian fungsi paru. Pemeriksaan ini sederhana, cepat dan non-invasif.  Pemeriksaan ini mengukur jumlah (volume) dan atau kecepatan  (flow) aliran udara yang  dihirup dan dihembuskan oleh paru.  Spirometri adalah alat yang penting dan sangat membantu dalam menilai kondisi seperti asma , pulmonary fibrosis,  kista dan mungkin yang paling penting Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) . Pengukuran digunakan dalam diagnosis rutin pasien dengan penyakit pernapasan dan saat ini semakin banyak digunakan oleh dokter. Tes spirometri dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut spirometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana dilakukan pemeriksaan Spirometri?  Jika anda,… &lt;br /&gt;1.	Perokok atau pernah merokok &lt;br /&gt;2.	Berusia lebih dari 40 tahun&lt;br /&gt;3.	Batuk selama berbulan-bulan atau tahunan &lt;br /&gt;4.	Sering tersengal-sengal dalam beberapa tahun terakhir &lt;br /&gt;5.	Tidak dapat berjalan menaiki tangga tanpa mengalami sesak napas &lt;br /&gt;6.	Cenderung mengalami mengi dalam beberapa tahun terakhir &lt;br /&gt;7.	Tidak dapat melakukan latihan/olah raga sebagaimana mestinya &lt;br /&gt;8.	Mengalami batuk berdahak, walaupun tidak sedang flu/&lt;br /&gt;9.	Telah pernah menggunakan misalnya inhaler untuk suatu kasus penyakit paru &lt;br /&gt;10.	Memiliki kekhawatiran tentang kesehatan paru &lt;br /&gt;11.	Merasa seolah-olah tidak mendapatkan cukup udara &lt;br /&gt;12.	Mengalami nyeri saat bernafas dalam atau menghembuskan nafas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa Lung Foundation atau ELF adalah suatu suara publik dari Eropa Respiratory Society (ERS). Didirikan pada tahun 1990. ERS adalah sebuah organisasi kesehatan nirlaba internasional dengan lebih dari  10.000 anggota dari 100 negara yang dengan bidang ilmu pengetahuan dasar dan obat-obatan klinis. Ini adalah komunitas masyarakat terbesar di Eropa di bidangnya untuk menyebarkan informasi dari ERS kepada publik dan media dan untuk meningkatkan kesadaran tentang  kesehatan dan penyakit paru. European Respiratory Society (ERS) berusaha untuk meningkatkan kesadaran kesehatan paru dan meningkatkan pencegahan, manajemen dan pengobatan penyakit paru dan pernapasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun selama Kongres ERS tahunan, ELF menyelenggarakan acara pemeriksaan spirometri. Hal ini biasanya dilakukan di tempat-tempat umum, misalnya di stasiun kereta api atau di tenda-tenda. Peristiwa ini sesungguhnya memiliki keuntungan ganda. Di satu sisi, memiliki dampak pada kesehatan masyarakat, memungkinkan banyak orang yang belum pernah diperiksa sebelumnya memiliki kesempatan untuk dilakukan pemeriksaan. Di Berlin sekitar 20% orang yang diperiksa disarankan untuk mengunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di sisi lain, peristiwa ini bisa menjadi fokus perhatian khususnya pada kesehatan paru, memfasilitasi peningkatan kesadaran publik. Acara di Berlin diliput oleh saluran TV Nasional Jerman dan Media cetak terkemuka. Peristiwa ini menciptakan kesempatan untuk bisa menarik perhatian otoritas kesehatan, politisi dan pemangku kebijakan. Di Berlin, ELF mengundang Walikota New York. Michael Bloomberg untuk menghadiri acara tersebut.  Walikota mengunjungi tenda tempat pemerioksaan spirometri, melakukan pemeriksaan dan akhirnya memberikan konferensi pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini hanyalah salah satu dari sejumlah pemeriksaan yang diadakan di seluruh dunia sebagai bagian dari Year of the Lung 2010 dengan kampanye meningkatkan kesadaran tentang penyakit paru dan pemeriksaan fungsi paru. Pada Hari Spirometri Sedunia kita ingin menunjukkan kepada publik bagaimana mereka dapat dengan mudah mendapatkan kembali kesehatan paru mereka dengan meluangkan beberapa menit dari rutinitas harian mereka untuk melakukan pemeriksaan spirometri yang tidak menyakitkan dan sederhana, "kata Presiden Eropa Respiratory Society Profesor Marc Decramer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, diketahui bahwa  lebih dari 12.500 orang yang telah melakukan pemeriksaan, hampir 20% memiliki beberapa derajat obstruksi pada saluran napas, hampir 50% nya perokok dan 5% menderita asma. Panitia penyelenggara ini menyampaikan bahwa pemeriksaan spirometri  berguna untuk mendeteksi obstruksi saluran napas pada stadium awal/dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya perlu dipahami bersama bahwa penyelenggaraan acara ini tidak memerlukan biaya yang sedikit mulai dari tenaga medis dan pendukung, alat spirometer, biaya promosi dan sarana pendukung lainnya sehingga kemungkinan acara ini tidak bisa dilakukan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tetapi setidaknya mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi pemangku kebijakan serta politisi dan tenaga medis untuk bisa menyelenggarakan acara ini di tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-3823898651329783617?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/3823898651329783617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/10/world-spirometry-day-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3823898651329783617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3823898651329783617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/10/world-spirometry-day-2010.html' title='WORLD SPIROMETRY DAY 2010'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYnXcJ1zhI/AAAAAAAAAKE/wLQviqLzaV8/s72-c/spirometry-day.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-6584532970225196926</id><published>2010-10-14T05:27:00.002+08:00</published><updated>2010-10-14T05:31:44.613+08:00</updated><title type='text'>SPIROMETRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYkkT_ILrI/AAAAAAAAAJ8/F_wh9VhLu3o/s1600/spirometer+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 253px; height: 199px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYkkT_ILrI/AAAAAAAAAJ8/F_wh9VhLu3o/s320/spirometer+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527645798902804146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Spirometri adalah pengukuran volume dan aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru.  Saat ini spirometer dapat mengukur paru seperti volume tidal dan kapasitas paru seperti kapasitas total paru-paru. Pengujian fungsi paru sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Meski prinsif dasarnya tidak berubah, teknik-tekniknya menjadi makin rumit. Para ilmuwan telah dapat mengukur berbagai variable, yang teus meningkat jumlahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah awal mula konsep sudah ada sejak masa kekaisaran Romawi, tahun 129-200 M. Seorang dokter dan filsuf Yunani, Claudius Galen melakukan percobaan volumetric pernafasan pada manusia. Dia menyuruh seorang anak laki-laki bernafas melalui semacam balon dan menemukan setelah beberapa waktu, bahwa volume gas tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah eksperimen tersebut, tidak banyak diketahui mengenai fungsi paru hingga tahun 1600 an. Sekitar tahun 1691, Giovanni Alfonso Borelli mencoba menghirup cairan melalui tabung dan mengukur volumenya, Satu hal yang dilakukan dan masih dilakukan hingga saat ini adalah penutupan lubang hidung. Menutup lubang hidung sangat penting agar tidak ada udara yang lolos melalui hidung saat mengukur udara yang masuk dan keluar melalui mulut untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1700 an, J. Jurin adalah ilmuwan pertama yang merekam pengukuran volume udara yang absolut. Dia mengukur volume tidal sebanyak 650 ml dan ekspirasi minimal sebesar 3610 ml. Jurin melakukan eksperimennya dengan meniup ke dalam balon dan mengikuti prinsif Archimedes, dapat mengukur volume udara dalam balon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paruh pertama abad 18, Stephen Hales mengkonfirmasi temuan Jurin mengenai ekspirasi maksimal sebesar 3610 ml, mesti tidak tahu metode apa yang dipergunakan dalam melakukan pengukuran tersebut. Stephen Hales telah memberi kontribusi pada fisiologi pernafasan. Termasuk juga John Abernety seorang dokter dan guru anatomi, fisiologi dan patologi pada akhir 1700 an yang telah melakukan pengukuran kapasitas vital sebesar 3150 ml.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaan 1800 an, Sir Humphry Davy menggunakan gasometer  untuk mengukur berbagai volume dan kapasitas. Dia mengambil pengukurannya sendiri yang menghasilkan kapasitas vital sebesar 3110 ml, volume tidal 210 ml dan dengan menggunakan metode delusi hydrogen, volume residual sebesar 590-600 ml.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alat lain yang digunakan dalam perkembangan spirometri adalah pulmometer. Alat ini ini digunakan oleh E. Kentish dan Charles Turner Thackrah. Menurut  Cleeland dan Burt, alat ini adalah toples yang dibalikkan  di dalam air yang digunakan untuk mengukur volume ventilasi. Mesin ini tidak hanya mengukur volume-volume pernafasan tetapi juga kekuatan otot-otot ekspirasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah alat lain bernama ekspirator digunakan olh Karl Von Vierordt. Melalui percobaannya, dia mampu menghasilkan determinasi yang amat tepat dari parameter-parameter volume tertentu, termasuk volume residual dan kapasitas vital  yang masih digunakan pada spirometri modern saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1840, John Hutchinson seorang ahli bedah memulai pekerjaannya dengan berbagai spirometer. Dia menciptakan spirometer untuk mengukur kapasitas vital. Spirometer nya terdiri dari sebuah lonceng yang menampung udara yang dihembuskan dari paru-paru. Hutchinson telah merekam lebih dari 4000 orang dengan spirometer nya. Hal ini menunjukan Hutchinson mengetahui betul hubungan antara kapasitas vital dengan kesehatan pernafasan. Lebih lanjut Spirometer air Hutchinson masih digunakan saat ini dengan beberapa perubahan termasuk pengurangan massa lonceng dan penambahan alat grafis dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih 10 tahun kemudian, Wintrich mengembangkan sebuah spirometer yang lebih mudah digunakan, ia pun telah melakukan pengujian pada lebih dari 4000 orang dan mementukan tiga parameter yang menentukan kapasitas vital yaitu tinggi badan, berat badan dan usia.Pada tahun 1859, E. Smith mengembangkan spirometer portable. Tahun 1866, Salter menambahkan sebuah kimograf pada spirometer untuk mencatat waktu saat pengambilan volume udara. T,G Brodie adalah yang pertama menggunakan spirometer bellow wedge kering tahun 1902 yang merupakan pendahulu dari spirometer Fleisch yang digunakan saat ini. Sebagai tambahan pada tahun 1904, Tissot memperkenalkan spirometer rangkaian tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1920 an, H.W. Knipping dan Braurer memperkenalkan ergospirometeryang memungkinkan dilakukan pengujian performa, pengukuran tidak hanya bisa dilakukan saat istirahat. Metode-metode ergospirometri memiliki manfaat saat ini untuk riset, diagnosis, terapi rehabilitasi, latihan dan olah raga. Disiplin kedokteran khususnya kedokteran olah raga, pulmonologi, kardiologi, fisiologi, farmakologi klinis dan biokimia telah memanfaatkan ergospirometer dan mendapatkan banyak pengetahuan baru dari alat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pengukuran kapasitas paru sewaktu melakukan aktifitas fisik adalah terobosan besar dalam bidang ilmiah dan masih digunakan saat ini. Konsep tersebut memungkinkan untuk mengukur konsumsi oksigen dan pengeluaran energi sewaktu berolahraga dan mendapat banyak informasi mengenai tingkat kondisi dan kesehatan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dikutip dari berbagai sumber&lt;br /&gt;Memperingati “World Spirometry Day” 14 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-6584532970225196926?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/6584532970225196926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/10/spirometri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6584532970225196926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6584532970225196926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/10/spirometri.html' title='SPIROMETRI'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TLYkkT_ILrI/AAAAAAAAAJ8/F_wh9VhLu3o/s72-c/spirometer+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-8521479553407468500</id><published>2010-07-29T23:05:00.002+08:00</published><updated>2010-07-29T23:10:05.297+08:00</updated><title type='text'>Kesalahan Diagnosis Asma pada Orang dengan Obesitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TFGY8mTwJhI/AAAAAAAAAJs/08gXQBtwfW0/s1600/obesitas+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 116px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TFGY8mTwJhI/AAAAAAAAAJs/08gXQBtwfW0/s320/obesitas+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499344786839053842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dewasa dengan obesitas mungkin akan mengalami kesulitan saat bernapas sehingga sering salah didiagnosis sebagai asma. Ketika peneliti melihat faktor-faktor risiko yang menyebabkan kesalahan diagnosis, pengaruh obesitas belum menunjukan peranan yang jelas. Namun di antara pasien yang meminta perawatan di unit darurat karena masalah pernafasan pada setahun terakhir, orang dengan obesitas, 4 kali lebih sering salah didiagnosis sebagai asma dibandingkan orang dengan berat badan yang normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini telah dimuat pada jurnal CHEST, bulan Juni 2010, Vol 137 no 6 dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A Comparison of Obese and Nonobese People With Asthma Exploring an Asthma-Obesity Interaction&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://chestjournal.chestpubs.org/content/137/6/1316.abstract?sid=21fef794-9d81-4da3-88e0-c6aa03fc9ffd"&gt;http://chestjournal.chestpubs.org/content/137/6/1316.abstract?sid=21fef794-9d81-4da3-88e0-c6aa03fc9ffd&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;) Tidak bisa dipastikan alasan terjadinya kesalahan diagnosis atau resiko yang lebih tinggi terjadi di kalangan orang dewasa dengan obesitas yang memerlukan perawatan darurat. Menurut Dr Smita Pakhale dari Rumah Sakit Ottawa di Ontario, Kanada yang memimpin penelitian ini menyampaikan bahwa pemeriksaan spirometri sebagai tes standar fungsi paru, tidak sering digunakan dalam mendiagnosis asma. Asma harus didiagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fungsi paru. Hal ini mungkin menjadi faktor penyebab terjadinya beberapa kesalahan diagnosis tetapi itu hanya merupakan suatu spekulasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa dengan obesitas beresiko tinggi terhadap sejumlah masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gejala seperti  sesak napas dan nyeri dada. Pasien yang dikatakan memiliki penyakit asma setelah mendapat perawatan di ruang gawat darurat sering  memastikan atau menindaklanjuti dengan dokter yang merawat di sarana pelayanan kesehatan primer.Mereka ingin mendapatkan pemeriksaan tambahan atau evaluasi kembali untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari suatu gejala, bila ternyata tidak asma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan pada 496 orang yang didiagnosis asma oleh dokter (242 orang dengan obesitas dan 254 berat badan normal), 346 orang menderita asma dikonfirmasikan dengan pemeriksaan fungsi paru dan 150 orang didiagnosis asma diluar algoritme yang baku. Orang obesitas dengan asma secara bermakna lebih cenderung  memiliki riwayat hipertensi dan penyakit reflux gastroesophageal dan FEV1 yang lebih rendah dibandingkan dengan orang  berat badan normal dengan asma. Orang yang lebih tua, laki-laki dan FEV1 yang lebih tinggi lebih mungkin salah didiagnosa sebagai asma. Obesitas bukan predictor independent kesalahan diagnosis, namun ada interaksi antara obesitas dan kunjungan ke unit darurat karena gejala pernapasan. Odds rasio untuk terjadinya suatu kesalahan diagnosis asma bagi penderita obesitas dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal adalah 4,08 (95 % CI , 1,23-13,5 ) bagi mereka dengan kunjungan ke unit darurat dalam 12 bulan terakhir .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Dr Smita Pakhale dkk berkesimpulan bahwa orang obesitas dengan asma memiliki fungsi paru yang lebih rendah dan komorbiditas yang lebih dibandingkan dengan orang berat badan normal dengan asma. Orang dengan obesitas yang melakukan kunjungan ke unit darurat dengan gejala pernapasan lebih cenderung terjadi kesalahan diagnosis asma&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-8521479553407468500?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/8521479553407468500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/kesalahan-diagnosis-asma-pada-orang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8521479553407468500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8521479553407468500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/kesalahan-diagnosis-asma-pada-orang.html' title='Kesalahan Diagnosis Asma pada Orang dengan Obesitas'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TFGY8mTwJhI/AAAAAAAAAJs/08gXQBtwfW0/s72-c/obesitas+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-5047795522930483463</id><published>2010-07-17T07:46:00.004+08:00</published><updated>2010-07-17T07:56:05.447+08:00</updated><title type='text'>PARACETAMOL MENYEBABKAN ASMA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TEDwkz4sPLI/AAAAAAAAAJk/CJvleanxjS4/s1600/paracetamol.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TEDwkz4sPLI/AAAAAAAAAJk/CJvleanxjS4/s320/paracetamol.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494656060585950386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paparan terhadap parasetamol selama intrauterin, masa anak-anak, dan saat dewasa dapat meningkatkan resiko terjadinya asma. Hal ini diketahui dari studi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The International Study of Asthma and Allergies in Childhood &lt;/span&gt;(ISAAC) pada anak-anak dengan umur 6-7 tahun yang untuk menyelidiki hubungan antara penggunaani parasetamol dan asma. Penelitian ini telah dimuat pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Lancet Journal, volume 372, issue 9643&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; tanggal 20 September 2008 dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Association between paracetamol use in infancy and childhood, and risk of asthma, rhinoconjunctivitis, and eczema in children aged 6—7 years: analysis from Phase Three of the ISAAC programme &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2808%2961445-2/fulltext"&gt;http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2808%2961445-2/fulltext&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua atau wali anak usia 6-7 tahun diminta untuk menulis  kuesioner tentang gejala asma, rhinokonjungtivitis, eksim dan beberapa faktor risiko termasuk penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan anak dan frekuensi penggunaan parasetamol dalam 12 bulan terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 205.487 anak usia 6-7 tahun pada 73 pusat penelitian di 31 negara yang dilibatkan dalam penelitian ini. Menurut Prof Richard Beasley dkk, setelah melalui analisis multivariat, penggunaan parasetamol untuk demam pada tahun pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala asma saat berusia 6-7 tahun  Penggunaan parasetamol berhubungan dengan risiko gejala asma berat dengan resiko populasi yang timbul antara 22% dan 38%. Parasetamol yang digunakan, baik pada tahun pertama kehidupan dan pada anak usia 6-7 tahun, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala rhinokonjungtivitis dan eksim. Selanjutnya disampaikan pada penelitian ini bahwa penggunaan parasetamol mungkin menjadi faktor risiko terjadinya asma di masa kanak-kanak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-5047795522930483463?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/5047795522930483463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/paracetamol-menyebabkan-asma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5047795522930483463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5047795522930483463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/paracetamol-menyebabkan-asma.html' title='PARACETAMOL MENYEBABKAN ASMA?'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TEDwkz4sPLI/AAAAAAAAAJk/CJvleanxjS4/s72-c/paracetamol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-3722748634095092776</id><published>2010-07-15T12:39:00.003+08:00</published><updated>2010-07-15T13:01:16.639+08:00</updated><title type='text'>FAKTOR KETURUNAN/GENETIKA DALAM MEMPREDIKSI PEMERIKSAAN FUNGSI PARU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TD6WEl93o8I/AAAAAAAAAJc/bFQy0EifPBM/s1600/genetika.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TD6WEl93o8I/AAAAAAAAAJc/bFQy0EifPBM/s320/genetika.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493993601093837762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan klasifikasi ras atau etnis dalam praktek medis dan penelitian telah menjadi bahan perdebatan. Ras dan etnis yang kompleks menggabungkan konstruksi sosial, budaya, dan faktor genetik. Saat ini, pemeriksaan fungsi paru adalah salah satu dari beberapa aplikasi klinis di mana faktor ras atau etnis suatu kelompok digunakan untuk menentukan rentang normal hasil pemeriksaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu studi terbaru menunjukan bahwa pemeriksaan fungsi paru sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit paru dan respirasi yang sesungguhnya mungkin perlu disesuaikan dengan perbedaan keturunan/genetik pasien. Saat ini dokter memperhitungkan hasil pemeriksaan dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, ras dan berat badan, tetapi tidak untuk keturunan campuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang diterbitkan pada  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;New England Journal of Medicine&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, volume 363, number 2 tanggal 8 Juli 2010 dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Genetic Ancestry in Lung-Function Predictions&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://content.nejm.org/cgi/content/full/NEJMoa0907897?query=TOC"&gt;http://content.nejm.org/cgi/content/full/NEJMoa0907897?query=TOC&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) menunjukkan penyesuaian mungkin diperlukan karena banyak orang keturunan campuran, yang dapat mempengaruhi hasil tes. Ketika seorang pasien dipaksakan untuk masuk dalam suatu kelompok, misalnya Afrika-Amerika atau Kaukasia, dokter akan banyak kehilangan informasi genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 3.000 pasien, para peneliti menemukan bahwa keturunan genetik secara signifikan mempengaruhi hasil pada pemeriksaan fungsi paru. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tanda-tanda penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Menurut pemimpin studi ini, Dr Rajesh Kumar seorang profesor di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Northwestern University Feinberg School of Medicine&lt;/span&gt; dengan mempertimbangkan faktor keturunan/genetik pada pemeriksaan bisa menghasilkan pengobatan yang lebih tepat untuk pasien. Seorang dokter spesialis paru dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mayo Clinic&lt;/span&gt;, Dr Paul D. Scanlon mengatakan bahwa temuan studi ini merupakan "sebuah langkah maju dalam pemahaman kita." Pada umumnya hasil pemeriksaan orang kulit hitam berbeda dibandingkan orang kulit putih Jika hasil pemeriksaan tidak disesuaikan dengan fakta ini, pasien mungkin akan salah didiagnosis sebagai penyakit paru. Saat ini, alat ukurnya masih perlu disempurnakan karena tidak dirancang untuk seseorang dengan keturunan campuran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-3722748634095092776?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/3722748634095092776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/faktor-keturunangenetika-dalam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3722748634095092776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3722748634095092776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/faktor-keturunangenetika-dalam.html' title='FAKTOR KETURUNAN/GENETIKA DALAM MEMPREDIKSI PEMERIKSAAN FUNGSI PARU'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TD6WEl93o8I/AAAAAAAAAJc/bFQy0EifPBM/s72-c/genetika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-6976716875209668312</id><published>2010-07-12T04:27:00.002+08:00</published><updated>2010-07-12T04:58:44.181+08:00</updated><title type='text'>Perokok lebih banyak menggunakan obat analgetik opioid dibandingkan non perokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDoveajmiNI/AAAAAAAAAJM/QNsjYs3FmRQ/s1600/opioid+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 89px; height: 104px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDoveajmiNI/AAAAAAAAAJM/QNsjYs3FmRQ/s320/opioid+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492754895102970066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut suatu studi dari Norwegia, perokok lebih banyak menggunakan obat analgesik opioid dibandingkan non-perokok. Para peneliti mengatakan bahwa dokter harus menanyakan pada pasiennya tentang kebiasaan merokok mereka sebelum meresepkan obat jenis opioid untuk nyeri yang tidak terkait dengan kanker. Sementara penggunaan obat penghilang rasa sakit untuk nyeri opioid kuat pada kasus non-kanker telah meningkat tajam di berbagai belahan dunia dan  penggunaan obat ini masih kontroversial, terutama karena potensi adiktif obat ini. Beberapa faktor tertentu misalnya,riwayat pecandu alkohol atau penyalahgunaan narkoba dapat meningkatkan kemungkinan seseorang telah pernah menyalahgunakan opioid. Ada juga bukti bahwa kebiasaan merokok seseorang dapat mempengaruhi penggunaan opioid mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Svetlana Skurtveit dari Institut Kesehatan Publik Norwegia di Oslo dan rekan-rekannya mencatat dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Annals of Epidemiology, online 2 Juni 2010&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;a href="http://www.annalsofepidemiology.org/article/S1047-2797(10)00055-4/abstract"&gt;www.annalsofepidemiology.org/article/S1047-2797(10)00055-4/abstract&lt;/a&gt;). Pada penelitian tersebut,  mereka melibatkan hampir 13.000 pria dan hampir 16.000 perempuan dengan usia antara 30-75 tahun yang berpartisipasi dalam survei kesehatan antara tahun 2000 dan 2002. Tidak ada peresepan opioid saat studi dimulai. Selama tindak lanjut yang berlangsung sejak 2004 sampai 2007, 1,5 % dari peserta penelitian menerima 12 atau lebih resep opioid. Orang yang merokok sedikitnya 10 batang sehari di awal studi, kemungkinan 3 kali lebih banyak diresepkan opioid  dibandingkan orang yang tidak pernah merokok, sedikitnya 12 kali selama masa tindak lanjut. Sementara orang yang merokok 1-9 batang per hari hampir 2 kali lipat diresepkan opioid . Bagi orang-orang yang sebelumnya merokok 10 batang atau lebih sehari, tapi saat ini sudah berhenti, kira-kira 2 kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk diketahui bahwa orang yang menerima setidaknya selusin resep opioid selama empat tahun tidak mesti menjadi kecanduan/menyalahgunakan obat Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa ketergantung pada nikotin mungkin memprediksi lebih sering penggunaan opioid. Ada banyak bukti dari suatu studi eksperimental terhadap efek nikotin dan opioid. Skurtveit dkk menambahkan, saat merokok juga dapat mempengaruhi persepsi terhadap nyeri .&lt;br /&gt;Sehingga disarankan agar dokter harus mengetahui kebiasaan merokok pasien sebelum memulai pengobatan nyeri dengan opioid&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-6976716875209668312?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/6976716875209668312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/perokok-lebih-banyak-menggunakan-obat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6976716875209668312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6976716875209668312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/perokok-lebih-banyak-menggunakan-obat.html' title='Perokok lebih banyak menggunakan obat analgetik opioid dibandingkan non perokok'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDoveajmiNI/AAAAAAAAAJM/QNsjYs3FmRQ/s72-c/opioid+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-3229309950938367072</id><published>2010-07-09T00:18:00.001+08:00</published><updated>2010-07-09T00:25:53.150+08:00</updated><title type='text'>Apakah pemberian obat steroid intravena terlalu berlebihan pada pasien PPOK?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDX7gaXW1YI/AAAAAAAAAJE/jHRaMuqwBTA/s1600/www.mmh.org.tw.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDX7gaXW1YI/AAAAAAAAAJE/jHRaMuqwBTA/s320/www.mmh.org.tw.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491571854899860866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telah dilaporkan bahwa, steroid oral dosis rendah tampaknya bekerja sebaik obat steroid intravena (IV) dosis tinggi pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang berat. &lt;br /&gt;Namun, sekitar 90 persen pasien PPOK diberi dosis yang lebih tinggi, yang sesungguhnya bertentangan dengan panduan pemberian obat saat ini, suatu hasil studi yang telah dimuat pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal of American Medical Association&lt;/span&gt;, Volume 303, No.23 tanggal 16 Juni 2010, dengan judul  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Association of Corticosteroid Dose and Route of Administration With Risk of Treatment Failure in Acute Exacerbation of Chronic  Obstructive Pulmonary Disease”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; available from &lt;a href="http://jama.ama-assn.org/cgi/content/abstract/303/23/2359?maxtoshow=&amp;hits"&gt;http://jama.ama-assn.org/cgi/content/abstract/303/23/2359?maxtoshow=&amp;hits&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter harus mengikuti panduan pengobatan rumah sakit dan merawat pasien dengan steroid oral ,setidaknya bagi mereka yang memungkinkan penggunaan steroid oral. Sesungguhnya banyak pasien yang menerima steroid IV. Pasien PPOK yang kritis memang secara rutin diobati dengan kortikosteroid, bronkodilator dan antibiotik. Meskipun jelas bahwa steroid efektif dalam mengobati eksaserbasi PPOK, namun sesungguhnya belum jelas berapa dosis yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan medis pasien, para peneliti dari Massachusetts mencatat hampir 80.000 pasien yang dirawat dengan gejala PPOK berat di 414 rumah sakit AS pada 2006 dan 2007 . Semua pasien telah diberikan steroid pada dua hari pertama mereka dirawat. Studi ini tidak termasuk orang-orang yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif.  Ini adalah pasien yang sakit cukup pantas untuk dirawat di rumah sakit tetapi tidak cukup sakit untuk dirawat di ICU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92% pasien dalam penelitian ini diberikan steroid IV dengan dosis yang lebih tinggi, sementara hanya 8 persen pasien diberikan obat steroid oral dan kedua kelompok memiliki hasil yang sama dengan 1,4 persen pasien dengan obat IV dan 1 persen yang memakai pil, akhirnya menjadi kritis/sekarat.Sementara itu, 10,9% pasien dengan obat IV dan 10,3 persen pasien dengan obat oral memelukan perawatan/tindakan lebih lanjut seperti pemasangan ventilasi mekanis, yang berarti steroid tidak berefek secara semestinya.20% pasien dengan obat steroid oral diganti dengan obat  IV yang lebih kuat selama mereka dirawat di rumah sakit .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksaserbasi akut PPOK adalah peristiwa yang mengancam jiwa sehingga bisa dimengerti bahwa dokter ingin segera menggunakan“senjata pemungkas” mereka secepat mungkin, itu mungkin tindakan yang lebih baik tetapi sayangnya tidak benar. Pada akhirnya, walaupun tidak semua setuju pada pedoman penggunaan kortikosteroid yang benar pada pasien PPOK namun penggunaannya sering dibuat secara individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit untuk menganggap ribuan pasien PPOK dan menjadikannya suatu model sebagai pasien tunggal. Mereka memiliki berbagai jenis masalah yang berbeda dan kebutuhan yang berbeda, dan dokter harus benar-benar membuat keputusan,….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-3229309950938367072?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/3229309950938367072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/apakah-pemberian-obat-steroid-intravena.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3229309950938367072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/3229309950938367072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/apakah-pemberian-obat-steroid-intravena.html' title='Apakah pemberian obat steroid intravena terlalu berlebihan pada pasien PPOK?'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TDX7gaXW1YI/AAAAAAAAAJE/jHRaMuqwBTA/s72-c/www.mmh.org.tw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-9099291807236226965</id><published>2010-07-03T14:43:00.005+08:00</published><updated>2010-07-06T05:02:13.189+08:00</updated><title type='text'>Editorial Jurnal  : Insufisiensi vitamin D terkait dengan serangan asma yang parah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TC7cooxlLnI/AAAAAAAAAI8/lX3N7dlR-9g/s1600/asthma+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 97px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TC7cooxlLnI/AAAAAAAAAI8/lX3N7dlR-9g/s320/asthma+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5489567586509467250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dipimpin oleh Dr Augusto A. Litongua, dari Harvard Medical School di Boston, laporan penelitian telah dimuat pada  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal of Allergy &amp; Clinical Immunology&lt;/span&gt;.Volume 126, hal 52-58.e5 ( Juli 2010)dengan judul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Serum Vitamin D Levels and Severe Asthma Exacerbations in the Childhood Asthma Management Program Study"&lt;/span&gt;, available from &lt;a href="http://www.jacionline.org/article/S0091-6749%2810%2900657-3/abstract"&gt;http://www.jacionline.org/article/S0091-6749%2810%2900657-3/abstract&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit asma pada anak-anak dengan kadar vitamin D yang relatif rendah dalam darah mereka mungkin akan memiliki resiko lebih besar untuk mendapat serangan asma yang parah/&lt;span style="font-style:italic;"&gt;severe&lt;/span&gt; dibandingkan dengan yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Suatu studi penelitian terbaru yang mengamati lebih dari 1.000 anak dengan asma selama empat tahun, didapatkan bahwa anak dengan  insufisiensi vitamin D  di awal penelitian, lebih cenderung mengalami serangan asma yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Selama empat tahun penelitian, 38 persen anak-anak dengan insufisiensi vitamin D datang ke ruang gawat darurat dan dirawat dengan eksaserbasi asma. Hal yang sama juga terjadi pada 32 persen anak dengan kadar vitamin D tingkat yang cukup/sedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para peneliti mempertimbangkan faktor-faktor lain termasuk tingkat keparahan asma di awal penelitian tersebut, berat badan dan penghasilan keluarga mereka, ternyata kekurangan vitamin D itu sendiri terkait dengan peningkatan resiko 50 persen pada serangan asma yang parah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dianggap memiliki kadar vitamin D dalam  darah kurang dari 11 nanogram per milliliter ( ng / mL )  disebut defisiensi vitamin D, tetapi ada perdebatan tentang bagaimana mendefinisikan kadar vitamin D yang optimal dan apa yang direkomendasikan untuk asupan vitamin harian untuk anak dan orang dewasa. Beberapa ahli percaya bahwa kadar vitamin D di atas 30 ng / mL merupakan hal yang optimal untuk kesehatan secara keseluruhan dan kadar antara 11-30 ng / mL harus dinilai sebagai insufisiensi vitamin D. Pada studi mereka, Litongua dkk menganggap anak dengan kadar vitamin D 30 ng / mL atau kurang sebagai insufisiensi vitamin D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti mendapatkan bahwa 1.024 anak yang menderita asma ringan sampai sedang, diujikan dua obat asma inhaler yaitu budesonide dan nedocromil. Dengan menggunakan sampel darah yang diambil pada awal penelitian, Litongua dkk menemukan bahwa 35 persen dari anak-anak dengan insufisiensi vitamin D  dan 65 persen anak yang memiliki kadar vitamin D yang cukup .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa kadar vitamin D yang cukup akan melindungi anak dari gejala asma sedang/&lt;span style="font-style:italic;"&gt;moderate&lt;/span&gt;. Pada kenyataannya, anak-anak dengan kadar vitamin yang kurang lebih sedikit dilaporkan adanya gejala asma yang sedang/moderate. Namun, anak-anak tersebut lebih berisiko terhadap serangan asma yang parah/severe. Sementara temuan menunjukkan hubungan antara kadar vitamin D dan eksaserbasi asma, mereka tidak membuktikan bahwa vitamin D yang bertanggung jawab  atau  dengan kata lain tidak dapat di buktikan dengan asupan vitamin D akan mampu mencegah eksaserbasi asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara biologis, masuk akal kalau vitamin D akan mempengaruhi tingkat keparahan serangan asma, menurut Litongua dkk vitamin D banyak diketahui peranannya dalam membangun dan melihara tulang untuk tetap sehat, tetapi juga dibutuhkan saraf yang normal, otot dan fungsi sistem kekebalan tubuh . Beberapa penelitian telah menghubungkan rendahnya kadar vitamin D dengan resiko DM tipe 1 atau " &lt;span style="font-style:italic;"&gt;insulin -dependent&lt;/span&gt; " lebih tinggi pada anak-anak dan orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek vitamin D pada sistem kekebalan tubuh meliputi respon inflamasi terhadap infeksi, mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa kadar vitamin D yang lebih tinggi berhubungan dengan resiko lebih rendah terjadinya eksaserbasi asma yang parah. Menurut Litongua dkk, mungkin vitamin D akan meningkatkan efek hormon steroid anti inflamasi baik yang merupakan pasokan alami dalam tubuh maupun kortikosteroid sintetis yang digunakan untuk mengobati asma .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi ini, terdapat hubungan yang menguntungkan antara vitamin D dan serangan asma terutama terlihat pada anak-anak dengan obat budesonide. American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa bayi, anak dan remaja untuk mendapatkan 400 IU vitamin D setiap hari . Susu sereal dan jus jeruk diperkaya dengan vitamin yang merupakan sumber utama dan beberapa lemak ikan secara alami mengandung vitamin D dalam jumlah tinggi. Para ahli merekomendasikan pil vitamin untuk anak-anak yang tidak mendapatkan cukup vitamin dari makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitamin D secara alami disintesis dalam kulit ketika terkena sinar matahari, tetapi pada musim dingin yang panjang dan sering menghindari sinar matahari di musim panas berarti akan banyak anak yang tidak mendapatkan cukup vitamin D dengan cara ini. Sebagai tambahan, vitamin D sintetik kurang efisien pada orang dengan kulit lebih gelap dan ras Amerika-Afrika lebih beresiko defisiensi vitamin D dibandingkan ras kulit putih.Kegemukan pada anak dan orang dewasa juga lebih berisiko tinggi defisiensi vitamin D karena banyak disimpan dalam lemak tubuh sehingga vitamin kurang aktif didalam darah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-9099291807236226965?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/9099291807236226965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/editorial-jurnal-insufisiensi-vitamin-d.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/9099291807236226965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/9099291807236226965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/07/editorial-jurnal-insufisiensi-vitamin-d.html' title='Editorial Jurnal  : Insufisiensi vitamin D terkait dengan serangan asma yang parah?'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TC7cooxlLnI/AAAAAAAAAI8/lX3N7dlR-9g/s72-c/asthma+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-5264072362235670773</id><published>2010-06-24T23:19:00.001+08:00</published><updated>2010-06-24T23:25:00.349+08:00</updated><title type='text'>#2: Relaksasi Otot Secara Keseluruhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCN38RpTNiI/AAAAAAAAAI0/R3C3KTfmKRI/s1600/deep+breathing+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 108px; height: 108px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCN38RpTNiI/AAAAAAAAAI0/R3C3KTfmKRI/s320/deep+breathing+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486360648479880738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Latihan ini akan membantu  rileks semua otot di dalam tubuh dan juga akan mengajari dan menunjukkan cara untuk meringankan stres itu. Tujuan dari latihan ini adalah melepas ketegangan dan kemudian benar-benar melepaskan tekanan pada otot yang berbeda. Dengan cara ini, akan semakin mencapai relaksasi yang lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mulailah dengan mengangkat alis setinggi mungkin, rasakan ketegangan pada otot sekitar alis  Tahan ketegangan otot tersebut sesaat, tunggu dan sekarang rileks serta rasakan ketegangan mengalir keluar. Sekarang meremas mata dengan menutup dengan sekuat mungkin. Tahan ketegangan itu,tunggu dan sekarang kelopak mata terasa rileks dan lepas dari ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Katupkan gigi sekuat mungkin. Rasakan ketegangan pada otot sekitar rahang, tunggu dan sekarang lemaskan rahang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Remaslah seluruh wajah seakan-akan menjadi suatu simpul dan tahan dulu, tunggu dan rasakan ketegangan tersebut terasa saat menekan mata, mulut dan hidung secara bersamaan. Kemudian lepaskan dan rasakan betapa longgar dan santai di seluruh wilayah wajah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dekatkan dagu secara perlahan ke arah dada, rasakan ketegangan di leher dan rahang, tunggu dan biarkan ketegangan tersebut. Sekarang lepaskan dan rasakan relaksasi mengalir masuk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Angkat bahu  dengan cara menarik ke atas setinggi mungkin, rasakan ketegangan di leher dan bahu tunggu dan sekarang rasakan rileks dan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Buatlah tangan kanan menjadi menjadi tinju yang kuat dan mengangkat tangan kanan setinggi bahu dan bentangkan seperti mendorong. Rasakan ketegangan pada kepalan tangan, tunggu dan sekarang, biarkan lengan  perlahan-lahan jatuh ke sisi tubuh. Begitu pula lakukan hal yang sama pada tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Buatlah kepalan erat dengan kedua tangan dan diangkat kedua lengan setinggi bahu. Bentangkan kedepan dan biarkan ketegangan yang ada, tunggu kemudian biarkan lengan kembali ke samping tubuh dan rileks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kencangkan otot perut secara kuat, sekuat mungkin dan biarkan ketegangan tersebut, tunggu. dan sekarang rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Angkat kaki kanan, menegangkan otot paha dan betis dan menarik jari-jari kaki. Rasakan peregangan di bagian belakang kaki, tunggu dan rasakan ketegangan tersebut. Sekarang, biarkan kaki perlahan kembali dan rileks. Lakukan hal yang sama pada kaki kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Angkat kedua kaki secara bersama-sama dan kencangkan otot betis dan paha, rasakan ketegangan tersebut, tunggu dan sekarang kaki  kembali ke posisi semula dan rileks. Rasakan perasaan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil waktu beberapa saat untuk memeriksa otot-otot di seluruh tubuh. Periksa kepala, leher, bahu, lengan, dada, perut dan kaki. Jika masih merasa ketegangan otot dibagian mana saja, ulangi kembali latihan-latihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakan ketenangan yang ada dan lepaskan semua ketegangan pada otot. Ambil napas penuh dalam-dalam, tahan sebentar dan kemudian biarkan udara keluar; kecemasan dan ketegangan yang masih tersisa mengalir keluar lalu menghilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang rasa rileks dan santai akan terasa. Bukalah mata dan regangkan lengan dan kaki, Bangun bila sudah merasa siap.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-5264072362235670773?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/5264072362235670773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/latihan-2-relaksasi-otot-secara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5264072362235670773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5264072362235670773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/latihan-2-relaksasi-otot-secara.html' title='#2: Relaksasi Otot Secara Keseluruhan'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCN38RpTNiI/AAAAAAAAAI0/R3C3KTfmKRI/s72-c/deep+breathing+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-5030668414510483914</id><published>2010-06-22T23:16:00.003+08:00</published><updated>2010-06-22T23:30:37.368+08:00</updated><title type='text'>Sering  merasa cemas dan tegang?  Ayo latihan pernafasan,…........#1.  Pernapasan Dalam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCDWCwGS9KI/AAAAAAAAAIs/zL9KdVCNKvk/s1600/deep+breathing.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 124px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCDWCwGS9KI/AAAAAAAAAIs/zL9KdVCNKvk/s320/deep+breathing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485619688896656546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernafasan dalam adalah kunci dari relaksasi. Latihan ini akan menunjukkan bagaimana bernapas dengan cara memperlambat laju aktivitas seluruh tubuh dan itu akan mendorong relaksasi secara umum. Bernapas harus dilakukan dengan otot perut dan membiarkan perut  pergi sejauh mungkin saat menarik napas. Dengan cara ini, udara akan memenuhi paru-paru  lebih utuh. Meletakkan tangan di perut dan saat  menarik napas dalam-dalam, rasakan perut  mengembang seolah-olah sedang diisi oleh balon. Sekarang, biarkan udara keluar dan rasakana perut  kembali ke posisi normal. Ketika melakukan latihan, lakukan jeda pada akhir setiap pernafasan sampai merasa siap untuk mengambil napas panjang berikutnya. Untuk dapat mencapai relaksasi lebih besar bisa dengan menutup mata  saat bernafas dalam-dalam dan membiarkan pikiran fokus pada situasi yang tenang, atau hal lain yang memberi perasaan mental yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari kita lakukan latihan ini. Tutuplah mata, bernapas dalam-dalam dan membiarkan perut mengembang sampai paru-paru telah diisi. Sekarang, berhenti sejenak dan lalu buang napas sampai mengosongkan paru-paru. Jeda sejenak. Sekarang, ambil napas dalam-dalam dalam, mengisi paru-paru dari bawah. Tunggu sebentar ... dan sekarang rasakan aliran udara keluar, pusatkan pikiran pada hal yang tenang. Menjaga kecepatan biasa lagi bernapas dalam-dalam ... terus sebentar ... sekarang nafas lembut, biarkan ketegangan keluar dari tubuh. Sekali lagi bernapas dalam, berhenti sejenak ... Sekarang bernapas lembut rasakan relaksasi secara mendalam. Sekarang, berhenti sejenak dan lalu buang napas sampai mengosongkan paru-paru. Jeda sejenak. Sekarang, ambil napas dalam-dalam yang mengisi paru-paru dari bawah. Tunggu sebentar ... dan sekarang rasakan aliran udara keluar, pusatkan pikiran pada hal yang tenang. Menjaga kecepatan nafas, kemudian bernapas dalam-dalam ... terus sebentar ... sekarang nafas lembut, biarkan ketegangan keluar dari tubuh. Sekali lagi bernapas dalam ... berhenti sejenak ... Sekarang napas lembut rasakan relaksasi yang mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan ini berakhir. Teknik pernapasan ini dapat dilakukan setiap saat dan di mana saja. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana Anda merasa tegang atau khawatir. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-5030668414510483914?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/5030668414510483914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/sering-merasa-cemas-dan-tegang-ayo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5030668414510483914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5030668414510483914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/sering-merasa-cemas-dan-tegang-ayo.html' title='Sering  merasa cemas dan tegang?  Ayo latihan pernafasan,…........#1.  Pernapasan Dalam'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TCDWCwGS9KI/AAAAAAAAAIs/zL9KdVCNKvk/s72-c/deep+breathing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-7581730808201558938</id><published>2010-06-01T05:34:00.006+08:00</published><updated>2010-06-11T11:26:39.822+08:00</updated><title type='text'>Tahun 2010  sebagai  The Year of the Lung,…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TBFcSOxFVhI/AAAAAAAAAIk/5dYsq4fRCZ0/s1600/YoLogo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TBFcSOxFVhI/AAAAAAAAAIk/5dYsq4fRCZ0/s320/YoLogo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481263689757971986" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tanggal 28 Mei 2010  di Paris, Francis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.theunion.org"&gt;The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(Union) menyatakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati pada tanggal 31 Mei 2010 sebagai titik kritis tahun kampanye &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Year of the Lung 2010&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Setiap tahun ratusan juta orang berjuang untuk hidup akibat penyakit paru seperti tuberkulosis, asma, pneumonia, influenza, kanker paru dan PPOK dan lebih dari 10 juta nya meninggal. Penyakit pernapasan kronis menyebabkan sekitar 7% dari semua kematian di seluruh dunia dan merupakan 4% dari beban penyakit secara global. Penyakit paru menimpa orang di setiap negara dan setiap kelompok sosial-ekonomi, tetapi sering terjadi oleh karena kemiskinan, usia tua, muda dan orang dengan daya tahan tubuh yang  yang lemah. Belum lagi adanya suatu sinergis  penyakit yang mematikan antara  tuberkulosis dan HIV/AIDS, influenza dan asma, PPOK dan kanker paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Beberapa penyakit paru sesekali ditemukan di negara-negara industri, seperti asma, PPOK dan kanker paru, ternyata kini masalah utama di negara-negara dengan pendapatan yang rendah dan menengah yang akan meningkatkan kunjungan di sarana pelayanan kesehatan. Biaya pengobatan dan perawatan penyakit paru mencapai hingga miliaran dolar setiap tahun dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas kerja. Namun peranan publik dan komitmen politik belum cukup mendukung kondisi-kondisi tersebut untuk bisa membawa perubahan yang lebih baik lagi. Napas dan kehidupan merupakan hal yang fundamental, namun bukti menunjukkan bahwa kesehatan paru belum cukup mendapat perhatian di  masyarakat,Misalnya beberapa fakta berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penggunaan dan distribusi tembakau yang tidak terkontrol, meskipun telah membunuh lebih dari 5 juta orang setiap tahunnya, termasuk 1,3 juta yang meninggal karena kanker paru dan telah mempengaruhi kesehatan ratusan ribu orang lain yang terkena dampaknya&lt;br /&gt;• Tidak ada obat baru telah dikembangkan untuk tuberculosis(TB) pada 5 dekade terakhir dan vaksin telah hampir satu abad.Terdapat lebih dari 9 juta kasus baru di tahun 2007 dan penyakit yang sesungguhnya dapat disembuhkan ini telah  membunuh 1,7 juta orang tiap tahunnya &lt;br /&gt;• Pneumonia membunuh lebih dari 2 juta anak di bawah 5 tahun masing-masing, satu anak setiap 15 detik. Padahal pneumonia dapat diobati secara efektif  dengan biaya yang tidak mahal. &lt;br /&gt;• Kematian akibat asma terjadi pada 250 ribu orang setiap tahunnya dan sebagian besar diakibatkan karena kurangnya perawatan yang tepat. &lt;br /&gt;• PPOK yang akan menjadi penyebab utama kematian ke-3 di seluruh dunia di tahun 2020, namun sering tidak didiagnosis &lt;br /&gt;• 250 ribu sampai 500 ribu orang meninggal setiap tahunnya di dunia akibat flu musiman &lt;br /&gt;• Hampir setengah dari jumlah penduduk dunia hidup di daerah dengan kualitas udara buruk. Alat untuk mendeteksi gangguan paru secara dini seperti spirometri belum tersedia atau bilapun tersedia belum digunakan secara optimal sehingga untuk mendeteksi gangguan paru secara dini menjadi sebuah tantangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ratusan juta orang diseluruh dunia menderita dan diobati akibat penyakit paru kronis yang sesungguhnya bisa di cegah dan diobati efektif dengan biaya yang tidak mahal. Selama ini kesehatan paru dan respirasi sering diabaikan dalam wacana publik, sehingga merupakan suatu urgensi untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah-langkah kongkrit untuk tetap menjaga kesehatan paru dan respirasi. Pada tanggal 6 Desember 2009 di Cancun Mexico, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Forum of International Respiratory Societies &lt;/span&gt;(FIRS), mengadakan pertemuan internasional (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The 40th Union World Conference on Lung Health&lt;/span&gt;),yang dihadiri oleh organisasi-organisasi kesehatan pemerhati kesehatan paru dan respirasi sebegai rekan dan pendukung yaitu  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.alatorax.org"&gt;Asociacion Latinoamericana del Thorax&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (ALAT),  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.chestnet.org"&gt;American College of Chest Physicians&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (ACCP),  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.thoracic.org"&gt;American Thoracic Society&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (ATS), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.apsresp.org"&gt;Asia Pacific Society of Respirology&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(APSR), &lt;a href="http://dev.ersnet.org"&gt;European Respiratory Society&lt;/a&gt; (ERS),  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.theunion.org"&gt;International Union Against Tuberculosis and Lung Disease&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(The Union), dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.africanthoracic.org"&gt;Pan African Thoracic Society&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;(PATS).Pada pertemuan ini, dinyatakan bahwa tahun ini sebagai The Year of the Lung 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari kampanye The Year of the Lung ini adalah &lt;br /&gt;1. Meningkatkan kesadaran akan kesehatan paru dan respirasi dan memulai tindakan langsung pada masyarakat di seluruh dunia dan advokasi kebijakan untuk memerangi penyakit ini&lt;br /&gt;2. Memperkuat kebutuhan yang menyediakan sumber daya untuk kegiatan penelitian dasar dan klinis yang diharapkan akan mampu  meningkatkan perawatan dan kualitas hidup penderita.&lt;br /&gt;3. Menyampaikan pesan bahwa sebagian besar penyakit paru dan respirasi dapat diobati tetapi tindakan pencegahan akan jauh lebih efektif.&lt;br /&gt;4. Menyampaikan pesan bahwa udara di dalam ruangan ataupun udara diluar ruangan harus bersih. Hal itu merupakan hak asasi manusia dan harus diakui seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pada kampanye The Year of the Lung diambil langkah-langkah sebagai berikut&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Memberikan dukungan luas kepada lebih dari 160 negara yang telah meratifikasi perjanjian Konvensi Internasional  Pengendalian Tembakau WHO (WHO Framework Convention on Tobacco Control) dan menyerukan negara-negara yang belum meratifikasi untuk segaera melakukannya. &lt;br /&gt;• Meningkatkan permintaan dana penelitian untuk mengembangkan alat dan perawatan mulai dari alat diagnosa baru, vaksin dan obat-obatan &lt;br /&gt;• Memperkuat sistem kesehatan dan distribusi sumber daya perawatan kesehatan yang  merata  untuk semua yang membutuhkan &lt;br /&gt;• Melakukan pendekatan-pendekatan untuk memperbaiki undang-undang yang melindungi kualitas udara &lt;br /&gt;• Memastikan bahwa setiap petugas kesehatan, orang tua, anak, guru, pekerja, pemimpin agama, tokoh masyarakat, perwakilan media dan pemerintah betul-betul memahami risiko dan gejala penyakit paru dan bagaimana menjaga paru tetap sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;American College of Chest Physicians. 2010 : The Year of the Lung, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;available from &lt;a href="http://www.chestnet.org/accp/2010-year-lung"&gt;http://www.chestnet.org/accp/2010-year-lung&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;American Thoracic Society. Year of the Lung, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.thoracic.org/global-health/yol/index.php"&gt;www.thoracic.org/global-health/yol/index.php&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asian Pacific Society of Respirology. Year of the Lung, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.apsresp.org/archive/yotl2010/yotl2010.html#a"&gt;www.apsresp.org/archive/yotl2010/yotl2010.html#a&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asociación Latinoamericana de Tórax. The Year of the Lung Declaration, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.alatorax.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=250%3Adeclaracion-2010-ano-del-pulmon&amp;catid=78%3Adeclaratorias-2010&amp;Itemid=131&amp;lang=es"&gt;www.alatorax.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=250%3Adeclaracion-2010-ano-del-pulmon&amp;catid=78%3Adeclaratorias-2010&amp;Itemid=131&amp;lang=es&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;European Respiratory Society.Year of the Lung : Campaign Update, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://dev.ersnet.org/uploads/Document/ef/WEB_CHEMIN_6656_1272965917.pdf"&gt;dev.ersnet.org/uploads/Document/ef/WEB_CHEMIN_6656_1272965917.pdf&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.World No Tobacco Day is a Critical Point in the “Year of the Lung”, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.theunion.org/news/world-no-tobacco-day-is-a-critical-point-in-the-year-of-the-lung.html"&gt;www.theunion.org/news/world-no-tobacco-day-is-a-critical-point-in-the-year-of-the-lung.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pan Africa Thoracic Society. Year of the Lung 2010, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.africanthoracic.org/news/general.htm"&gt;www.africanthoracic.org/news/general.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Year of the Lung Declaration, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.2010yearofthelung.org/1363-2010yearofthelungdeclaration.htm"&gt;www.2010yearofthelung.org/1363-2010yearofthelungdeclaration.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Health Organization.World Health Statistics 2010, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://&lt;a href="http://www.who.int/whosis/whostat/2010/en/index.html"&gt;www.who.int/whosis/whostat/2010/en/index.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-7581730808201558938?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/7581730808201558938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/tahun-2010-sebagai-year-of-lung.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/7581730808201558938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/7581730808201558938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/06/tahun-2010-sebagai-year-of-lung.html' title='Tahun 2010  sebagai  The Year of the Lung,…'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TBFcSOxFVhI/AAAAAAAAAIk/5dYsq4fRCZ0/s72-c/YoLogo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-5493409813816782846</id><published>2010-05-31T04:18:00.000+08:00</published><updated>2010-05-31T04:45:05.142+08:00</updated><title type='text'>Saatnya Kita Lindungi Anak dan Perempuan dari Bahaya Rokok/Tembakau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TALKUt9FjkI/AAAAAAAAAHI/x0aJlK-ETvY/s1600/wntd_ad_eng_200.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TALKUt9FjkI/AAAAAAAAAHI/x0aJlK-ETvY/s320/wntd_ad_eng_200.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477162554117951042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2010,…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan rokok/tembakau merupakan salah satu ancaman terbesar kesehatan masyarakat dunia. Saat ini diperkirakan ada lebih dari satu milyar perokok di dunia. Secara global, penggunaan produk tembakau memang meningkat, meskipun terjadi penurunan di negara-negara maju. Hampir setengah dari anak-anak di dunia menghirup udara tercemar asap rokok/tembakau. epidemi saat ini beralih ke negara berkembang. Lebih dari 80% dari perokok di dunia tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dalam setahun  rata-rata satu orang meninggal setiap enam detik dan menjadi satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia. Tembakau membunuh sampai setengah dari semua penggunanya dan menjadi  faktor risiko untuk enam dari delapan penyebab utama kematian di dunia. Jika kecenderungan ini terus berlangsung, maka diperkirakan akan ada satu miliar kematian pada abad ke-21 akibat penggunaan tembakau. Kematian terkait tembakau akan meningkat menjadi lebih dari delapan juta per tahun pada tahun 2030 dan 80% dari kematian akan terjadi di negara berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tingginya populasi dan konsumsi rokok menempatkan Indonesia menduduki urutan ke-5 konsumsi tembakau tertinggi di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang dengan konsumsi 220 milyar batang pada tahun 2005. Padahal rokok/tembakau dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut. Di samping itu, rokok juga menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal. Rokok mengandung lebih dari empat ribu bahan kimia, termasuk 43 bahan penyebab kanker yang telah diketahui, sehingga lingkungan yang terpajan dengan asap rokok/tembakau juga dapat menyebabkan bahaya kesehatan yang serius.Di masa mendatang masalah kesehatan akibat rokok di Indonesia semakin berat karena 2 diantara 3 orang laki-laki adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi karena 85,4% perokok aktif merokok dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam keselamatan kesehatan lingkungan. Selain itu, 50 persen orang Indonesia kurang aktivitas fisik dan 4,6 persen mengkonsumsi alkohol. Lebih 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau. Padahal anak-anak yang terpajan asap rokok/tembakau dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga serta asma. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Kesehatan yang buruk di usia dini menyebabkan kesehatan yang buruk di saat dewasa”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Industri tembakau secara terus menerus dan agresif mencari pengguna baru untuk menggantikan mereka yang berhenti dan pengguna saat ini yang hingga setengahnya nanti akan mati prematur akibat kanker, serangan jantung, stroke, PPOK dan  penyakit lainnya yang terkait dengan penggunaan tembakau. Sasaran untuk memperbanyak penggunaan tembakau saat ini adalah kalangan perempuan. Itu karena saat ini perempuan yang merokok atau pengguna tembakau lebih sedikit daripada laki-laki. Hanya sekitar 9% dari perempuan merokok, dibandingkan dengan 40% laki-laki. Dari sekitar satu milyar perokok di dunia, hanya sekitar 200 juta adalah perempuan. Sehingga merupakan kesempatan besar untuk menargetkan pemasaran tembakau di kalangan perempuan. Epidemi penggunaan tembakau adalah menurun lambat di beberapa negara dan penggunaan dikalangan perempuan di beberapa negara makin meningkat. Di beberapa negara, anak perempuan lebih banyak yang merokok daripada anak laki-laki. Remaja yang merokok kemungkinan untuk menjadi perokok berat di masa dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Lebih dari lima juta orang meninggal setiap tahun oleh karena penggunaan tembakau dan sekitar 1,5 juta nya adalah perempuan. Jika tidak segera diambil tindakan, penggunaan tembakau dapat membunuh lebih dari delapan juta orang pada tahun 2030 dan 2,5 juta nya adalah perempuan. Sekitar tiga perempat dari kematian perempuan akan terjadi pada negara dengan  pendapatan yang rendah. Di beberapa negara, ancaman yang lebih besar pada perempuan adalah dari pajanan asap dari orang lain, khususnya laki-laki. Misalnya di China, dimana sepertiga dari populasi perokok dewasa di dunia. Hampir seluruhnya laki-laki dan hanya kurang dari 3% adalah perempuan. Namun lebih dari separuh wanita usia reproduksi Cina secara teratur terpajan asap rokok/tembakau dari pihak lain. Di seluruh dunia, dari sekitar 430 ribu kematian setiap tahun orang dewasa disebabkan oleh pajanan asap rokok/tembakau, sekitar 64% terjadi pada perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Untuk menggugah perhatian masyarakat dunia terhadap bahaya rokok/tembakau, sejak tahun 1988 diselenggarakan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia  setiap tanggal 31 Mei dan pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia  tahun 2010 ini ditetapkan tema &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”Gender and Tobacco with an Emphasis on Marketing to Women”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Tema ini berkaitan dengan upaya global dalam mengendalikan jumlah perokok terutama kelompok berisiko yaitu anak-anak dan perempuana dari bahaya asap rokok/tembakau. Sedangkan di Indonesia, temanya adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Gender dan Rokok dengan penekanan pemasaran pada perempuan”&lt;/span&gt;. Selain tema, juga ditetapkan slogan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“ Saatnya kita lindungi anak dan perempuan dari  bahaya rokok”&lt;/span&gt;. Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2010 berfokus pada kerugian pemasaran dan pajanan asap rokok/tembakau pada perempuan. Pada saat yang sama juga berusaha mengingatkan untuk tidak merokok di sekitar perempuan di rumah, di tempat kerja atau dimana saja. Sesungguhnya semua orang baik perempuan atau laki-laki harus dilindungi dari pemasaran industri tembakau dan pajanan asap rokok/tembakau, Banyak negara tidak melakukan upaya untuk melindungi rakyat mereka dari pajanan asap rokok/tembakau dari pihak lain. Banyak perempuan tidak tahu tentang kerugian yang diakibatkan pajanan asap rokok/tembakau atau merasa seolah-olah mereka tidak punya hak untuk mengeluh. Di banyak negara, perempuan tidak berdaya untuk melindungi diri mereka sendiri dan anak-anak mereka dari pajanan asap rokok/tembakau. Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa di Cina, di mana sebagian besar perokok adalah laki-laki dewasa dan lebih dari separuh wanita usia reproduksi secara teratur terpajan asap rokok/tembakau yang menempatkan diri mereka sendiri dan bayi yang belum lahir menjadi beresiko terkena penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     WHO juga akan mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian khusus untuk melindungi perempuan dari perusahaan industri tembakau “untuk memikat mereka pada ketergantungan nikotin”. sehingga pemerintah dapat mengurangi jumlah korban serangan jantung, stroke, kanker dan penyakit pernafasan yang telah menjadi semakin umum di kalangan perempuan. Pengendalian epidemi tembakau di kalangan perempuan merupakan bagian penting dari setiap strategi pengendalian tembakau  secara komprehensif. Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2010 dirancang untuk memberi perhatian khusus terhadap efek berbahaya dari pemasaran tembakau terhadap perempuan dan anak. Hal ini juga akan menyoroti kebutuhan bagi hampir 170 pihak pada Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) WHO untuk melarang semua iklan rokok, promosi dan sponsor sesuai dengan konstitusi atau prinsip-prinsip konstitusional.&lt;br /&gt;Sayangnya hanya kurang dari 9% dari negara-negara di dunia melakukan pelarangan iklan atau promosi rokok secara komprehensif dan hanya sekitar 5,4% yang dilindungi oleh undang-undang. Pengendalian epidemi tembakau di kalangan perempuan merupakan bagian penting dari setiap strategi pengendalian tembakau. Direktur Jenderal WHO Margaret Chan mengatakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Melindungi dan meningkatkan kesehatan perempuan sangat penting untuk kesehatan dan pembangunan, tidak hanya untuk saat ini tetapi juga untuk generasi mendatang".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Centers for Disease Control and Prevention: Smoking and Tobacco Use. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Available from http://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/index.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Framework Convention Alliance : World No Tobacco Day targets women Available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.fctc.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=337:world-no-tobacco-day-targets-women&amp;catid=235:advertising-promotion-and-sponsorship&amp;Itemid=239&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI :Saatnya Melindungi Perempuan darin Bahaya Rokok. Available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.depkes.go.id/index.php/component/content/article/43-newsslider/1090-saatnya-melindungi-perempuan-dari-bahaya-rokok.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tobacco Control Resource Centre, available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.tobacco-control.org/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;World Health Organization: Tobacco Free Initiative. Available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.who.int/tobacco/en/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Health Organization : World No Tobacco Day 2010 focuses on the marketing of tobacco to women available from &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2010/women_tobacco_20100528/en/index.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO Report on the Global Tobacco Epidemic, 2009: Implementing smoke-free environments. Available from  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://www.who.int/tobacco/mpower/2009/en/index.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-5493409813816782846?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/5493409813816782846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/saatnya-kita-lindungi-anak-dan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5493409813816782846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5493409813816782846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/saatnya-kita-lindungi-anak-dan.html' title='Saatnya Kita Lindungi Anak dan Perempuan dari Bahaya Rokok/Tembakau'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/TALKUt9FjkI/AAAAAAAAAHI/x0aJlK-ETvY/s72-c/wntd_ad_eng_200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-5387680888447237579</id><published>2010-05-28T23:23:00.000+08:00</published><updated>2010-05-28T23:30:58.725+08:00</updated><title type='text'>Gangguan Pernafasan pada Lanjut Usia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S__gbeyTZAI/AAAAAAAAAHA/OnVQds3J0-s/s1600/lansia+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S__gbeyTZAI/AAAAAAAAAHA/OnVQds3J0-s/s320/lansia+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5476342434630951938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2010 jumlah warga lanjut usia (lansia) di Indonesia akan mencapai 19.079.800 jiwa (BAPPENAS, BPS, UNFPA. 2005); pada tahun 2014 akan berjumlah 22.232.200 jiwa atau 9,6% dari total penduduk dan pada tahun 2025 akan meningkat sampai 414% dibandingkan tahun 1990 (WHO, 2000). Sebagai akibatnya akan terjadi transisi demografi dan transisi epidemiologi karena jumlah pasien lansia yang meningkat. Karakteristik pasien lanjut usia adalah multipatologi (satu pasien terdapat lebih dari satu penyakit yang umumnya penyakit bersifat kronik degeneratif), menurunnya daya cadangan fungsional menyebabkan pasien lansia amat mudah jatuh dalam kondisi gagal pulih, terjadi perubahan gejala dan tanda penyakit dari yang klasik, terganggunya kemampuan pasien lansia untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari dan sering terdapat gangguan nutrisi, gizi kurang atau gizi buruk.&lt;br /&gt;  Pertambahan usia dapat mengurangi semua kapasitas dari fungsi paru. Terdapat beberapa perubahan pada sistem pernafasan yang terjadi seiring dengan penambahan usia yaitu &lt;br /&gt;(1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan dangkal&lt;br /&gt;(2) Penurunan aktivitas silia yang menyebabkan berkurangnya reflek batuk sehingga  berpotensi terjadi penumpukan sekret&lt;br /&gt; (3) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang yang menyebabkan terganggunya proses difusi&lt;br /&gt; (4) Penurunan oksigen (O2) arteri yang mengganggu proses oksigenasi dan transport O2 ke jaringan&lt;br /&gt;(5)Terjadi penurunan kemampuan reaksi sistem saraf pusat, baik anatomis, mekanik dan fungsional.&lt;br /&gt;Perubahan status fungsional lansia seperti gangguan makan, ketidakmandirian toileting dan immobilitas merupakan suatu penyebab terjadinya infeksi. Lansia sangat rentan terhadap berbagai kondisi akut akibat gangguan kesehatan, diantaranya adalah infeksi saluran pernafasan yang merupakan penyebab kematian tertinggi dan penyebab penurunan kualitas hidup yang paling bermakna. Rentannya lansia terhadap infeksi disebabkan karena menurunnya fungsi kekebalan tubuh yang mengakibatkan respon pertahanan tubuh terhadap infeksi menjadi berkurang. Dampak yang diakibatkan meliputi masa rawat yang lebih panjang, biaya rawat yang lebih besar serta sering timbulnya komplikasi berat sehingga menimbulkan penurunan kualitas hidup. Infeksi saluran nafas atas dan influenza malah sering berlanjut menjadi pneumonia yang gejala dan tanda pneumonia pada lansia sering tidak khas yang menyebabkan  keterlambatan diagnosis, belum lagi meningkatnya resistensi mikroba terhadap antibiotika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*** Not only add years to life, but also life to years ***&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya menambah tahun pada kehidupan, tetapi juga menambah kehidupan pada tahun-tahun tersebut&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional, 29 Mei 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Burn R, Nichols LO, Martindale-Adams J, Graney MJ. 2000. Interdisciplinary geriatric primary care evaluation and management: two years outcomes. J Am Geriatr Soc;48:8-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsey, Hennessey RN, Formica MA, et al. 2005. Respiratory Syncitial Virus Infection in elderly and high risk adults. N Engl J Med;352:1749-59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geffen L, MBChB, MCFP(SA) SA Fam Pract.2006. Common upper respiratory tract problems in the elderly – A guide to clinical diagnosis and prudent prescription:48(5) p.20-23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ross, K. M.D., Ph.D. 25 februari 2010 Aging and the Respiratory System http://www.asahq.org/clinical/geriatrics/aging.htm. Brian.Associate Professor of Anesthesiology University of Washington, Seattle, WA 98195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-5387680888447237579?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/5387680888447237579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/gangguan-pernafasan-pada-lanjut-usia.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5387680888447237579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/5387680888447237579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/gangguan-pernafasan-pada-lanjut-usia.html' title='Gangguan Pernafasan pada Lanjut Usia'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S__gbeyTZAI/AAAAAAAAAHA/OnVQds3J0-s/s72-c/lansia+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-8673160202023239492</id><published>2010-05-22T04:56:00.000+08:00</published><updated>2010-05-22T05:12:09.464+08:00</updated><title type='text'>Terbang Tanpa Tertular Penyakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_b2IdsRo1I/AAAAAAAAAGg/gibOle1PfCY/s1600/Flight+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 120px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_b2IdsRo1I/AAAAAAAAAGg/gibOle1PfCY/s320/Flight+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473833022385136466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Badan nyeri, sakit kepala,kaki pegal dan flu pun kerap terasa saat penerbangan berakhir. Menurut para ahli medis, banyak faktor yang bisa menjadi pemicu. Salah satu yang menjadi perhatian adalah faktor kelembaban di dalam kabin pesawat yang rendah yang terjadi di ketinggian 30-35 ribu kaki. Pada kondisi tersebut kelembaban biasanya berkisar 10% atau lebih rendah. Pada tingkat kelembaban yang rendah, sistem ketahanan alami lendir pada hidung maupun tenggorokan langsung mengering yang membuat tubuh lebih toleran terhadap kuman.Oleh karena itu mengkonsumsi minuman panas merupakan cara yang tepat untuk melindungi kerja mukus pada hidung. Air panas memberikan kelembaban dalam bentuk uap. Kekeringan pada hidung dan tenggorokan ini harus diimbangi dengan konsumsi air yang banyak karena kondisi ini tidak hanya bisa memicu dehidrasi tetapi juga bisa membuat sakit kepala, gangguan lambung dan pernafasan, kram dan rasa lelah. &lt;br /&gt;     Sebuah studi yang dipaparkan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Journal of Environmental Health Research &lt;/span&gt;mengungkapkan bahwa orang memiliki kemungkinan 100 kali lebih terserang flu ketika berada didalam pesawat terbang. Studi ini sebenarnya lebih memfokuskan pada tingginya potensi perpindahan kuman antar penumpang karena udara yang sama dihirup oleh ratusan penumpang. Selain itu kontaminasi kuman pada tangan bisa menyebabkan timbulnya penyakit.&lt;br /&gt;     Selain faktor kelembaban dan tekanan udara dalam kabin pesawat, gangguan tersebut bisa disebabkan oleh kualitas tidur yang kurang baik, stress karena antrean panjang di tempat check in serta penundaan atau keterlambatan jadwal penerbangan. Belum lagi rasa tidak nyaman karena duduk terlalu lama, guncangan atau kebisingan mesin pesawat. Malahan asap mesin yang sewaktu-waktu masuk kedalam kabin.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah hal-hal yang bisa dilakukan saat penerbangan&lt;br /&gt;1.  Minum air yang cukup&lt;br /&gt;Konsumsi air secara regular atau sedikit demi sedikit selama perjalanan lebih efektif daripada meneguk air dalam jumlah banyak tetapi hanya sekali selama perjalanan.Hindari yang mengandung kafein dan soda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjaga kebersihan tangan&lt;br /&gt;Mencuci tangan dengan sabun atau dengan cairan antiseptik adalah suatu cara untuk mencegah perpindahan kuman berbahaya. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gunakan tisu&lt;br /&gt;Di toilet sebaiknya gunakan tisu untuk menutupi kloset atau saat membuka pintu toilet  karena disanalah tempat berkumpulnya kuman-kuman yang bisa mengendap di kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kumur-kumur&lt;br /&gt;Dengan cairan antibakterial selama penerbangan maupun setelahnya. Cairan ini mampu menjaga kelembaban mulut dan tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gunakan masker&lt;br /&gt;Penggunaan masker saat sakit untuk mencegah penularan penyakit dan penggunaan masker juga untuk mencegah tertular penyakit.&lt;br /&gt;Memang kurang nyaman,tetapi lebih aman,…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Dari berbagai sumber)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-8673160202023239492?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/8673160202023239492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/terbang-tanpa-tertular-penyakit.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8673160202023239492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8673160202023239492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/terbang-tanpa-tertular-penyakit.html' title='Terbang Tanpa Tertular Penyakit'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_b2IdsRo1I/AAAAAAAAAGg/gibOle1PfCY/s72-c/Flight+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-1014389155933407433</id><published>2010-05-20T06:01:00.000+08:00</published><updated>2010-05-20T06:26:26.736+08:00</updated><title type='text'>7 LANGKAH DALAM DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_RhPhcirPI/AAAAAAAAAGY/i3mZ7CRNp8o/s1600/PAK+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_RhPhcirPI/AAAAAAAAAGY/i3mZ7CRNp8o/s320/PAK+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473106366466010354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seberapa sering kita mendiagnosa suatu penyakit akibat kerja? Atau mungkin pernahkah kita mendiagnosa penyakit akibat kerja? Seringkah menanyakan riwayat pekerjaan pasien?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang mempunyai penyebab spesifik atau asosiasi kuat dengan pekerjaan yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui. Memang  bukan hal yang mudah bagi dokter untuk mendiagnosa penyakit akibat kerja, kerena tidak hanya memerlukan suatu pendekatan klinis (individu) saja tetapi juga memerlukan pendekatan epidemiologis (Komunitas) untuk identifikasi hubungan kausal antara pajanan dan penyakit. Keberhasilan identifikasi PAK dibebagai kelompok pekerjaan tergantung dari riwayat pasien secara keseluruhan yang dipertegas dengan pemeriksaan laboratorium (Biomonitoring dan tes klinik), penilaian pajanan lingkungan secara tepat dengan memperhatikan legalitas, etika dan faktor sosioekonomi.Berikut ini 7 langkah dalam diagnosis PAK :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Menentukan diagnosis klinis&lt;br /&gt;  Untuk menyatakan bahwa suatu penyakit adalah akibat hubungan pekerjaan harus   dibuat diagnosis klinis dahulu&lt;br /&gt;2.Menentukan pajanan yang dialami individu tersebut dalam pekerjaan&lt;br /&gt;Identifikasi semua pajanan yang dialami oleh pekerja tersebut.Untuk itu perlu dilakukan anamnesis pekerjaan yang lengkap dan kalau perlu dilakukan pengamatan ditempat kerja dan mengkaji data sekunder yang ada&lt;br /&gt;3.Menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit&lt;br /&gt;Untuk menentukan adakah hubungan antara pajanan dan penyakit harus berdasarkan evidence yang ada dan dapat dilihat dari bukti yang ada&lt;br /&gt;4.Menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar&lt;br /&gt;Penentuan besarnya pajanan dapat dilakukan secara kuantitatif dengan melihat data pengukuran lingkungan dan masa kerja atau secara kualitatif dengan mengamati cara kerja pekerja&lt;br /&gt;5.Menentukan apakah ada peranan faktor-faktor individu itu sendiri&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat mempercepat terjadinya penyakit akibat kerja atau sebaliknya menurunkan kemungkinan penyakit akibat hubungan kerja seperti faktor genetik atau kebiasaan memakai alat pelindung yang baik&lt;br /&gt;6.Menentukan apakah ada faktor lain diluar pekerjaan&lt;br /&gt;Misalnya Kanker paru dapat disebabkan oleh asbes dan bisa juga disebabkan oleh kebiasaan merokok&lt;br /&gt;7.Menentukan diagnosis Penyakit Akibat Kerja&lt;br /&gt;Apabila dapat dibuktikan bahwa paling sedikit ada satu faktor pekerjaan yang berperan sebagai penyebab penyakit dapat dikategorikan penyakit akibat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sehingga sangat penting bagi dokter untuk menanyakan pekerjaan pasien saat membuat suatu diagnosis klinis dan mengkaji apakah penyakit yang terjadi akibat pajanan dari lingkungan kerja dan kemudian mampu untuk menentukan diagnosis penyakit akibat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1.Barry S. Levy, David H. Wegman. Occupational Health : Recognizing and Preventing Work Related Disease. Edisi ke-3,2006&lt;br /&gt;2.De Vuyst P, Gevenois PA : Occupational Disesase.Eds WB Saunders, London,2002&lt;br /&gt;3.Direktorat Bina Kesehatan Kerja. Pedoman Tata Laksana Penyakit Akibat Kerja bagi Petugas Kesehatan, Departemen Kesehatan,2008&lt;br /&gt;4.Week,Jl.  Gregory R. Wagner, Kathleen M. Rest, Barry S. Levy. A public Health Approach to Preventing Occupational Disesase and Injuries in Preventing Occupational Disease and Injuries. Edisi ke-2, APHA, Washington,2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-1014389155933407433?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/1014389155933407433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/7-langkah-dalam-diagnosis-penyakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1014389155933407433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1014389155933407433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/7-langkah-dalam-diagnosis-penyakit.html' title='7 LANGKAH DALAM DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S_RhPhcirPI/AAAAAAAAAGY/i3mZ7CRNp8o/s72-c/PAK+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-6082357184535148686</id><published>2010-05-05T13:39:00.000+08:00</published><updated>2010-05-12T13:48:01.345+08:00</updated><title type='text'>HARI ASMA SEDUNIA 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-o_O2r1E9I/AAAAAAAAAEI/Vn8i-z0MGCc/s1600/have+asthma.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 103px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-o_O2r1E9I/AAAAAAAAAEI/Vn8i-z0MGCc/s320/have+asthma.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470254221824955346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Hari Asma Sedunia diselenggarakan di setiap negara oleh para praktisi kesehatan dan anggota masyarakat yang ingin membantu mengurangi beban kesehatan karena asma. Pertama kali kegiatan ini diadakan pada tahun 1998 di Barcelona Spanyol  dan dirayakan di lebih 35 negara. Sejak saat itu partisipasi negara-negara kian meningkat dan menjadi salah satu kesadaran terhadap asma paling penting di dunia dan dikegiatan pendidikan. Hari Asma Sedunia dicanangkan oleh Global Initiative for Asthma (GINA) yang merupakan organisasi kerja sama WHO dengan National Hearth, Lung and Blood Institute Amerika Serikat. Hari Asma Dunia 2010 diselenggarakan pada tanggal 4 Mei 2010 sebagai suatu wujud kemitraan untuk meningkatkan kesadaran tentang asma dan meningkatkan perawatan asma di seluruh dunia. Tema Hari Asma Sedunia kali ini mengambil tema “You Can Control Your Asthma.” Masih seperti tahun sebelumnya, acara masih menitikberatkan pada tema yang telah diperkenalkan Hari Asma Sedunia tahun 2007 yang lebih menekankan pada kontrol asma sesuai dengan panduan terbaru dari GINA. &lt;br /&gt;Tahun ini juga merupakan suatu kampanye global untuk mendorong pemerintah, Departemen Kesehatan dan organisasi kesehatan profesional lainnya untuk meningkatkan kontrol terhadap asma dan mengurangi rawat inap karena asma sebanyak 50% pada tahun 2015.  Asma terkontrol adalah tujuan pengobatan dan dapat dicapai pada sebagian besar pasien asma dengan pengelolaan yang baik. Asma dikatakan terkontrol bila :&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau minimal) gejala-gejala asma.&lt;br /&gt;• Tidak bangun di malam hari karena asma.&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau minimal) penggunaan obat pelega (reliever) &lt;br /&gt;• Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik dengan normal dan berolahraga&lt;br /&gt;• Normal (atau mendekati normal) hasil uji fungsi paru (PEF dan FEV 1)&lt;br /&gt;• Tidak ada (atau sangat jarang) terjadinya serangan asma &lt;br /&gt;Sebuah strategi untuk mencapai dan mempertahankan asma terkontrol telah diatur pada GINA Strategi Global untuk manajemen Asma dan Pencegahan, yang meliputi 4 komponen yaitu&lt;br /&gt;• Mengembangkan kemitraan dokter-pasien&lt;br /&gt;• Mengidentifikasi dan mengurangi paparan faktor resiko&lt;br /&gt;• Menilai dan memonitor asma&lt;br /&gt;• Mengelola eksaserbasi asma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini diperkirakan 300 juta penduduk dunia menderita asma, prevalensi penyakit ini pun semakin meningkat dari tahun ketahun baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia dari rangkuman beberapa penelitian tampak terjadi peningkatan prevalensi asma dari 4,2 % menjadi 5,4%. Kota Jakarta memiliki prevalensi asma yang cukup besar yaitu mencapai 7,2%. Dampak asma juga ditunjukan pada penelitian di Amerika Serikat. Penderita asma kehilangan 10.1 juta hari sekolah atau dua kali lebih besar dibandingkan anak yang tidak menerita asma, menyebabkan 12,9 juta kunjungan ke dokter dan perawatan di rumah sakit pada 200.000 penderita per tahun. Survey yang sama juga menunjukan adanya keterbatasan aktivitas pada 30% penderita asma dibandingkan hanya 5% pada yang bukan menderita asma. &lt;br /&gt;Penelitian pada asma dewasa, dikatakan jumlah pekerja yang absen karena asma lebih dari enam hari pertahun mencapai 19,2% pada penderita asma sedang sampai berat, serta 4,4% pada penderita asma ringan. Laporan dari Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat melaporkan terdapat sekitar 2 juta penderita asma mengunjungi Unit Gawat Darurat dengan 500.000 penderita diantaranya harus mendapat perawatan di rumah sakit tiap tahunnya. Ditinjau dari segi biaya pengobatan asma bisa dikatakan tidak murah. Di negara maju biaya pengobatan setiap penderita asma berkisar 300-1300 US$ per tahun. Di Amerika Serikat secara keseluruhan mencapai 12 milyar US$ per tahun baik itu biaya langsung seperti biaya dokter, obat dan rumah sakit serta biaya tidak langsung akibat hilangnya produktivitas kerja. Semua beban akibat asma tersebut disebabkan oleh karena asma yang tidak terkontrol sehingga pengobatan asma yang efektif untuk mencapai asma yang terkontrol akan bisa mengembalikan penderita pada kehidupan yang normal dan juga menguntungkan dari segi ekonomis bagi penderita, keluarga, masyarakat dan pemerintah.&lt;br /&gt;Tujuan utama pengobatan asma adalah mencapai dan mempertahankan keadaan asma yang terkontrol. Pada penelitian di beberapa multi center hanya 5% di Eropa Barat dan 2,5% di Asia Pasifik penderita asma yang terkontrol baik. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan kontrol asma yang rendah terdapat dua faktor yang tampaknya memegang andil besar yaitu faktor dokter dan pasien. Dokter terlalu rendah menilai asma dan kemudian meresepkan obat yang tidak adekuat. Obat pengontrol asma seperti kortikosteroid inhalasi sangat rendah pemakaiannya, para dokter lebih suka menggunakan obat pelega dan bahkan obat batuk dan antibiotika yang seharusnya tidak diperlukan. Dilain sisi pasien merasa dirinya sudah terkontrol, apalagi adanya pemahaman “No symptoms No Asthma” menyebabkan pasien hanya berobat kalau ada gejala saja tanpa perlu memakai obat pengontrol. &lt;br /&gt;Saat ini peneliti berupaya untuk menentukan alat ukur yang bisa mewakili kontrol asma secara keseluruhan mulai dari pengukuran salah satu variable sampai pada gabungan beberapa variable sehingga sasaran pengobatan menjadi jelas. Saat ini setidaknya terdapat 5 alat ukur berupa kuisioner baik atau dengan pemeriksaan fungsi paru. Salah satunya adalah Asthma Control Test (ACT) yang di perkenalkan oleh Nathan dkk  tahun 2004. Kuisioner ACT ini telah diuji coba di Poliklinik  alergi-imunologi klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM dengan hasil keandalan internal 83%, keandalan interklas 92% kesahihan dengan fungsi paru 24%, dan kesahihan dengan penilaian klinis 74% sehingga dapat disimpulkan ACT ini dapat dipakai di masyarakat kita. Manfaat dari asma yang terkontrol  dapat menurunkan kunjungan ke Unit Gawat Darurat dan merunkan perawatan di rumah sakit.&lt;br /&gt;Kontrol asma di Indonesia termasuk rendah karena pengetahuan dokter dan masyarakat masih kurang. Terdapat suatu penelitian kalau penggunaan kortikosteroid inhalasi masih kurang di Indonesia dan pemeriksaan fungsi paru hanya 1,5% yang dilakukan secara teratur. Selain kendala pengetahuan, menurut GINA distribusi obat di Indonesia masih belum baik selain ketidakmampuan dan daya beli masyarakat yang tinggi. Perlunya upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang asma kepada petugas kesehatan dan juga pada masyarakat. Bantuan pemerintah dalam memproduksi obat asma yang murah yang terjangkau juga merupakan hal yang penting terutama obat-obat kortikosteroid inhalasi maupun kombinasi kortikosteroid dan agonis beta-2 inhalasi kerja panjang/lama.&lt;br /&gt;Pada Hari Asma Sedunia tahun ini, dingatkan akan pentingnya penatalaksanaan asma yang baik akan mencapai kondisi asma yang terkontrol sehingga kualitas hidup penderita akan meningkat dan akhirnya sejalan dengan program pemerintah untuk mewududkan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-6082357184535148686?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/6082357184535148686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/hari-asma-sedunia-2010_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6082357184535148686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/6082357184535148686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/hari-asma-sedunia-2010_11.html' title='HARI ASMA SEDUNIA 2010'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-o_O2r1E9I/AAAAAAAAAEI/Vn8i-z0MGCc/s72-c/have+asthma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-1427770009574360950</id><published>2010-04-05T14:26:00.000+08:00</published><updated>2010-05-12T14:50:25.314+08:00</updated><title type='text'>PENYAKIT PARU AKIBAT KERJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pMl-eqSFI/AAAAAAAAAEY/eYYBiDcfPOA/s1600/masker.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 110px; height: 110px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pMl-eqSFI/AAAAAAAAAEY/eYYBiDcfPOA/s320/masker.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470268912705357906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pesatnya perkembangan industri beserta produknya memiliki dampak positif terhadap kehidupan manusia berupa makin luasnya lapangan kerja, kemudahan dalam komunikasi dan transportasi dan akhirnya juga berdampak pada peningkatan sosial ekonomi masyarakat.Disisi lain dampak negatif yang terjadi adalah timbulnya penyakit akibat pajanan bahan-bahan selama proses industri atau dari hasil produksi itu sendiri.&lt;br /&gt;Timbulnya penyakit akibat kerja telah mendapat perhatian dari  pemerintah Indonesia,berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 telah ditetapkan 31 macam penyakit yang timbul karena kerja.Berbagai macam penyakit yang timbul akibat kerja, organ paru dan saluran nafas merupakan organ dan sistem tubuh yang paling banyak terkena oleh pajanan bahan-bahan yang berbahaya di tempat kerja.&lt;br /&gt;Penyakit paru akibat kerja merupakan penyakit atau kelainan paru yang terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya saat seseorang sedang bekerja. Tempat tertimbunnya bahan-bahan tersebut pada saluran pernafasan atau paru dan jenis penyakit paru yang terjadi tergantung pada ukuran dan jenis yang terhirup. Beberapa jenis partikel yang di antaranya bisa menyebabkan penyakit paru yaitu partikel organik dan anorganik. Selain itu gas dan bahan aerosol lain seperti gas dari hidrokarbon, bahan kimiawi insektisida, serta gas dari pabrik plastik dan hasil pembakaran plastik. Jenis partikel organik dihasilkan oleh industri tekstil dimulai dari proses awal sampai penenunan. Masa waktu untuk timbulnya penyakit ini cukup lama,waktu yang terpendek adalah 5 tahun. Partikel anorganik yang jika terhirup dalam jumlah banyak dapat pula menimbulkan gangguan paru, hal ini banyak terjadi pada pekerja di pabrik semen, asbes, keramik dan tambang.&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa contoh penyakit paru yang timbul akibat kerja :&lt;br /&gt;1. Silikosis &lt;br /&gt;- penambang timah hitam, tembaga, perak dan emas &lt;br /&gt;- penambang batubara tertentu &lt;br /&gt;- pekerja pengecoran logam &lt;br /&gt;- pembuat keramik &lt;br /&gt;- pemotong batu pasir atau granit &lt;br /&gt;- pekerja terowongan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pneumokoniosis, pada pekerja batubara &lt;br /&gt;3. Asbestosis &lt;br /&gt;- pekerja yang menambang, menggiling atau mengolah asbes &lt;br /&gt;- pekerja bangunan yang memasang atau memindahkan barang-barang yang mengandung asbes &lt;br /&gt;4. Asma akibat kerja, terjadi pada orang-orang yang bekerja dengan gandum, kacang kastor,pewarna,antibiotika, damar dan teh &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Bissinosis terjadi pada pekerja yang mengolah kapas, rami, goni dan tanaman yang menghasilkan serat dan biji-bijian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Penyakit Silo filler ditemukan pada petani. &lt;br /&gt;Kemampuan partikel untuk bisa masuk ke dalam paru tergantung dari besar kecilnya partikel tersebut. Bila partikel debu yang masuk ke dalam paru berdiameter 5-10 mikron (1 mikron = 1/1000 milimeter), partikel akan tertahan dan melekat pada dinding saluran pernafasan bagian atas. Sedang yang berukuran 3-5 mikron akan masuk lebih dalam dan tertimbun pada saluran nafas bagian tengah.&lt;br /&gt;Partikel debu berukuran 1-3 mikron akan masuk lebih dalam lagi sampai ke alveoli dan mengedap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menentukan apakah penyakit paru yang terjadi berhubungan dengan kerja harus dilakukan evaluasi medis secara menyeluruh. Riwayat kerja sehubungan dengan pajanan di tempat kerja, berapa lama pajanan terjadi serta penggunaan alat pelindung. Oleh karena itu, intervensi medis dalam bentuk pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan secara berkala setelah bekerja amat penting dalam deteksi dini dan penanganan penyakit akibat kerja.&lt;br /&gt;Melihat kenyataan di atas, begitu banyak resiko yang terjadi akibat pajanan bahan/partikel di tempat kerja. Untuk mencegah/ mengurangi risiko bahayanya terdapat dua strategi utama yaitu pencegahan primer,dengan cara menghilangkan atau memodifikasi resiko dari pajanan bahan/partikel sebelum penyakit terjadi seperti substitusi produk atau mengontrol secara teknik untuk mengurangi pajanan. Pencegahan sekunder meliputi deteksi dini dan pengobatan yang tepat setelah efek yang tidak diinginkan terjadi akibat pajanan. &lt;br /&gt;(telah diterbitkan oleh harian PASWARA, Edisi 10, Tahun VI, Oktober 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-1427770009574360950?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/1427770009574360950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/penyakit-paru-akibat-kerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1427770009574360950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1427770009574360950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/penyakit-paru-akibat-kerja.html' title='PENYAKIT PARU AKIBAT KERJA'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pMl-eqSFI/AAAAAAAAAEY/eYYBiDcfPOA/s72-c/masker.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-1156101343339529230</id><published>2010-03-29T14:05:00.000+08:00</published><updated>2010-05-12T14:16:26.261+08:00</updated><title type='text'>Tuberculosis:Masalah dan Tantangan di Masa Depan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pHmDZbCcI/AAAAAAAAAEQ/tdBCJzQ6AHw/s1600/x+ray.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 107px; height: 123px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pHmDZbCcI/AAAAAAAAAEQ/tdBCJzQ6AHw/s320/x+ray.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470263416467425730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan kuman Tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Di negara-negara berkembang kematian akibat tuberculosis (TB) merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara berkembang, 75% penderita TB adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Pada tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global (global emergency) penyakit TB karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit TB ini makin tidak terkendali dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.&lt;br /&gt;Indonesia merupakan negara dengan penderita TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah penderita TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah penderita TB di dunia. Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. Hasil survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi TB (dengan pemeriksaan dahak mikroskopis menunjukan hasil Basil Tahan Asam/BTA positif) secara Nasional 110 per 100.000 penduduk, khusus untuk provinsi Bali angka prevalensi TB adalah 64 per 100.000 penduduk. Di Indonesia terdapat 220.000 orang pasien penderita TB baru per tahun atau 500 orang penderita per hari. Data tahun 2008 menunjukan angka kematian 88.000 orang/tahun atau 240 orang/hari meninggal akibat penyakit TB.&lt;br /&gt;Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB yaitu kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, kegagalan program TB oleh karena tidak memadainya komitmen politis dan pendanaan, pelayanan TB yang kurang maximal (kurang terakses oleh masyarakat, diagnosis dan panduan obat yang tidak standar, obat tidak terjamin persediaanya,monitoring dan evaluasi yang kurang baik) dan juga perubahan demografi penduduk.Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan resiko TB secara signifikan. Pada saat yang sama kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB ( multidrug resistance= MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan ini pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.&lt;br /&gt;Strategi yang telah dikembangkan oleh WHO dalam penanggulangan TB adalah DOTS (Directly Observed Treatment Short-course)  yang sampai saat ini secara ekonomi paling efektif. Di Indonesia dilakukan suatu studi cost benefit penerapan strategi DOTS dan didapatkan hasil setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan penderita dengan prioritas pada penderita TB yang menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian akan menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan penderita merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. &lt;br /&gt;Pada bulan Januari 2006 pada  Forum Ekonomi sedunia di Swiss dicanangkan The Global Plan to Stop TB 2006-2015 dimana dilakukan upaya dan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015 yaitu mampu menurunkan insiden TB, kemudahan akses pelayanan TB dan mengobati semua penderita TB sehingga diharapkan 14 juta orang akan terselamatkan, 50 juta penderita TB terobati, sekitar satu juta penderita terobati dari Multi Drug Resistance (MDR), penemuan obat TB yang baru, vaksin TB terbaru di tahun 2015 serta test diagnostik yang cepat dan murah.&lt;br /&gt;Tahun 2010 merupakan titik pertengahan dari  The Global Plan to Stop TB 2006-2015. Pada setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TB sedunia (World TB Day) sebagai peringatan  ditemukan kuman TB oleh Robert Koch tepatnya pada 24 Maret 1882. Pada tahun 2010 ini dikampanyekan suatu tema On the move against tuberculosis: Innovate to accelerate action, tema inovasi yang digaungkan merupakan suatu kebutuhan akan suatu cara baru dalam aksi penanggulangan TB. Selama ini pengobatan TB masih menunjukan hasil yang belum memuaskan sehingga harus terus meningkatkan usaha dan mencari cara-cara baru dan inovatif untuk menghentikan TB jika ingin mencapai Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015. Kampanye tahun 2010 ini berfokus pada individu-individu di seluruh dunia yang telah menemukan cara baru dalam penanggulangan TB dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. &lt;br /&gt;Sampai saat ini yang harus tetap dilakukan adalah tetap mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS, merespon masalah TB HIV dan MDR TB, memperkuat sistem kesehatan, melibatkan pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, pemberdayaan masyarakat dan terus menerus melaksanakan dan mengembangkan riset. Diharapkan ditemukannya suatu inovasi atau strategi baru yang lebih baik dalam hal teknik diagnosis yang lebih cepat dan tepat, obat anti TB yang baru dengan masa pengobatan yang lebih pendek serta murah dan kemudahan dalam monitor dan evaluasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-1156101343339529230?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/1156101343339529230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/03/tuberculosismasalah-dan-tantangan-di_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1156101343339529230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/1156101343339529230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/03/tuberculosismasalah-dan-tantangan-di_28.html' title='Tuberculosis:Masalah dan Tantangan di Masa Depan'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pHmDZbCcI/AAAAAAAAAEQ/tdBCJzQ6AHw/s72-c/x+ray.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2884973464411412544.post-8890025999645944026</id><published>2010-03-06T14:31:00.000+08:00</published><updated>2010-05-12T14:49:42.386+08:00</updated><title type='text'>FAKTOR RESIKO PPOK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pPeIfuN5I/AAAAAAAAAEg/zCdKSf77ZTA/s1600/COPD+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 107px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pPeIfuN5I/AAAAAAAAAEg/zCdKSf77ZTA/s320/COPD+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470272076490094482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Paru Obstruktif  Kronis (PPOK) merupakan penyakit yang ditandai dengan keterbatasan saluran nafas yang bersifat kronis dan terjadi perubahan patologis pada paru, gangguan ekstrapulmonari signifikan dan komorbiditas yang dapat berkontribusi pada kegawatan penyakit penderita. Keterbatasan aliran udara bersifat progresif dan dihubungkan dengan inflamasi kronis sehingga menyebabkan perubahan struktural dan penyempitan saluran nafas kecil serta kerusakan parenkim paru (emfisema). Hal tersebut menyebabkan hilangnya perlekatan alveolar pada saluran nafas kecil dan penurunan rekoil elastis paru sehingga hal ini akan menurunkan kemampuan saluran nafas tetap terbuka ketika ekspirasi.&lt;br /&gt;PPOK sendiri memiliki dampak ekstrapulmonari signifikan yang menyebabkan kondisi komorbid. Beberapa dampak PPOK pada extrapulmonari adalah terjadinya penurunan berat badan, abnormalitas nutrisi dan disfungsi otot skeletal. &lt;br /&gt;Prediksi WHO bahwa pada tahun 2020 angka kejadian PPOK akan meningkat dari posisi 12 ke 5 sebagai penyakit terbanyak di dunia dan dari posisi 6 ke 3 sebagai penyebab kematian terbanyak. Diprediksi angka ini akan meningkat karena paparan secara terus menerus terhadap faktor resiko. Berikut ini adalah faktor-faktor resiko PPOK :&lt;br /&gt;1. Genetik&lt;br /&gt;Suatu analisa hubungan genetik dengan PPOK yang telah diketahui adalah defisiensi alpha-1 antitrypsin.Penelitian hubungan genetik telah mengimplikasikan berbagai gen dalam patogenesis PPOK, namun demikian masih menunjukan hasil yang inkosisten dan varian genetik fungsional (selain defisiensi alpha-1 antitrypsin) belum secara definitif teridentifikasi.&lt;br /&gt;2. Merokok&lt;br /&gt;Resiko PPOK pada perokok tergantung pada banyaknya rokok yang dikonsumsi, usia pertama kali merokok, jumlah total rokok yang dihisap pertahun dan status merokok saat ini.Perlu diketahui bahwa tidak semua perokok mengalami PPOK. Ini menunjukan bahwa faktor genetik telah memodifikasi resiko tiap individu.Di sisi lain, perokok pasif bisa beresiko mengalami PPOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Debu dan bahan kimia okupasi&lt;br /&gt;Paparan ini meliputi agen kimia dan debu organik atau anorganik serta bau-bauan yang pada suatu analisa survey, paparan ini menyebabkan 10-20% gejala dan gangguan fungsional yang konsisten dengan gejala PPOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Polusi udara di dalam dan luar rumah&lt;br /&gt;Pembakaran pada tungku atau kompor yang tidak berfungsi dengan baik atau partikel dari emisi kendaraan bermotor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pertumbuhan dan perkembangan paru&lt;br /&gt;Proses pertumbuhan dan perkembangan paru yang kurang baik selama masa gestasi, kelahiran dan paparan selama anak-anak, berpotensi meningkatkan resiko PPOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Stress Oksidatif&lt;br /&gt;Terjadi oleh karena ketidakseimbanagn oksidan dan antioksidan yang tidak hanya menghasilkan perlukaan langsung pada paru tapi juga mengaktivasi mekanisme molekuler yang menginisiasi inflamasi paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Infeksi&lt;br /&gt;Infeksi oleh bakteri dan virus dapat berkontribusi pada patogenesis dan progresi PPOK. Kolonisasi bakteri dihubungkan dengan inflamasi saluran nafas yang dapat juga berperan pada eksaserbasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Status sosialekonomi&lt;br /&gt;Adanya bukti bahwa berkembangnya PPOK berbanding terbalik dengan peningkatan sosial ekonomi.Masih belum jelas apakah ini karena golongan ekonomi yang rendah lebih banyak terpapar polutan di dalam ataupun diluar rumah atau faktor lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Nutrisi&lt;br /&gt;Malnutrisi dan penurunan berat badan dapat menurunkan kekuatan dan daya tahan otot respirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Asma&lt;br /&gt;Asma dapat menjadi faktor resiko berkembangnya PPOK meskipum buktinya tidak bersifat konklusif, Dalam suatu penelitian kohor berjangka panjang yaitu The Tucson Epidemiological Study of Airway Obstructive disesase, pada orang dewasa dengan asma menunjukan resiko 12x lebih besar menderita PPOK dibandingkan orang dewasa tanpa asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(telah diterbitkan pada harian Bali Post tgl 4 Oktober 2009)&lt;br /&gt;www.balipost.com&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2884973464411412544-8890025999645944026?l=crackleandwheeze.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/feeds/8890025999645944026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/faktor-resiko-ppok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8890025999645944026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2884973464411412544/posts/default/8890025999645944026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://crackleandwheeze.blogspot.com/2010/05/faktor-resiko-ppok.html' title='FAKTOR RESIKO PPOK'/><author><name>Oka Krishna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15529200681297088877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-spBNH5GzI/AAAAAAAAAFY/MToD_UDByuA/S220/100_4591.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8_3zJdjkgpg/S-pPeIfuN5I/AAAAAAAAAEg/zCdKSf77ZTA/s72-c/COPD+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
